Connect with us
Isha Hening

Isha Hening: Bergerak Duluan Sebelum Perkembangan Tren

Bagaimana seorang Isha Hening merespon dunia yang semakin virtual di era pandemi ini.

Bagi yang belum mengenal Isha Hening, ada kemungkinan besar sudah pernah ngeliat karyanya. Dia adalah seorang motion grapher dan VJ yang telah berkolaborasi dengan banyak konser dan festival musik yang ternama, belum lagi karyanya dalam bentuk instalasi dan medium artwork lainnya.

Namun bagi seorang motion grapher di era pandemi, Isha harus beradaptasi menghadapi banyaknya perubahan di industrinya. Untungnya, hal-hal yang sedang menjadi tren bukanlah sesuatu yang baru baginya. Simak interview kami dengan Isha Hening.

 Bagaimana sih gambaran sebuah hari kerja bagi Isha Hening?

Gambaran hari kerja… Gua bangun, terus gua enggak sarapan. Jadi gua ngopi, kopi item. Terus mandi, terus berangkat ke studio. Itu sih. Di studio biasanya datang, nyalain komputer, bales-balesin email. Terus makan siang. Baru sore gua ngerjain motion.

Kenapa sore?

Karena kalau pagi sama siang orang berisik ya. Maksudnya, ada aja yang nge-kontak. Musti bales chat, musti ada meeting. Kayak gitu-gitu sih. Jadi biasa gua baru bisa konsen kerja tuh setelah jam enam lah. Baru enak gitu. Orang udah mulai sepi, baru gua bisa kerja.

Apa yang selama ini jadi benang merah di semua karya Isha Hening?

Kalo secara visual sih udah pasti warnanya. Warna dan shape-nya banyak yang irregular dan abstrak gitu. Tapi yang utama sih, kasat mata ya; visualnya itu warna sama irregular shapes and abstract shapes-nya itu sih.

Boleh gambarkan enggak, proses kerja dari awal sebuah project hingga akhir?

Sebenernya proses kerja gua simple banget. Enggak yang gimana-gimana. Maksudnya, karena gua juga… Buat gua tuh bikin karya kayak, udah kayak nafas aja. Kebutuhan. Jadi enggak pernah ada ritual yang special atau proses yang istimewa banget sih menurut gua. Bener-bener cuman—kayak lagi diem terus tiba tiba: “Oh gua pingin bikin ini ah.” Yaudah gua nyalain komputer terus gua bikin.

Atau kalau misalnya gua lagi pingin gambar. Ya, yaudah langsung di tempat bisa gambar. Bisa nyalain komputer, bikin. Jadi gua bukan orang yang perlu: “Oh harus apa dulu, harus gimana dulu.” Harus dalam kondisi tertentu, enggak sih. Kalau gua lagi mau melakukan itu, ya gua lakukan.

Bagaimana seorang Isha Hening merespon dunia yang semakin virtual di era pandemi ini?

Hmm… I’ve been trying to disconnect as much as possible. Karena kita kan sekarang jadi hyper-connected banget. Terus buat gua, itu draining dan capek. Dan kerjaan gua 24/7 depan komputer.

Kalo komputer, because I like it. Gua seneng bikin motion, bikin 3D, dan lain-lain. Cuman gua makin—yang gua rasain sih. Gua merespon-nya dengan justru semakin menarik diri dari kehidupan online itu.

Selama pandemi ini teknologi / trend / tools apa aja yang menurut Isha menarik?

Karena kerjaan gua, naturenya deket banget sama teknologi. Bahkan dari sebelum pandemi. Buat gua nih, sebagian besar teknologi yang baru di-adapt selama pandemi ini. Buat gua dan temen-temen lain yang profesinya mirip sama gua. Buat kita nothing new sebenernya. Hanya perkembangan dari apa yang sudah kita ketahui sebelumnya. Jadi buat gua sih cuma perbedaannya, adalah sekarang user-nya lebih banyak aja dan orang udah mulai lebih paham. Kalo dulu kan mungkin, hanya sebagian kecil aja yang tau.

Let’s say AR,VR. Those kind of stuff, yang orang baru rame. Makin rame, sejak pandemi tapi buat—gua rasa orang-orang di profesi gua juga akan sependapat kalau buat kita: It’s nothing new actually. Nothing really breakthrough. Enggak yang gimana-gimana juga perkembangannya.

Dengan kebiasaan baru, dimana semakin banyak project virtual atau AR atau Digital. Gimana lo ngeliat masa depan lo sebagai seorang seniman?

Justru, hal yang paling gua enjoy tidak bisa gua lakukan di masa pandemi ini. Gua seneng ngeliat karya gua di konser atau beberapa instalasi. Masih ada gua ngerjain beberapa instalasi sih. Tapi gua seneng ngeliat karya gua di-stage, yang big scale. Massive. Offline. Dilihat banyak orang.

Mungkin cara melihatnya aja beda. Akhirnya yang berkembang platform-nya. Tapi in the end of the day, kita naro karya kita online. Yang berbeda hanya cara-nya, metodenya, terus mungkin sekarang bisa ada benefit financial-nya lebih besar dengan adanya NFT (Non-Fungible Token). 

Kalau pelajaran yang didapatkan selama satu tahun ke belakang ini?

Mungkin yang lebih berkarya, dulu kan deket banget dengan musik, dan beberapa kali pun akhirnya. Style gua juga terpengaruh dengan musiknya. Cuman semenjak pandemi, karena konser berkurang, dan gua lebih banyak ngerjain yang installasi gua sendiri. Yang memang menu utamanya memang visual art itu sendiri. Gua merasa makin menemukan style yang bener-bener gua suka. Style visual gua bener-bener: “Wah ini Isha banget nih.”

Akhirnya gua, dua tahun terakhir ini selama pandemi makin kebentuk dan gua makin tau seperti apa nih. Hal-hal yang gua suka.

Keadaan sekarang ini mendorong sejumlah orang untuk bereksperimentasi terus dengan inovasi-inovasi yang ada. Kalau kamu mau merasakan sebuah keseruan yang bener-bener inovatif, beda dari yang lain, dalam bentuk eksplorasi dunia 3D yang bebas tanpa batas, klik link di sini!

LabRana Menyalakan Lagi Tren Fotografi Analog LabRana Menyalakan Lagi Tren Fotografi Analog

LabRana Menyalakan Lagi Tren Fotografi Analog

Art

ruang rupa ruang rupa

ruangrupa: Pelopor Perkembangan Seni dan Kultur Kreatif

Art

Eugene Panji Paviliun 9 Eugene Panji Paviliun 9

Melting Pot Segala Jenis Komunitas Kreatif di Paviliun 9

Culture

Formula Paten Zodiac Padukan Kultur Klub dan Fashion Formula Paten Zodiac Padukan Kultur Klub dan Fashion

Formula Paten Zodiac Padukan Kultur Klub dan Fashion

Lifestyle

Advertisement
Connect