Entertainment

Filosofi Kehidupan Terbaik Michael dalam “The Good Place”

Quote filosofi kehidupan dari Michael yang kalian yang mampu memberikan perspektif baru.

“The Good Place” merupakan salah satu Netflix Original Series terbaik bergenre sitkom. Lebih dari sekadar sitkom dengan konsep semesta alam baka yang unik dan materi komedi yang mengundang tawa, “The Good Place” memiliki penulisan naskah berkualitas, penuh dengan filosofi, pelajaran moral, hingga etika. Salah satu karakter cerdas dan bijak yang selalu mendapatkan dialog terbaik adalah Michael.

Michael adalah seorang ‘Arsitek’ alam baka. Lebih dari sekadar arsitek biasa, Ia merupakan salah satu yang inovatif dan mau mengambil resiko dengan metode baru. Meski sempat mengalami kegagalan bertubi-tubi, Ia selalu kembali dengan pencerahan baru.

Membawanya pada pemahaman-pemahaman baru yang kemudia Ia sampaikan sebagai quote bijak dan berbagai perspektif baru dalam menghadapi kehidupan. Berikut quote filosofi kehidupan dari Michael dari “The Good Place” yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. 

(Spoiler alert!)

“What matters isn’t if people are good or bad. What matters is, if they’re trying to be better today than they were yesterday. You asked me where my hope comes from? That’s my answer.”

Salah satu isu moral yang diperdebatkan dalam “The Good Place” adalah definisi ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’ itu sendiri. Dimana dalam sistem alam baka dalam ini juga mempercayai orang baik masuk surga, orang jahat masuk neraka.

Michael sendiri adalah iblis yang memiliki tugas untuk menyiksa manusia yang masuk neraka. Namun, metode barunya membuat Ia menyadari sesuatu. Bahwa menentukan seseorang baik atau jahat, bukan objektif utama. Karena pada akhirnya, manusia tak luput dari kesalahan, bahkan orang baik sekalipun.

Yang penting adalah bagaimana seseorang memiliki kemauan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di kemudian hari. Disitulah harapan Michael sebagai arsitek untuk memberikan keadilan pada manusia dalam penghakiman terakhir di alam baka.

“The point is, people improve when they get external love and support. How can we hold it against them when they don’t?”

Melalui metode tidak biasanya, Michael juga menemukan bagaimana semua manusia memiliki potensi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bahwa manusia membutuhkan kasih sayang eksternal dan dukungan untuk menjadi pribadi yang baik.

Bagaimana kita menuntut Eleanor untuk menjadi orang yang tidak egois jika Ia tak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya? Bagaimana kita menuntut Tahani untuk tulus membantu orang lain jika selama hidupnya, Ia selalu dibandingkan oleh saudaranya yang lebih berbakat. Kedua orangnya juga membuat Tahani dan saudaranya bertarung, membuktikan siapa yang terbaik dan patut dinobatkan sebagai anak terfavorit. 

“Come on, you know how it works. You fail, and then you try something else. And you fail again and again, and you fail a thousand times, and you keep trying because maybe the 1.001st idea might work. Now, I’m gonna try to find our 1.001st idea”

Bukan dua kali, bahkan sepuluh kali, Michael meyakini bahwa meski Ia gagal selama seribu kali, Ia tidak boleh menyerah. Dan benar saja, tak terhitung berapa kali Ia gagal dalam menjalankan metode khususnya sebagai arsitek alam baka. Namun, percobaan keseratus sekian telah membawanya pada titik dimana Ia menemukan pemahaman baru seputar hukum moral yang lebih bijak dan adil.

Semangat Michael untuk tak menyerah bahkan setelah seribu kali bisa menjadi perspektif baru yang membuat kita tetap optimis dalam apapun hal yang sedang kita usahakan.

“If soulmates do exist, they’re not found. They’re made. People meet. They get a good feeling. And then they get to work, building a relationship”

Kebanyakan dari kita familiar dengan istilah ‘jodoh’ atau ‘belahan jiwa’, seakan cinta adalah keajaiban yang instan. Namun Michael memiliki definisi ‘belahan jiwa’ yang lebih logis dan menuntut usaha kita dalam suatu hubungan. Bahwa belahan jiwa tidak ditemukan secara cuma-cuma, namun belahan jiwa adalah sesuatu yang bisa kita ciptakan.

Orang bertemu, mereka memiliki firasat baik, kemudian membangun hubungan. Mulai dari membangun kepercayaan, berkompromi dengan kekurangan masing-masing, dan berkomitmen hingga akhir.

Bernadetta Yucki

Writer, hardcore movie enthusiast who believes in pop culture.

Share
Published by
Bernadetta Yucki