Connect with us
Joint Security Area

Film

Joint Security Area Review: Kaburnya Kebenaran dalam Peliknya Konflik Dua Negara 

Kisah dengan latar perbatasan negara konflik yang penuh intrik dan kehangatan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Joint Security Area” atau biasa disebut “JSA” merupakan karya ketiga dari sutradara Park Chan-wook yang rilis pada tahun 2000 dan merupakan adaptasi dari novel berjudul “DMZ” karya Park Sang-yeon.

“JSA” sendiri seperti tonggak awal dari kecemerlangan Park Chan-wook dalam membuat naskah dan menyutradarai film. “JSA” masuk dalam kategori pionir New Wave Korean Cinema karena film ini begitu populer baik di Korea sendiri maupun di kancah Internasional. Karena “JSA” pulalah akhirnya pengamat film Internasional mulai melirik sinema Korea Selatan.

Joint Security Area

Menguak kisah persahabatan di Zona Demiliterisasi Korea

Berlatar cerita di zona demiliterisasi antara Korea Utara dan Korea Selatan tepatnya di Panmunjom. Suatu hari dua penjaga perbatasan Korea Utara terbunuh oleh peluru senapan; tersangka utamanya penembak jitu dari Korea Selatan, Lee Soo-hyuk (Lee Byung-hyun) ditemukan terluka di jembatan perbatasan.

Kejadian tersebut memicu ketegangan antar dua Negara. Korea Utara menuduh Korea Selatan melakukan “serangan teroris”, sementara Korea Selatan mencurigai Korea Utara melakukan praktik “penculikan” terhadap pasukan penjaga perbatasan.

Kedua Negara akhirnya sepakat meminta bantuan kepada Otoritas Negara Netral (NNSC) untuk menyelidiki kasus tersebut. Seorang kapten tentara perempuan keturunan Korea, Mayor Sophie E. Jean ditugaskan untuk menginvestigasi kasus tersebut. Permasalahannya adalah kesaksian dari kedua belah pihak tidak ada yang sesuai dan saling menjatuhkan. Mayor Jean hanya memiliki waktu yang singkat untuk menyelesaikan misinya atau perang antar kedua Negara akan terjadi kembali.

Joint Security Area

Slow-burn dengan alur mundur yang penuh misteri

Jika mendengar ada suatu film produksi dari Korea Selatan membahas konflik antar Korea Utara dan Selatan di benak orang-orang pasti film ini tidak lebih sebagai film propaganda yang menggambarkan orang-orang Korea Utara sebagai komunis yang bengis dan keji. Hal itu semua runtuh ketika melihat “JSA”. Park Chan-wook justru memperlihatkan bagaimana Sersan Oh dari Korea Utara sebagai pribadi yang hangat dan tidak segan untuk menolong Letnan Soo-Hyuk dari Korea Selatan ketika terkena jebakan ranjau.

Fokus cerita di film ini adalah menguak apa yang sebenarnya terjadi di insiden yang menewaskan dua prajurit Korea Utara. Untuk menuju ke konklusi, Park Chan-wook membawakannya dengan perpaduan alur maju dan mundur. Alur maju ketika Mayor Jean menginvestigasi kasus sedangkan alur mundur diperlihatkan untuk memberikan “cerita” sebelum insiden. Menariknya adalah “cerita” yang disajikan terasa seperti manipulasi dari Park Chan-wook.

Bagi penonton yang sudah menonton film “Rashomon” (1950) ketika menonton “JSA” akan merasakan suasana yang sama meskipun tidak mendominasi. Adanya “Rashomon” di awal cerita “JSA”. Kesaksian para prajurit mengenai insiden tersebut justru membuat kasusnya menjadi bertambah rumit. Sama halnya dengan “Rashomon”, narasi “JSA” pun disampaikan dengan begitu lambat, tidak terlalu menonjolkan aksi peperangan dan sedikit membingungkan karena manipuasi latar waktu oleh Park Chan-Wook.

Kim Sung-bok adalah sosok yang bertanggungjawab atas penampilan gambar yang begitu emosional di “JSA”. Terkadang Kim bersama Park Chan-wook mampu menangkap gambar yang begitu luas tapi begitu sepi. Film “JSA” juga disebut sebagai film pertama yang menggunakan lensa super35. Hal itulah yang menjadikan tiap adegan di alur mundur terasa begitu hangat dan megah.

Kebenaran yang kabur meski begitu hangat

Salah satu hal yang mengganjal di film ini mungkin adalah penggambaran karakter dari Negara Korea Utara dan kejadian-kejadian yang ditampilkan di film terasa sangat tidak mungkin terjadi atau sebut saja sangat tidak realistis.

Ketegangan di antara kedua negara tersebut merupakan kulminasi dari konflik yang terjadi pada tahun 1950an. Perbedaan ideologi membuat Negara Korea akhirnya terpisah menjadi dua, Utara dan Selatan. Korea Utara menganut faham komunis dan menjadi pendukung Uni Soviet sedangkan Korea Selatan bersama Amerika Serikat. Hal ini juga merupakan dampak terjadinya perang dingin antara Amerika Serikat melawan Uni Soviet.

Kebenaran yang terjadi memang terasa kabur dan jauh dari kenyataan yang ada. Mungkin di benak Park Chan-wook terutama setelah membaca novel “DMZ”, Ia juga mendambakan adanya persatuan di antara Korea Utara dan Selatan. Itulah kenapa yang membuat film ini justru terasa hangat terutama persahabatan antara Letnan Lee Soo-Hyuk dan Peleton Nam Sung-shik (dari Korea Selatan) dengan Sersan Oh Kyeong-pil dan Jung Woo-jin (dari Korea Utara). Interaksi mereka begitu dekat dan hangat hingga orang pada akhirnya menyadari bahwa peperangan hanya milik elitis Negara bukanlah rakyatnya.

Akhir kata film “JSA” memang perlu ditonton untuk mengetahui gebrakan awal dari Park Chan-wook sebelum akhirnya berkutat pada film humor gelap. “JSA” bisa jadi memang film paling arus utama dari Park Chan-wook. Selain itu menyaksikan adu akting Song Kang-hoo, Kim Tae-woo, Shin Ha-kyun dan Lee Byung-hyun sebelum menjadi mega bintang adalah pemandangan yang menyenangkan.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect