Connect with us
Let Me Eat Your Pancreas

Film

Let Me Eat Your Pancreas: Memaknai Singkatnya Kehidupan dengan Cara yang Unik

Cerita remaja yang manis dan menyentuh hati dengan storyline sempurna.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Film-film coming of age pada umumnya sering menghadirkan transisi masa muda menuju masa dewasa yang penuh gejolak, biasanya ditandai dengan adanya peristiwa yang berpengaruh besar pada hidup tokoh utamanya. Namun, ramuan tersebut sepertinya jarang dipakai oleh film drama remaja Jepang.

Alih-alih mengambil fokus pada perubahan besar hidup tokoh utamanya, sineas Jepang lebih menyukai transisi kehidupan dengan tempo pelan, tokoh-tokoh yang tenang, dan cerita mengalir yang seakan dibuat wajar. Kemudian baru menghadirkan kejutan pada menit-menit saat berakhirnya film.

“Let Me Eat Your Pancreas” (2017) memakai premis sederhana yang mirip seperti drama remaja Jepang pada umumnya. Tidak ada transisi masa muda yang mengejutkan, jalan ceritanya dibuat sangat relevan dengan kehidupan anak muda secara umum. Misalnya pergi sekolah, menjalin persahabatan, serta memelihara kegelisahan dan rahasia-rahasia.

Film manis sekaligus menyentuh hati yang disutradarai oleh Sho Tsukikawa ini, diadaptasi dari sebuah novel karya Yoru Sumino dengan judul yang sama.

Let Me Eat Your Pancreas

Kisah Dua Remaja dengan Spektrum Kepopuleran yang Berlawanan

Film dengan judul unik ini bercerita tentang dua orang teman sekelas yang memiliki kepribadian sangat kontras. Sakura Yamauchi (Minami Hamabe) adalah gadis periang yang disukai banyak orang, ia populer di sekolah dan sangat menyayangi sahabatnya, Kyoko (Karen Otomo).

Suatu hari di sebuah rumah sakit, Sakura bertemu dengan Haruki Shiga (Takumi Kitamura) teman sekelas yang sangat pendiam, misterius, dan penyendiri. Shiga tanpa sengaja mengetahui rahasia besar Sakura. Bukannya menghindar karena rahasianya takut terbongkar, Sakura malah menarik Shiga terlibat dengan dunia Sakura yang singkat tetapi menyenangkan.

“Let Me Eat Your Pancreas menceritakan persahabatan sekaligus roman tipis-tipis dua remaja yang memiliki kepribadian berlawanan. Film ini tidak menampilkan dialog-dialog remaja yang penuh impian dan harapan, “Let Me Eat Your Pancreas” malah memberikan pesimistis Shiga yang ingin hidup sebagai seorang nihilis yang tidak ingin banyak terlibat dengan kehidupan orang lain. Dan Sakura masuk menjadi ironi, menampilkan karakter remaja sekarat yang selalu optimis menjalani sisa hidupnya yang terbatas.

Sakura dan Shiga saling mengagumi kepribadian satu sama lain, Sakura sangat iri dengan keberanian Shiga yang tidak takut akan kesendirian dan selalu jujur pada dirinya sendiri, tipikal remaja idealis yang tidak mengambil pusing pendapat orang lain tentang dirinya. Sedangkan Shiga, ia sangat mengagumi sifat Sakura yang gampang disukai banyak orang, selalu menebar keceriaan, dan bahkan bisa selalu hidup dalam hati orang-orang di sekitarnya sampai 12 tahun mendatang, bahkan selamanya.

Let Me Eat Your Pancreas

Film dengan Lompatan Kilas Balik yang Manis

Berbeda dengan novelnya, film “Let Me Eat Your Pancreas” mengambil jalan cerita memutar yang menampilkan kilas balik 12 tahun setelah pertemuan dan perpisahan Sakura dengan Shiga. Shiga dewasa (Oguri Shun) membawa cerita lama masa remajanya saat mendapat tugas untuk menjadi penanggung jawab perpustakaan oleh pihak sekolah tempat ia mengajar.

Perpustakaan menjadi objek transisi yang menyulam kenangan Shiga dengan Sakura saat bertugas mengurutkan penomoran buku-buku di rak perpustakaan. Cerita dibuat lebih realistis dengan kehadiran seorang murid yang mirip dengan sosok Shiga remaja, Kuriyama (Daici Morishita). Layaknya mencuri narasi novel “Le Petite Prince” yang sempat dipinjamkan Sakura, perbincangan Shiga dan Kuriyama seperti sebuah nasehat untuk dirinya sendiri saat masih muda.

Perputaran plot yang ditulis oleh Yoru Sumino dan Tomoko Yoshida sebagai penulis skenario, menjadi perangkat naratif yang sukses memberikan jawaban tersirat untuk para penonton. Saat film berjalan menceritakan satu karakter dalam satu timeline, maka rasa penasaran tentang karakter tersebut dalam timeline lainnya menjadi pertanyaan-pertanyaan yang menambah menarik jalannya cerita ini.

Happy Ending Story yang Dibuat dengan Cara Unik

Walaupun menceritakan tentang kematian “Let Me Eat Your Pancreas” tidak bisa dikategorikan sebagai sad ending story, film ini lebih layak disebut sebagai drama dengan alur yang tidak bisa ditebak, renungan kehidupan yang bisa memenuhi isi hati dengan beragam emosi dan pemilihan ending yang sangat sempurna tentang kesedihan di masa lalu yang berubah menjadi keharuan yang manis.

Film ini ditulis oleh penulis skenario “My Tomorrow, Your Yesterday” (2016) yang juga membawa kisah percintaan remaja naik level dengan kejutan plotnya yang unik. Tidak heran jika “Let Me Eat Your Pancreas” juga menawarkan hal yang sama, kisah sedih tidak menjadi jualan utama film ini, adegan-adegan emosionalnya juga tidak dibuat dengan manipulatif dan menyiksa.

Cerita  dan karakter yang ditulis oleh Tomoko Yoshida berhasil dibawakan Minami Hamabe serta Takumi Kitamura dengan sangat organik, mereka tahu bagaimana caranya mengembangkan keindahan cerita tanpa harus meledak-ledak, mereka menyentuh hati penontonnya dengan cara yang tenang dan perlahan.

Film yang dirilis pada tahun 2017 ini mendapat sambutan positif dari banyak penonton, “Let Me Eat Your Pancreas” juga menjadi salah satu film yang menaikkan pamor kedua bintang utamanya Minami Hamabe serta Takumi Kitamura.

Pada akhirnya, “Let Me Eat Your Pancreas” memberikan twist yang sangat manis, menempatkan tokoh Sakura menjadi pusat kehidupan orang-orang terdekatnya. Baik itu untuk Kyoko, sahabatnya dan Shiga yang akhirnya dipertemukan kembali dengan sahabat Sakura dalam momen dan keadaan yang paling mengharukan.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect