Connect with us
Inglourious Basterds

Film

Inglourious Basterds Review: Sejarah Kekejaman Nazi versi Tarantino

Film penulisan ulang sejarah versi Tarantino yang nyaman untuk disimak.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Sepuluh tahun sebelum “Once Upon a Time in Hollywood” (2009), Quentin Tarantino sudah pernah merilis film dengan format penulisan ulang sejarah bertajuk “Inglourious Basterds” (2009). Film sepanjang 2 jam lebih ini mencoba menulis ulang sejarah kekejaman Nazi dengan pendekatan khas Tarantino.

Garis besar cerita film ini berkisar pada upaya balas dendam terhadap kekejaman Nazi dari berbagai pihak. Mulai dari “The Basterds” pimpinan Aldo Raine (Brad Pitt); sekutu yang diwakili Archie Hicox (Michael Fassbender) dan Bridget von Hammersmark (Diane Kruger); serta gadis Yahudi bernama Shosanna Dreyfus (Melanie Laurent) yang menyamar jadi pemilik bioskop di Paris.

Flm ini menuai banyak ulasan positif beberapa saat setelah ditayangkan. Film keenam Tarantino itu juga menjadi debut seorang Christoph Waltz sebagai aktor Hollywood. Di “Inglourious Basterds”, aktor asal Austria itu berperan sebagai salah satu sosok yang ada di pihak Nazi.

Inglourious Basterds

Masih Khas Tarantino

Jangan berpikir “Inglourious Basterds” adalah sajian drama kolosal yang serius. Tarantino justru men-treatment film ini dengan ciri khasnya yang slengean. Plot ceritanya dipenuhi kejutan yang bisa ditemukan hampir tiap waktunya. Banyak dialog cerdas dari berbagai bahasa juga tersaji. Sedikit dark comedy pun turut disisipkan dalam dialog-dialognya.

Adegan kekerasan yang brutal nan indah khas Tarantino pun juga ada di film ini dan begitu nyaman dinikmati walau durasinya panjang. Adapula trivia-trivia kecil yang dibacakan oleh Samuel L. Jackson selaku narator. Film ini semakin nyaman dinikmati berkat music scoring yang mampu membangkitkan mood tiap adegan, khususnya adegan-adegan yang menegangkan.

Dari segi visual, Tarantino masih konsisten memakai metode pengambilan gambar yang ia lakoni selama ini. Mulai dari close up camera, trunk shoot, sampai shoot yang intens terhadap makanan dan kaki perempuan. Aspek visual film ini makin nyaman dinikmati berkat penggunaan setting gedung yang indah. Terutama gedung bioskop yang dimiliki Shosanna Dreyfus (Melanie Laurent).

Panggung Bagi Christoph Waltz

Walau Brad Pitt adalah pemeran utama, Christoph Waltz boleh dibilang paling bersinar di film ini. Christoph Waltz sendiri berperan sebagai sosok ‘Pembunuh Yahudi’ bernama kolonel Hans Landa.

Aktor kelahiran Austria itu memerankan Hans Landa dengan begitu detail dan luar biasa. Ia mampu mengeluarkan karakteristik Hans Landa yang kalem namun intimidatif. Ia pun juga bisa mengeluarkan semua kemampuan berbahasa yang dimiliki si tokoh. Kegemilangannya dalam memerankan Hans Landa membuat Christoph Waltz meraih Oscar pertamanya pada 2010.

Brad Pitt selaku pemeran utama sebetulnya tampil gemilang. Ia mampu memerankan sosok Aldo Raine yang slengean, serta lebih tua dari Brad Pitt. Sayangnya, tokoh yang ia perankan punya porsi yang lebih sedikit dibanding Hans Landa.

Deretan supporting role-nya pun juga tampil apik. Diane Kruger tampil baik sebagai Bridget von Hammersmark. Sosok artis ternama yang juga agen sekutu. Elie Roth yang selalu diandalkan Tarantino juga mampu memerankan salah satu anak buah Aldo Raine, Sergeant Donny Donowitz.

Kredit sebesar-besarnya ditujukan kepada Martin Wuttke. Aktor asal Jerman itu mampu menampilkan sosok Adolf Hitler versi Quentin Tarantino yang kejam namun komikal.

“Inglourious Basterds” merupakan sajian klasik lainnya dari Quentin Tarantino. Lewat film ini, ia mencoba menulis ulang sejarah kekejaman Nazi dengan gayanya yang khas. Walau durasinya panjang, film ini sangat nyaman untuk diikuti karena sejumlah aspek menarik di dalamnya.

Interview With the Vampire Interview With the Vampire

Interview With the Vampire Review: Kisah Vampir Berjiwa Manusia

Film

Film Tentang Pencurian Data PribadiFilm Tentang Pencurian Data Pribadi Film Tentang Pencurian Data PribadiFilm Tentang Pencurian Data Pribadi

Film Tentang Pencurian Data Pribadi

Cultura Lists

Angele Review: Saat Pop Star Belgia Kembali Menemukan Jati Dirinya

Film

The Power of the Dog The Power of the Dog

The Power of the Dog Review: Toxic Masculinity dan Balas Dendam Tersembunyi

Film

Advertisement
Connect