Connect with us
i’m thinking of ending things netflix
Netflix

Film

I’m Thinking of Ending Things Review: Adaptasi Penuh Tanya Dari Charlie Kaufman

Sebuah kisah tentang seorang gadis yang mengunjungi orangtua kekasihnya, tetapi Charlie Kaufman membuatnya menjadi lebih dari itu.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Saya ingin mengakhirinya. Buat kalimat tersebut merujuk pada “film ini” dan terciptalah isi pikiran para penonton yang kebosanan dengan film baru Charlie Kaufman yang diproduksi oleh Netflix ini. Namun sebagaimana Kaufman mengatakannya sendiri dalam sebuah wawancara dengan Indiewire, “Anda hanya akan mengerti atau tidak mengerti.”

Diceritakan seperti sebuah mimpi yang berputar-putar selama 2 jam, I’m thinking of ending things tidak akan memberitahu para penontonnya secara eksplisit mengenai keseluruhan kisahnya. Namun justru itu yang membuatnya menjadi sebuah film khas sang sutradara.

i’m thinking of ending things netflix

Netflix

Lucy sedang dalam perjalanan dengan kekasihnya, Jake, untuk menemui orangtua Jake di rumah mereka di perkebunan. Sepanjang perjalanan, Lucy terus kembali memikirkan untuk “mengakhirinya,” merujuk pada hubungan mereka yang belum lama berjalan. Ketika tiba di rumah orang tua Jake, hal-hal aneh mulai terjadi di sekitarnya, dan hal-hal yang lebih aneh lagi terjadi dalam perjalanan pulang. Dia masih ingin mengakhirinya.

Menggunakan rasio 4:3, adaptasi Kaufman terhadap novel dengan judul sama, ditulis oleh Iain Reid, adalah sebuah penggambaran yang surealis atas kisah thriller psikologis tersebut. Sang sutradara mengambil inti dari kisah ini dan mengubahnya menjadi mahakaryanya pribadi, sebuah adaptasi yang sangat bertumpu pada interpretasinya terhadap novel tersebut. Rasio yang hampir persegi tersebut memberikan rasa fokus tersendiri pada masing-masing adegan, hanya saja fokus tersebut akan hampir selalu dirampas secara tiba-tiba oleh transisi seperti mimpi di antara setiap adegan.

i’m thinking of ending things review

Netflix

Cara Kaufman menceritakan kembali kisah ini bisa dianggap membingungkan oleh sejumlah penonton. Sejak awal, film ini disertai oleh narasi Lucy mengenai isi pikirannya, dengan suntingan suara yang luar biasa tepat dan memainkan keberlaluan dialog melalui volumenya. Bersama dengan adegan-adegan sekilas yang memperlihatkan seorang tukang pembersih sekolah, sulit untuk memroses apa yang sedang terjadi, atau telah terjadi.

Namun film ini tidak diciptakan untuk dapat dimengerti secara sekilas. Beri waktu untuk merefleksikannya, tonton untuk kedua kalinya jika diperlukan. Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa membutuhkan gelar kajian film untuk bisa mengerti I’m thinking of ending things, tetapi sepertinya pikiran tersebut justru melenceng dari tujuan Charlie Kaufman. Sang sutradara sendiri selalu terbuka dengan interpretasi apa pun terhadap karyanya.

(Warning: spoiler)

Ada jawaban yang benar untuk adaptasi Charlie Kaufman atas novel tersebut, bahkan membaca novelnya saja sudah bisa menjawab pertanyaan mengenai apa yang ingin disampaikan oleh sang sutradara melalui filmnya. Namun apa serunya sekadar membaca wawancara sang sutradara yang memberitahu apa arti sebenarnya dan bagaimana semua sebenarnya terjadi?

Jawaban “benar” mengenai Lucy dan Jake adalah bahwa Lucy selama ini hanya merupakan imajinasi Jake, bahwa Lucy adalah Jake. Lucy tidak pernah menjadi milik Jake dan dia hanya sendirian dengan pikirannya hingga dia menua menjadi sang pembersih sekolah yang sesekali diperlihatkan kehidupannya. Namun pemeranan Jessie Buckley atas Lucy tidak bersifat satu dimensi, dia bukanlah hasil dari fantasi yang sempurna milik Jake. Lucy diberikan agensi untuk balik berbicara, mengutarakan pikirannya, dan terutama untuk berpikir.

i’m thinking of ending things netflix

Neflix

Seperti halnya Descartes yang terkenal dengan ucapannya, “saya berpikir maka saya ada.” Apabila Lucy dapat berpikir untuk mengakhiri hubungannya, dan seluruh pikiran lain yang dia miliki, apakah artinya dia ada? Pengalamannya dalam sebuah hubungan yang pasti akan usai adalah hal yang dapat dimengerti oleh banyak orang. Perasaan putus ada bahwa keadaan akan tetap seperti ini, bahwa tidak akan menjadi lebih baik, dan tetap menjalaninya meski tahu harus mengakhirinya. Seperti bagaimana manusia terus menjalani kehidupan meski tahu keadaan tidak akan membaik.

Selain itu, perkembangan karakter Lucy sendiri yang membuatnya terasa semakin ada. Ditinggal sendirian dalam mobil oleh Jake, Lucy meneriakkan bahwa dia tidak pernah diajarkan untuk menolak dan dia selalu hanya bisa menerima. Lalu penerimaan tersebut semakin berubah menjadi “iya” penuh kepasrahan meskipun dirinya tahu ingin menolak. Hal ini rasanya terlalu pribadi dan dirasakan oleh banyak perempuan di dunia.

Hingga tiba pada pertanyaan, bagaimana jika keduanya benar? Bahwa Lucy ada dan bahwa Lucy juga hanya sebuah bagian dari imajinasi Jake? Bahwa mungkin, proyeksi orang-orang terhadap pasangannya akan membuat pasangannya tersebut menjadi fana, seperti Lucy. Hanya ada dalam pikiran.

Menimbulkan lebih banyak pertanyaan dari pada jawaban, I’m thinking of ending things tidak dibuat dengan maksud membingungkan para penontonnya. Kisah-kisah rumit dan referensi-referensi yang terkesan eksklusif dibuat dengan maksud untuk menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Mengenai filmnya, karakter-karakter, dan setelah banyak refleksi, kemiripannya dengan masing-masing kisah pribadi para penonton. Film ini membuka kemungkinan timbulnya interpretasi tanpa batas terhadap sebuah mahakarya dengan arahan, performa, dan penyuntingan yang tidak memiliki cacat.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect