Film

Drifting Review: Kasus Hukum Tunawisma vs Pemerintah

Menyoroti “poverty porn”, ketimpangan sosial, dan kehormatan moral manusia.

Setelah sukses mengawali debutnya melalui film “Tracey” (2018), Sutradara sekaligus penulis asal Hong Kong, Jun Li kembali membawa sinema Asia melampaui standar ekspektasi para pengamat film dengan kemunculan film keduanya “Drifting” (2021), yang terpilih untuk mewakili negaranya berkompetisi di The International Film Festival Rotterdam (IFFR).

Setelah film ini tayang perdana di Hong Kong International Film Festival (HKIFF) ke-45 dan release secara resmi pada 3 Juni 2021. Nama Jun Li kembali diperbincangkan karena berhasil membawa pulang piala Golden Horse Awards ke-57 untuk kategori Best Adapted Screenplay.

Apa sebenarnya yang membuat “Drifting” menarik? Film yang mengangkat kisah ketimpangan sosial dan eksploitasi kemiskinan ini bukan hanya menyoroti kehidupan tunawisma dari permukaan saja, tetapi mampu menyelami perasaan sekelompok orang yang selalu terpinggirkan dari hingar bingar kota besar.

True Story tentang Gugatan Kelompok Tunawisma pada Pemerintah Kota

Kisah “Drifting” bermula pada tokoh bernama Fai (Francis Ng) yang baru keluar dari penjara setelah dihukum karena kasus penyalahgunaan narkoba. Sebagai orang yang pernah tinggal di jalanan, Fai kembali berkumpul dengan kelompok tunawisma yang sudah seperti keluarga baginya, yaitu Muk (Will Or), Master (Tse Kwan-Ho), dan beberapa kawan lainnya.

Namun, masalah datang saat petugas kepolisian melakukan operasi pembersihan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sehingga semua harta benda kepunyaan mereka harus berpindah tempat ke mobil sampah.

Dengan bantuan seorang pekerja sosial bernama Ms Ho (Cecilia Choi), sekelompok gelandangan ini mengajukan gugatan kepada pemerintah kota karena sudah bertindak diluar prosedur yang berlaku.

Disaat semua anggota kelompoknya mengharapkan penyelesaian berupa ganti rugi keuangan, Fai tidak pernah menyerah melindungi martabatnya dan bersikeras menerima permintaan maaf dari pihak yang dianggapnya bersalah.

Kasus hukum dalam film “Drifting” ternyata disadur dari kisah nyata yang pernah ditemukan oleh sang sutradara, Jun Li saat ia masih menempuh pendidikan jurnalisme. Kasus pengadilan ini mencapai penyelesaian pada tahun 2012 dengan kemenangan para tunawisma, ditandai dengan ganti rugi yang diberikan oleh pemerintah.

Namun, pihak pemerintah tetap menolak untuk menyampaikan permohonan maaf atas aksi pengusiran pada para tunawisma, seperti apa yang diinginkan oleh tokoh Fai.

Film yang Menyabet 12 Nominasi Golden Horse Awards ke-57

Pada pagelaran Golden Horse Awards ke-57, film “Drifting” berhasil masuk dalam 12 kategori nominasi. Diantaranya adalah nominasi Best Narrative Feature, Best Director untuk Jun Li, Best Leading Actor untuk Francis Ng, dan Best Supporting Actor untuk Tse Kwan Ho yang memerankan tokoh Master.

“Drifting” memantapkan prestasinya dengan membawa pulang piala Golden Horse Awards ke-57 untuk kategori Best Adapted Screenplay. Kemenangan yang ditujukan pada sang sutradara, Jun Li ini sangat pantas, mengingat bagaimana sutradara yang masih berumur 31 tahun ini, mampu menangkap fenomena sosial yang kompleks dengan sangat jeli.

Dari mulai potret kesenjangan sosial, kedalaman perasaan orang-orang terpinggirkan, hingga praktek eksploitasi kemiskinan atau poverty porn yang digambarkan dengan sangat frontal melalui pengadeganan niat baik orang-orang yang tidak selamanya bisa menolong nasib sial yang dialami kaum marjinal.

Menyoroti Ketimpangan Sosial di Hong Kong dan Kesetaraan Martabat Manusia

Bukan hanya meyelami proses keadilan hukum antara si miskin dan penguasa yang menjadi fokus utama di film ini, “Drifting” juga berani menggiring penonton untuk memaknai nilai-nilai moral yang sejatinya dimiliki oleh semua orang, tidak terkecuali para gelandangan yang tidak memiliki tempat menetap.

Kemiskinan mereka hanya menunjukkan ketidakmampuan finansial untuk menjalani hidup layak. Bukan berarti mereka tidak memiliki harga diri dan kehormatan seperti manusia lain pada umumnya. Begitulah narasi tersirat yang coba dibawakan oleh “Drifting”.

Film dengan durasi 112 menit ini menyoroti keteguhan hati manusia melalui karakter Fai, yang bersikeras tidak ingin menukar penghinaan yang dialaminya hanya dengan ganti rugi berupa uang. Dia mencoba meneguhkan nilai moral yang menjadi satu-satunya harkat dan martabat yang dimilikinya.

Gagasan seperti itulah yang mungkin ingin disampaikan “Drifting”, bahwa harga diri manusia tidak bisa dibeli dengan uang. Hal ini mengingatkan pada satu adegan dimana Fai dan Muk mengencingi kondominium dari atas alat berat konstruksi. Hal tersebut bisa dianalogikan sebagai bentuk protes dan kekecewaan kelas bawah yang kehilangan tempat tinggalnya karena pembangunan-pembangunan raksasa yang ditujukan untuk kaum elit.

Jika ditarik kesimpulan, “Drifting” merupakan sebuah film yang sarat akan kritik sosial dan bentuk perlawanan untuk pemerintah karena menjalankan kebijakannya dengan sembrono. Film yang juga dibintangi oleh Gardner Tse, Loletta Lee, dan Cecilia Choi ini mampu menembus realitas kehidupan lapisan masyarakat kelas bawah, khususnya kaum tunawisma yang tinggal di Sham Shui Po, sebuah distrik di Hong Kong yang memiliki pendapatan paling rendah.

Yaya Badriya

Contributor of Cultura Magazine. Sometimes I plant words and make them grow.

Share
Published by
Yaya Badriya