Connect with us
Love Me Instead
Netflix

Film

Love Me Instead Review: Temu Kangen yang Berujung Ironi

Drama Turki yang realis.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Dengan sisa 3 tahun masa kurungannya, Musa (Sarp Akkaya) mendapatkan izin untuk menemui keluarganya ditemani Sedat (Ercan Kesal). Musa pun tak melewatkan kesempatan tersebut. Ia mulai mencoba merekatkan kembali hubungannya dengan pihak keluarga, terutama pada anak perempuannya. Walau canggung di awal-awal, Musa akhirnya mulai bisa membangun chemistry dengan putrinya bernama Yonca (Sinan Arslan). Sayangnya, chemistry tidak bertahan lama, khususnya setelah satu kebohongan terungkap.

“Love Me Instead” (2021) merupakan sajian drama Turki garapan Mehmet Ada Öztekin. Drama sepanjang 124 menit ini menyajikan nuansa cinta, kebohongan, balas dendam, dan ironi di dalamnya. Film drama ini sudah tayang di Netflix sejak 19 November.

Love Me Instead

Drama yang Realis dengan Kejutan di Tengah Film

Secara keseluruhan, “Love Me Instead” dieksekusi dengan pendekatan yang lebih realis. Penonton tidak akan menemukan adegan yang overdramatic pada film ini. Semua adegannya lantas dilengkapi visual pinggiran kota Turki yang jauh dari kata mewah. Ada pula visual yang disajikan dengan tone warna agak kekuningan di beberapa adegan.

Satu jam pertama film ini akan menjemukan bagi sebagian penonton. Namun, bukan tanpa alasan bila Mehmet melakukan treatment semacam itu. Ia ingin menjadikan satu jam pertama filmnya sebagai momen bagi Musa untuk berhubungan dengan anak perempuannya yang bernama Yonca. Berbagai emosi yang dirasakan Musa selama berekonsiliasi dengan Yonca tersaji pada momen tersebut. Mulai dari canggung, kesal, sampai bahagia.

Bumbu kebohongan pun juga disajikan pada momen tersebut, khususnya saat Yonca membicarakan hubungan antara ia dan ibunya. Di tengah film, Adegan kejutan pun datang dan membuat kehidupan Musa masuk ke arah yang lebih ironis.

(Spoiler Alert)

Momen kejutan itu hadir saat Musa diberitahu mertuanya kalau Yonca yang ia temui bukanlah Yonca asli. Yonca yang asli sudah lama terbunuh oleh sang anak saat bertransaksi narkoba. Tak seorang pun yang menyelamatkan Yonca dari kematian. Bahkan, orang-orang membiarkan mayat Yonca tergeletak begitu saja. Adapun Yonca yang Musa temui selama ini adalah anak dari teman istrinya Musa. (Spoiler End)

Selepas momen kejutan datang, film pun lantas disuguhkan dengan berbagai adegan berbalut amarah dan balas dendam. Semua adegan itu disajikan dengan pace yang lambat. Dengan eksekusi semacam itu, penonton bisa menyaksikan tiap adegannya secara perlahan..

Keseluruhan music scoring pada “Love Me Instead” sendiri tidaklah terlalu konsisten. Di beberapa adegan awal, music scoring-nya disajikan dengan volume yang agak kecil, sehingga nyaris tenggelam oleh dialog tokoh-tokoh di film “Love Me Instead”. Hanya pada adegan-adegan selepas momen kejutanlah music scoring film ini berfungsi optimal. Di sana, musiknya disajikan dengan nada minor dan volume yang pas.

Lapisan Emosi yang Tersaji Lewat Wajah Kaku Musa

Tampil sebagai pemeran utama, Sarp Akkaya mampu menampilkan berbagai lapisan emosi lewat wajah kaku Musa. Walau terkesan kontradiktif, hal tersebut justru membuat tokoh Musa jadi begitu menarik. Chemistry-nya dengan Yonca palsu (Sinan Arslan) pun juga mampu disajikan secara menarik. Lewat keduanya, penonton bisa melihat bagaimana hubungan dua anak yang sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun.

Sinan Arslan pun tampil baik sebagai Yonca palsu, walau mungkin tidak segemilang Sarp Akkaya. Hal yang sama juga berlaku untuk sejumlah pemeran lain di “Love Me Instead”. Mungkin Fusun Demirel yang bisa dibilang menarik perhatian selain Sarp Akkaya. Aktris senior Turki itu berhasil memerankan sosok ibu mertua Musa yang mengalami gangguan ingatan, sekaligus menjadi tokoh pemicu momen kejutan di film ini.

Bagi penonton penikmat sajian drama khas Turki, “Love Me Instead” bisa jadi pilihan. Walau masih jauh dari sempurna, film ini layak ditonton lewat penyajiannya yang tidak overdramatic, serta punya momen kejutan di dalamnya. Penonton hanya perlu menontonnya secara santai dan saksama, mengingat film ini punya pace yang cukup lambat.

Interview With the Vampire Interview With the Vampire

Interview With the Vampire Review: Kisah Vampir Berjiwa Manusia

Film

Film Tentang Pencurian Data PribadiFilm Tentang Pencurian Data Pribadi Film Tentang Pencurian Data PribadiFilm Tentang Pencurian Data Pribadi

Film Tentang Pencurian Data Pribadi

Cultura Lists

Angele Review: Saat Pop Star Belgia Kembali Menemukan Jati Dirinya

Film

The Power of the Dog The Power of the Dog

The Power of the Dog Review: Toxic Masculinity dan Balas Dendam Tersembunyi

Film

Advertisement
Connect