Connect with us
La Haine Review

Film

La Haine Review: Kebencian Melahirkan Kebencian

Ketika kekerasan aparat kepolisian dan rasisme terjadi di pinggiran kota Paris.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pergerakan #BlackLivesMatter kembali dikumandangkan di Amerika Serikat setelah terjadi lagi pembunuhan kulit hitam oleh anggota polisi. Bercabang dari masalah rasisme, sekarang orang-orang mulai menyerukan tuntutan mereka untuk menghilangkan sistem kepolisian. Masalah kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian sebenarnya bukan hanya ditemui di Amerika Serikat saja, tapi di negara lain juga.

Pada tahun 1995, seorang sutradara Prancis bernama Mathieu Kassovitz membuat film La Haine untuk menunjukkan diskriminasi rasial yang dilakukan oleh kepolisian Prancis, terutama di wilayah pinggiran kota Banlieue. Film ini menimbulkan banyak kontroversi karena pada akhir tahun 1980 hingga awal tahun 1990-an, Prancis memang sedang dilanda demonstrasi besar-besaran akibat kematian seorang pemuda kulit hitam yang tengah diinterogasi oleh polisi.

La Haine Review

La Haine (1995)

Berkisah tentang kehidupan ketiga pemuda keturunan imigran di Banlieue selama 24 jam, La Haine menunjukkan diskriminasi yang mereka hadapi. Vinz, seorang pemuda keturunan Yahudi, mungkin tidak terlalu terlihat teropresi karena ia memiliki kulit putih, namun ia merasa tali persaudaraan yang erat dan kesulitan yang sama dengan kedua temannya.

Hubert, seorang pemuda kulit hitam, berusaha untuk menjalani kehidupannya dengan normal dan mengumpulkan uang demi bisa pergi meninggalkan Banlieue. Said, seorang pemuda keturunan Arab, merupakan yang paling muda di antara ketiganya dan masih belum memiliki pendirian yang tetap.

Dapat dibilang bahwa Vinz dan Hubert merupakan antitesis satu sama lain. Vinz memiliki watak yang keras dan selalu ingin melawan aparat, sedangkan Hubert selalu berusaha untuk menjauh dari masalah. Said berada di antara keduanya, terkadang mengikuti amarah Vinz, terkadang berusaha menenangkan seperti Hubert.

La Haine Review

La Haine

La Haine menunjukkan bagaimana bias rasial polisi dapat membahayakan dan mengekang keturunan imigran di Prancis yang hanya berusaha untuk memiliki kehidupan normal. Bukan hanya melalui tindak kekerasan saja, tapi aparat polisi dan pemerintah juga membatasi ruang gerak mereka. Film ini penting untuk disaksikan demi mengetahui bahwa masalah kekerasan aparat adalah hal sistemik dan terjadi secara universal.

Seperti film Prancis pada umumnya, La Haine bergulir secara natural dan dipenuhi oleh obrolan-obrolan ringan antarkarakter. Semuanya dibuat agar terlihat realistis, bahkan dari latar tempat syutingnya. Demi mendapatkan aura Banlieue yang sesungguhnya, sang sutradara dan sinematografer memutuskan untuk menggunakan salah satu wilayah Banlieue di Prancis sebagai tempat syutingnya sekaligus melibatkan warga sekitar sebagai figuran.

La Haine Review

(Warning: mild spoiler)

Sinematografi film ini dengan sangat baik menunjukkan keadaan di Banlieue saat itu. Taman bermain di sana terlihat gersang dan tidak terurus, banyak gedung yang terbengkalai dan rusak akibat kerusuhan yang terus terjadi, juga terlihat bangunan-bangunan rusun yang disorot dari atas. Singkatnya, wilayah Banlieue tidak terlihat seperti wilayah yang dapat mendukung seseorang untuk mendapatkan masa depan gemilang.

Sepanjang film, La Haine menggunakan warna hitam putih sesuai dengan pilihan sang sutradara. Tidak adanya warna selain hitam dan putih dalam film ini seakan menunjukkan betapa suramnya kehidupan ketiga karakter tersebut. Tanpa ada harapan, tak ada sepercik cahaya yang bisa menuntun mereka keluar dari lingkaran setan yang membuat mereka termarjinalkan.

Untuk sebuah film yang mendapatkan penghargaan Sutradara Terbaik di Cannes Film Festival, cukup mengagetkan ketika mengetahui bahwa ketiga aktor utama film ini belum pernah memiliki pengalaman bermain di dalam film panjang sebelumnya.

Vincent Cassel yang berperan sebagai Vinz bahkan meroket menjadi aktor ternama di Prancis yang masih berakting hingga ke layar internasional sekarang. Memang patut diakui bahwa performanya serta Hubert Koundé dan Said Taghmaoui terlihat sangat natural, seakan memang ini kehidupan mereka sehari-hari.

Secara keseluruhan, La Haine telah menjadi cermin yang menunjukkan ketidakadilan dalam kehidupan para keturunan imigran di Prancis. Kekerasan yang dilakukan oleh polisi sudah menjadi makanan mereka sehari-hari, belum lagi diskriminasi dan stereotip yang mereka hadapi. Kebencian yang dilancarkan oleh kepolisian terhadap mereka terpaksa dilempar kembali demi menuntun kesetaraan.

Seperti cermin juga, La Haine menunjukkan bagaimana rasisme dapat merenggut nyawa seseorang dalam seketika.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect