Connect with us
Konsep Gender Reversed dalam The Man Video Klip Terbaru Taylor Swift
Dave J Hogan/Getty Images

Entertainment

Konsep Gender Reversed dalam The Man Video Klip Terbaru Taylor Swift

Bagaimana cara Taylor Swift menyindir Scooter Braun dalam video klipnya?

Taylor Swift baru saja merilis video klip single teranyarnya, The Man. Sebelum video klip tersebut dirilis para fans sudah tahu apa yang akan mereka lihat. Seperti biasa, keahlian Swift dalam menyindir halus orang-orang yang bermasalah dengannya akan ditampilkan secara menarik dalam video klip. Namun kali ini Swift tak hanya membuat video klip berdasarkan referensi tersebut. Beberapa sindiran yang muncul justru untuk mengkritisi sikap standa ganda media dan publik selama ini dalam melihat Swift.

Pada scene awal kita akan melihat seorang lelaki yang membelakangi kamera. Ia terlihat memandang keluar dari jendela kantornya. Setting kantor yang ada dalam scene ini terlihat mirip dengan scene dalam film The Wolf of Wall Street. Disusul dengan adegan ketika lelaki tersebut menyemangati anak buahnya dan berdiri di depan ruangan diikuti dengan sorakan para staff. Adegan ini pun sesuai dengan film The Wolf of Wall Street ketika Jordan Belfort alias Leonardo DiCaprio bicara di depan para staff-nya dengan berapi-api.

Adegan selanjutnya beralih ketika lelaki tersebut naik kereta. Meski berada dalam angkutan umum, ia sengaja membuka kaki lebar-lebar dan duduk seenaknya. Lelaki itu juga merokok dan membaca koran. Di sini kita akan melihat berita dalam koran tersebut yang tentunya tidak masuk akal seperti “what man won the year in celebrity dating”, “who crushed it this year”, dan “for men with real thirst”. Begitu pula dengan poster-posternya. Sebenarnya apa yang ingin ditunjukkan oleh Swift?

Scene dalam kereta api ditujukan pada media yang selama bertahun-tahun terus memberitakan kehidupan pribadi Swift. Ia dijuluki player karena dianggap memiliki banyak mantan kekasih. Lagu-lagunya yang ditujukan untuk para mantan pun menjadi highlight tersendiri. Swift pernah mengatakan keluhannya mengenai hal tersebut beberapa tahun lalu. Menurutnya, apa yang ia lakukan sama saja dengan yang dilakukan musisi pria lainnya. Bila Ed Sheeran saja boleh menulis lagu tentang mantan, mengapa tidak dengan dirinya? Swift merasa kerja kerasnya sebagai musisi tidak dihargai karena media malah sibuk menyoroti kisah cintanya dan menjadikan itu sebagai bahan gosip.

Ketika sampai di stasiun, kita akan melihat tembok yang dikencingi memiliki tanda larangan skuter alias scooter not allowed. Ini adalah sindiran terang-terangan Swift terhadap Scooter Braun karena telah memiliki master rekamannya. Selain itu pada tembok tersebut terhadap judul album-album yang “diambil” Braun dari Swift seperti 1989, Red, Speak Now, dan Reputation. Swift mengeluh karena tidak bisa menggunakan lagu-lagu yang ia tulis dan ciptakan sendiri karena lagu tersebut kini dimiliki oleh Braun. Karena itulah di tembok tersebut terdapat poster “Missing: If found return to Taylor Swift”.

Sebenarnya poster ini sendiri viral di media sosial sejak tahun lalu oleh para fans. Bahkan para fans telah menempelkannya di sekitar kantor Braun sebagai bentuk protes. Braun sendiri menolak tuduhan kalau selama ini ia memperlakukan Swift tidak baik. Adegan selanjutnya berlanjut dengan setting di atas yatch. Liriknya sendiri cukup to the point, “I’d be just like Leo in Saint Tropez”. Adegan serupa juga ada dalam The Wolf of The Wall Street. Selain itu diketahui bahwa Leo memang suka berpesta di Saint Tropez dan berkencan dengan gadis muda persis seperti adegan dalam video klip The Man.

Taylor Swift The Man

Taylor Swift – The Man Video

Lirik dan adegannya sendiri bukan ditujukan untuk menyindir Leo melainkan publik. Swift merasa diperlakukan tidak adil karena ia selalu dikaitkan dengan mantan-mantannya juga lagu yang ia tulis. Seakan Swift tidak boleh putus hubungan karena itu akan menodai citranya. Padahal Leo yang juga dikenal memiliki banyak mantan kekasih tak pernah diperlakukan seperti Swift. Leo tetap memiliki citra yang baik sebagai aktor papan atas. Media tidak menghighlight kisah cinta Leo melainkan lebih fokus pada prestasinya dalam berakting.

Lalu adegan berlanjut dengan scene di dalam kamar tidur. Lelaki dalam video klip terlihat meninggalkan perempuan di atas ranjang lalu berjalan melewati koridor melengkung dengan warna dasar putih. Pada sepanjang tembok koridor kita dapat melihat tangan yang menggapai-gapai sejumlah 19 buah. Si lelaki lalu berlari melewati koridor sambil menepuk satu persatu tangan di dinding dengan ekspresi bangga. Kira-kira ini adalah gambaran bagaimana publik senantiasa “membenarkan” bila seorang pria mengencani atau meniduri banyak perempuan. Sebaliknya, bila perempuan seperti Swift melakukan hal itu, ia akan dikritisi.

Namun scene tersebut memiliki makna lain. Para fans menyadari bahwa koridor putih melengkung tersebut persis dengan rumah Kanye West di Calabass. West adalah salah satu pria dalam industri hiburan yang bersengketa dengan Swift. Soal tangan berjumlah 19 buah tersebut adalah usia yang sama ketika Swift meraih penghargaan di atas panggung yang kemudian diinterupsi oleh West. Walaupun bisa saja Swift tidak bermaksud menyindir West, koridor dalam The Man maupun rumah sang rapper memang sama persis.

Adegan berlanjut dengan si lelaki yang duduk di taman. Ia lalu berusaha menarik perhatian perempuan-perempuan yang ada di taman dengan menggendong seorang anak. Di sini Swift mengkritik bagaimana sikap publik memuji seorang lelaki bila ia tampil kebapakan. Sementara bila seorang perempuan melakukan hal yang sama maka perempuan itu akan dianggap melakukan hal sesuai kodratnya. Padahal bila seorang lelaki mengasuh anak-anak, bukankah ia juga tengah melakukan perannya sebagai ayah? Ini adalah hal lumrah tapi sayangnya standar ganda di tengah masyarakat ini merugikan perempuan.

Pada adegan di klab malam, terlihat para lelaki sibuk membicarakan tubuh perempuan dan menghisap ganja dari perut seorang perempuan. Adegan yang mirip juga ada dalam The Wolf of Wall Street ketika Leo menghisap ganja dari dada Margot Robbie di dalam mobil. Para lelaki di dalam klab juga terlihat menghambur-hamburkan uang. Kemudian kita akan sampai di scene terakhir yaitu ketika si lelaki mengamuk di lapangan tenis. Swift memposting adegan ini di Instagramnya dengan memberi caption “mantrum” yang merupakan plesetan dari tantrum.

Adegan ini sendiri mirip dengan cara pandang media terhadap Serena Williams ketika bertanding dengan Osaka di tahun 2018. Saat itu Williams diperlakukan tidak adil sehingga ia menuding sang wasit tengah berlaku seksis padanya. Williams mendapatkan penalti karena dianggap emosional di lapangan. Padahal, menurut Williams, ia telah melihat pertandingan di antara atlet lelaki dan tak ada yang mendapatkan penalti seperti dirinya. Media juga sayangnya memberitakan Williams sebagai atlet yang emosional. Williams merasa kesal karena setelah bertahun-tahun menghadapi rasisme kini ia juga harus menghadapi misoginisme.

Lucunya lagi, ketika adegan pertandingan tenis berakhir, si lelaki menghampiri Swift yang tak lain adalah sutradara dari video klip The Man. Lelaki ini yang disuarakan oleh Dwayne Johnson, bertanya apakah aktingnya sudah cukup baik. Lalu Swift menjawab aktingnya seharusnya “Sexier? Maybe more likable this time?” Swift kemudian memuji Loran Grey yang memerankan ball girl (pengambil bola) yang hanya berdiri di pinggir lapangan tenis tanpa melakukan akting yang berarti. Grey adalah musisi, youtuber, dan selebgram dengan akun tiktok yang followernya terbanyak di dunia.

Apa penjelasan dari scene ini? Swift ingin menunjukkan betapa tidak adilnya dunia kerja terhadap lelaki dan perempuan. Ketika seorang perempuan berakting, ia dikritisi agar bisa tampil lebih seksi dan lebih disukai. Sebaliknya bila lelaki berakting yang bahkan bila perannya tidak membutuhkan kerja keras, ia akan selalu dipuji. Scene ini adalah penjelasan sekaligus kesimpulan dari keseluruhan video klip The Man. Konsepnya bukan cuma soal sindir menyindir atau menampilkan bagaimana dunia ini begitu patriarki bagi Swift. Tetapi juga menerapkan gender reversed. Bagaimana bila laki-laki yang diperlakukan seperti perempuan di kehidupan nyata? Scene terakhirlah jawabannya.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect