Connect with us
Forrest Gump Review

Film

Forrest Gump Review: Menyimak Dongeng Si Pria Lugu

Film adaptasi novel yang lebih ‘light’ dibanding versi novelnya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Di suatu tempat perhentian bus, sehelai bulu burung berwarna putih melayang lalu jatuh di dekat seorang pria bernama Forrest Gump (Tom Hanks). Di sana, Forrest sedang menceritakan kehidupan masa lalunya kepada siapa pun yang duduk di sebelahnya. Masa-masa kecilnya saat bersama sang ibu, perkenalannya dengan Jenny (Robin Wright) yang selalu datang dan pergi di hidupnya, sampai momen kematian sang ibu.

“Forrest Gump” (1994) merupakan film klasik garapan Robert Zemeckis dengan Tom Hanks sebagai pemeran Forrest Gump. Hanks sendiri berhasil mendapatkan peran tersebut setelah menyingkirkan sejumlah kandidat nama lain, pada John Travolta, Bill Murray, dan Sean Penn.

Forrest Gump Review

Pendekatan yang lebih ‘Light’

Pada versi novelnya, “Forrest Gump” lebih banyak menyajikan sisi gelap kehidupan tokoh utamanya. Pendekatan semacam itu tidak dipakai saat novelnya ditransformasikan ke format film. Versi film “Forrest Gump” justru lebih ‘light’ dan mampu menyenangkan hati penonton. Semua adegannya disajikan dengan jenaka dan heartwarming tanpa menjadi film hiburan dangkal.

Tokoh Forrest Gump pun digambarkan lebih ‘lurus’ dan berpikiran positif tanpa kehilangan sisi lugu dan konyol khas tokoh ini. Sisi ‘lurus’ itu bisa dilihat dari gaya hidupnya yang jauh dari seks dan narkoba, sedangkan sisi positifnya tercermin dari sikap Forrest yang tak pernah menceritakan orang-orang yang pernah menindasnya.

Tokoh utama di film ini pun juga digambarkan punya pengaruh baik kepada sejumlah orang, terutama Jenny, Bubba (Mykelti Williamson), dan Letnan Taylor Dan (Gary Sinise) yang sempat benci kepadanya.

“Forrest Gump” lebih banyak memakai alur maju-mundur dalam eksekusinya. Menonton film ini membuat kita seolah-olah sedang menyimak dongeng dari Forrest Gump. Setiap adegan flashback-nya dilengkapi dengan sejumlah footage dan tokoh ikonik dari berbagai era. Semisal Elvis Presley, saat masih jaya-jayanya perang Vietnam, penembakan John F. Kennedy, John Lennon yang masih aktif menyuarakan perdamaian di Amerika, sampai pengunduran diri Richard M. Nixon selaku Presiden Amerika pada 1974.

Lagu-lagu yang hits pada era 60 hingga 80-an pun turut mewarnai tiap adegannya, seolah-olah mewakili setiap era yang pernah dilalui Forrest. Ada pula scoring music dengan string section yang menghangatkan hati, khususnya saat adegan awal dan akhir. Properti dan visual secara keseluruhan tergolong baik. Hanya ada satu scene dimana latar tempatnya terasa begitu artifisial.

Forrest Gump Review

Courtesy: Everett Collection/Paramount Pictures

(Spoiler Alert) Di scene itu, digambarkan kalau Forrest dan sejumlah tentara Amerika Serikat lainnya sedang berperang di Vietnam. Sayangnya, latar tempat yang dipakai terasa kurang meyakinkan. Hal itu bisa dilihat dari gambar gunung di belakang para tentara AS yang seperti gambar gunung bohongan. Belum lagi adegan ledakannya yang terasa kurang nyata. (Spoiler End)

Beragam kalimat-kalimat quotable bisa ditemukan pada sejumlah dialognya. Tiga diantaranya yang paling ikonik adalah “Run, Forrest, Run!”, “Life was a box of chocolates. You never know what you’re gonna get”, dan “Stupid is as stupid does”.

Daya tarik “Forrest Gump” lainnya adalah kehadiran sehelai bulu burung berwarna putih yang selalu jatuh di dekat Forrest Gump. Dalam beberapa kepercayaan, bulu burung putih yang jatuh kepada seseorang menandakan kalau hidup orang tersebut akan baik-baik saja. Simbolisme itu sepertinya pas dengan kehidupan Forrest di sepanjang film yang selalu mendapatkan keberuntungan, kendati ia pernah disakiti atau mengalami kesulitan.

Tom Hanks Sebagai Pusat Semesta “Forrest Gump”

Boleh dibilang kalau Tom Hanks adalah pusat semesta di film “Forrest Gump”. Ia berhasil menyajikan akting yang detail selama memerankan tokoh utama. Mimik wajah sang tokoh yang lugu, cara berlarinya yang ikonik, sampai logatnya yang khas dieksekusi dengan sempurna oleh Hanks. Khusus untuk logat, Hanks sengaja melatihnya secara intensif selama tiga hari. Hanks pun juga mampu membangun chemistry dengan aktor-aktor lainnya. Semua hal yang berhasil dilakukan Hanks itu membuahkan hasil positif berkat aktingnya yang diapresiasi banyak orang, serta piala Oscar yang berhasil ia bawa pulang.

Di luar Hanks, sejumlah aktor lain pun tampil baik. Robin Wright berhasil memerankan sosok Jenny yang menjalani hidup a la hippie, serta sering menjadi korban sexual abuse dari sejumlah pria. Walau singkat, Mykelti Williamson berhasil menarik perhatian berkat perannya sebagai Bobba yang punya bentuk bibir unik, serta punya pengetahuan mumpuni soal udang.

Gary Sinise adalah scen stealer lainnya berkat tokoh Letnan Taylor Dan yang ia perankan. Sang tokoh itu merupakan atasan Forrest yang sempat membencinya, namun akhirnya jadi sahabat karib sekaligus rekan bisnis Forrest.

Selain aktor-aktor dewasa, Forrest Gump juga melibatkan beberapa child actor. Salah satunya yang outstanding adalah Michael Connor Humphrey yang berperan sebagai Forrest Gump selaku kecil. Ia berhasil memerankan sosok sang tokoh yang sewaktu kecil dikenal punya IQ rendah, punya kelainan pada tulang belakang dan kaki, serta punya kemampuan berlari yang luar biasa.

“Forrest Gump” adalah film adaptasi novel yang tergolong klasik. Banyak momen lucu dan inspiratif yang tersaji di film sepanjang 2 jam lebih ini. “Forrest Gump” yang rilis pada 1994 kini bisa disimak lagi di Netflix.

Click to comment

The Social Dilemma The Social Dilemma

Bagaimana Netflix Telah Mengubah Trend Film Dokumenter

Current Issue

Jurassic World Dominion Jurassic World Dominion

Filosofi Dari Jurassic Park Series

Entertainment

Adam by Eve: A Live in Animation Adam by Eve: A Live in Animation

Adam by Eve: A Live in Animation Review

Film

Into The Wild Into The Wild

Into The Wild Review: Biopik Perjalanan Christopher McCandless yang Penuh Refleksi

Film

Advertisement
Connect