Connect with us
Haunted Mansion (2023) vs The Haunted Mansion (2003)
Photo via Screenrant.com

Entertainment

Haunted Mansion (2023) vs The Haunted Mansion (2003)

Kedua film horor komedi Disney ini memiliki pesona dan keseruan yang berbeda.

“Haunted Mansion” merupakan adaptasi ulang oleh Justin Simien 2023 dari “The Haunted Mansion” yang pertama kali rilis pada 2003 oleh sutradara Rob Minkoff. Sama-sama film komedi horor produksi Walt Disney Pictures, The Haunted Mansion awalnya adalah wahana rumah hantu yang populer di Disneyland, pertama kali buka pada 1969 silam. Konsep yang sederhana dan sudah diadaptasi dalam berbagai media horor, ‘Haunted Mansion’ merupakan latar griya tawang mewah klasik dimana makhluk halus bersemayam.

Dalam film pertama “The Haunted Mansion”, cerita fokus pada dua pasangan agen properti, Jim Evers (Eddie Murphy) dan Sara Evers (Marsha Thomason). Pasangan ini menghabiskan akhir pekan bersama kedua anak mereka, terjebak di hunian mewah dan tua milik Tuan Gracey (Nathaniel Parker) ketika sedang badai besar.

Sementara “Haunted House” dibintangi oleh LaKeith Stanfield sebagai Ben Matthias, pemandu tur lokasi berhantu yang tidak percaya dengan hantu. Hingga suatu hari, Pendeta Kent (Owne Wilson) menawarkan pekerjaan untuk menghadapi roh jahat yang bersemayam di properti tua. Seorang ibu tunggal bersama putranya membutuhkan bantuan mereka.

Kedua film ini sayangnya bukan favorit media kritik film utama. “Haunted Mansion” mendapatkan score 37% di Rotten Tomatoes meski untuk score dari penonton sebetulnya cukup tinggi, 84%. Sementara “The Haunted Mansion” mendapatkan score 13%, sayangnya dengan score penonton yang masih rendah, 31%. Padahal kedua film ini memiliki pesonanya sendiri, datang dari dua era berbeda; dengan tren horor berbeda dan teknologi produksi film yang juga berbeda. Berikut pembahasan lebih tentang perbandingan antara “Haunted Mansion” terbaru dengan “The Haunted Mansion” dari era 2000an.

(Slight Spoiler untuk “Haunted Mansion” dan “The Haunted Mansion”)

Latar Rumah Berhantu yang Serupa Namun Tak Sama

“The Haunted Mansion” tidak langsung membawa kita ke rumah berhantu yang menjadi bintang utama, namun memperkenalkan kita terlebih dahulu pada keluarga Evers. Jim Evers dan Sara Evers adalah pasangan agensi properti yang sukses, namun Jim lebih ambisius hingga melewatkan banyak waktu berkualitas dengan keluarganya. Bahkan dalam skenario kali ini, acara liburan akhir pekan keluarga mereka masih bersangkutan dengan pekerjaan.

Sara mendapatkan undangan dari Tuan Edward Gracey yang ingin menjual properti lamanya melalui jasanya. Ternyata lebih dari sekadar mengharapkan bantuan dari istri Jim, Tuan Gracey bersama pelayanan di properti tersebut memiliki rencana lain yang bisa menjadi akhir dari keutuhan keluarga Evers.

Sementara “Haunted Mansion”, selain ingin menyajikan skenario baru, latar ceritanya juga lebih menarik. Berlatar di New Orleans, dalam kisah ini dipresentasikan sebagai kota yang semarak dengan budaya dan tur supranatural. Dimana kita bisa menemukan pemandu wisata spesialis lokasi berhantu, fotografer makhluk astral, sejarawan yang paham misteri dari lokasi supranatural, cenayang, dan pastinya griya tawang tua yang benar-benar menjadi sarang hantu.

Kita kemudian akan mengikuti kisah Ben Matthias, pemandu sekaligus astrophysicist yang tak percaya hantu semenjak istrinya meninggal. Ia kemudian mengalami petualangan supranatural baru ketika berusaha menyelamatkan seorang ibu tunggal dengan putranya yang terjebak di hunian berhantu. Dimana ia juga akhirnya bertemu dengan teman-teman baru setelah cukup lama merasa kesepian.

Kedua hunian berhantu dalam kisah ini memiliki desain yang berbeda, fenomena supranatural yang diterapkan juga berbeda. Meski sama-sama dimliki oleh tuan tanah kaya raya bernama Gracey, kedua Gracey dari tiap film memiliki objektif yang berbeda. Pada akhirnya menyajikan plot yang benar-benar berbeda pula. Jika “The Haunted Mansion” cenderung petualangan horor keluarga klasik, “Haunted Mansion” adalah petualangan horor dari kelompok yang terdiri karakter-karakter eksentrik secara tidak sengaja. Namun kedua di lineup aktor sama-sama meliki chemistry yang menyenangkan untuk diikuti sepanjang cerita.

Intisari Cerita dan Pesan Moral

Untuk “The Haunted Mansion” karakter Eddie Murphy, Jim Evers menjadi fokus konflik yang nantinya mendapatkan pelajaran moral pada akhir cerita. Karakternya merupakan pria workaholic. Meski pada akhirnya ia juga melakukan semua itu demi sejahteraan keluarga, ia mulai sulit memahami apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh istri dan anak-anaknya; sosok suami dan ayahnya yang penyayang.

Skenario petualangan horor keluarga dalam film pertama ini akhirnya menjadi kesempatan untuk Jim memahami apa yang sesungguhnya berarti dalam kehidupan, yaitu keluarganya. Ini tentang lebih bersyukur dan tidak menyepelehkan apa yang sudah kita miliki.

Sementara “Haunted Mansion” lebih tentang menghadapi rasa berkabung pasca ditinggal orang yang paling dicintai. LaKeith Stanfield sebagai Ben Matthias berbeda dengan Jim yang memulai kisah dengan miliki segalanya, Ben telah kehilangan segalanya, yaitu istrinya Alyssa yang meninggal secara tragis. Dalam skenario film adaptasi terbaru ini, Jim belajar untuk beranjak dari perasaan sedih yang mendalam. Meski dengan narasi supranatural yang terkesan fantasi bagi para skeptis, penulisannya sangat puitis dan menyentuh hati dalam memaknai kematian dan kehidupan setelah kematian untuk orang-orang yang kita cintai.

Desain Produksi dan Kualitas CGI

Untuk film terbaru Disney di era serba CGI, “Haunted Mansion” sebetulnya menjadi salah satu yang berkualitas tinggi. Mulai dari CGI penampakan hantu, adegan-adegan fenomena supranatural, hingga ilusi dan anomali di hunian tersebut dipresentasikan dengan baik secara teknis. Film ini presentasi visual sangat vibrant dan semarak meski dengan tema ceritanya yang gelap.

Jika dibandingkan dengan “The Haunted Mansion”, film ini memiliki arahan desain produksi yang lebih bergaya. Mulai dari busana, tata rias, hingga penokohan karakter terlihat lebih memikat dengan elemen fantasi yang dramatis. Berbeda dengan Eddie Murphy yang hanya mengenakan setelan formal biasa seperti agen properti pada umumnya.

Namun, orang-orang kurang mengapresiasi betapa detailnya desain produksi “The Haunted Mansion” yang tidak terlalu banyak mengandalkan CGI. Mulai dari desain latar huniannya yang memperlihatkan craftmanship. Jika banyak penampakan hantu dalam “Haunted Mansion” mengandalkan visual efek CGI, “The Haunted Mansion” lebih banyak mengandalkan visual efek melalui prostetik dan dummy yang memberikan kesan lebih nyata.

Visual efek dari film yang diproduksi pada era 2000an ini bahkan masih memikat jika kita saksikan sekarang. Singkatnya, “Haunted Mansion” adalah contoh penerapan CGI yang baik, sementara “The Haunted Mansion” menjadi contoh visual efek konvensional yang berkualitas.

Perpaduan Elemen Horor dan Komedi

Kalau penerapan adegan horor, sebetulnya “The Haunted Mansion” patut diakui lebih unggul. Perlu diingat ini adalah film horor komedi dengan segementasi semua umur, oleh karena itu kita tidak bisa mengharapkan horor yang terlalu grafik dan mengerikan. Namun untuk adegan mayat bangkit di dalam gua dan adegan serangan sekelompok laba-laba dalam film menjadi sebagian dari adegan horor yang mengerikan.

Film pertama ini masih menjadi adaptasi dari wahana bermain di Disneyland, oleh karena itu setiap elemen horor yang ditampilkan sangat terasa seperti pemberhentian horor, namun memiliki plot yang lebih menarik dengan sentimental dan objektif yang bermakna untuk karakternya.

Eddie Murphy sebagai protagonis juga menjadi karakter yang meng-carry materi komedi sepanjang film. Setiap dialog humor yang ia lontarkan selalu tepat sasaran. Ini bisa jadi film yang sangat menyenangkan dan lucu untuk ditonton bersama keluarga. Sementara LaKeith Stanfield dalam “Haunted Mansion” membawakan karakter yang lebih melankolis dengan penampilan yang lebih galau dalam ceritanya. Penampilannya setiap kali membawakan monolog tentang istrinya tak pernah gagal untuk membuat penonton ikutan sedih. Kita bisa merasakan benar-benar rasa berkabung yang sedang melandanya.

Untuk elemen horor yang menyeramkan, “Haunted Mansion” tidak terlalu menimbulkan kengerian seperti “The Haunted Mansion”. Kalau untuk materi humornya, Pendeta Kent dan Bruce Davis (Danny DeVito) menjadi karakter comedy relief-nya. Setiap karakter juga memiliki momen-momen lucunya sendiri.

Jadi, “The Haunted Mansion” adalah film horor komedi keluarga ala wahana rumah hantu, sementara “Haunted Mansion” adalah horor komedi yang lebih mengharukan dan sentimental daripada mengerikan. Pada akhirnya, keduanya menyajikan petualangan horor yang berbeda, namun sama-sama berkesan. Film-film ini bisa di-streaming di Disney+ Hotstar bersama keluarga.

Bachiranun Review Bachiranun Review

Bachiranun Review: Kenangan Sutradara akan Kampung Halamannya di Yonaguni

Film

Gaung Merah SeGALAnya Kembali Berkunjung ke 25 Kota Gaung Merah SeGALAnya Kembali Berkunjung ke 25 Kota

Gaung Merah SeGALAnya Kembali Berkunjung ke 25 Kota

Entertainment

Musisi Instrumentalist yang Tampil di Java Jazz Festival 2023 Musisi Instrumentalist yang Tampil di Java Jazz Festival 2023

Pertunjukan Spektakuler dari Keunggulan Musik dan Kolaborasi di Java Jazz Festival 2024

Entertainment

MALIQ & D’Essentials MALIQ & D’Essentials

MALIQ & D’Essentials Memperkenalkan Album Kesembilan ‘Can Machines Fall In Love?’

Music

Connect