Connect with us
Dear Ex Review
Netflix

Film

Dear Ex Review: Kisah Tentang Keluarga Disfungsional

Sebuah film bergenre komedi-drama dari Taiwan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Dear Ex merupakan sebuah film original Netflix Taiwan yang dirilis pada tahun 2018. Film ini disutradarai oleh Mag Hsu dan Hsu Chih-yen. Dear Ex berhasil memenangkan empat kategori dalam Taipei Film Awards ke-20, salah satunya adalah kategori Best Narrative Feature Film.

Jika dilihat dari trailernya, kita dapat langsung mengetahui tema utama dalam film ini, yaitu tema LGBTQ. Mungkin tema ini sudah bukan hal asing lagi dalam dunia perfilman di Amerika Serikat atau di Eropa. Namun, tema tersebut masih jarang diangkat dalam film Asia. Dear Ex menyajikan sebuah cerita mengenai tabunya perbedaan orientasi seksual di Taiwan.

Dear Ex Netflix

Netflix

Film yang Mampu Menghangatkan Sekaligus Mematahkan Hati

Dear Ex dimulai dengan sebuah narasi dari seorang anak laki-laki berumur 13 tahun bernama Cheng-hsi (Joseph Huang). Dalam narasinya, Cheng-hsi menceritakan bahwa ayahnya, yaitu Cheng-yuan (Spark Cheng) baru saja meninggal karena kanker dan ia sudah lama mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang gay.

Kenyataan tentang orientasi seksual ayahnya selalu ditutup-tutupi oleh sang ibu, yaitu San-lien (Hsieh Ying-hsuan). San-lien tidak pernah memberitahu Cheng-hsi alasan sebenarnya sang suami meninggalkan mereka, sehingga Cheng-hsi belum pernah bertemu langsung dengan laki-laki simpanan sang ayah.

Sampai saat 95 hari setelah kematian Cheng-yuan, San-lien baru mengetahui bahwa anaknya bukanlah ahli waris dari sang suami. Ternyata seluruh warisan jatuh ke tangan seorang laki-laki bernama Ah Jie (Roy Chiu) yang tidak lain adalah pacar Cheng-yuan.

Kabar tesebut membuah San-lien sangat marah. Ia membawa Cheng-hsi datang ke apartemen milik Jie untuk menuntut keadilan. Saat itulah pertama kalinya Cheng-hsi melihat langsung sosok laki-laki yang membuat ayahnya meninggalkan anak dan istrinya.

Dear Ex Netflix

Netflix

Kisah dalam film ini diceritakan secara tidak langsung oleh Cheng-hsi melalui narasinya. Kita diajak untuk mengenali setiap karakter dalam film ini lewat sudut pandang Cheng-hsi. Karakter utama yang ia ceritakan adalah ibunya sendiri. San-lien diceritakan sebagai ibu yang bawel, penuh drama, dan selalu memiliki suasana hati yang buruk. Tinggal berdua saja dengan ibunya memberikan tekanan batin tersendiri bagi Cheng-hsi.

Karakter lain yang diceritakan oleh Cheng-hsi adalah pacar laki-laki ayahnya, yaitu Ah Jie. Saat pertama kali mengenal Jie, Cheng-hsi sempat penasaran mengapa ayahnya bisa jatuh ke tangan seorang lelaki berpenampilan berandalan seperti Jie. Namun, pandangannya terhadap Jie berubah saat ia memutuskan untuk kabur dari ibunya yang menyebalkan dan tinggal bersama Jie.

Walaupun memiliki genre komedi-drama, namun film ini ternyata memiliki unsur komedi yang tidak terlalu banyak. Bahkan Dear Ex bisa dimasukan ke dalam kategori film tear-jearking. Banyak sekali adegan dalam film ini yang mampu membuat penonton berkaca-kaca, bahkan sampai menangis. Secara keseluruhan, film ini menceritakan bagaimana usaha setiap karakter untuk mengikhlaskan dan menerima setiap kenyataan dalam hidup mereka.

Dibintangi oleh Aktris dan Aktor dengan Kualitas Akting yang Menawan

Karakter San-lien mungkin merupaka karakter yang akan otomatis kita benci diawal film ini. San-lien merupakan ibu yang senang mengekang anaknya dan sulit mengatur emosinya. Namun, sebenarnya ia hanyalah seorang wanita yang hidup dengan penuh tekanan. Kenyataan bahwa suami yang sangat ia cintai berselingkuh dengan Ah Jie merupakan sebuah fakta yang sulit diterima oleh San-lien.

Di sisi lain, Ah Jie merupakan karakter yang digambarkan selalu santai dan terlihat tanpa beban. Jie adalah seorang sutradara dan aktor teater. Ia mampu menyembunyikan perasaan sedihnya di depan rekan kerjanya. Jie tidak pernah mengakui bahwa dirinya adalah seorang gay pada ibunya karena ia takut akan menjadi anak yang mengecewakan. Namun, rasa cintanya yang besar pada Cheng-yuan membuatnya tetap menjalin hubungan. Jie sulit untuk menerima kenyataan bahwa sang kekasih telah tiada.

Hsieh Ying-hsuan dan Roy Chiu mampu memerankan dua karakter kompleks ini dengan sangat baik. Perselisihan antara San-lien dan Ah Jie terasa sangat nyata dan penonton mampu merasakan luapan emosi dari kedua karakter tersebut. Bukanlah sesuatu yang mengherankan ketika mereka berdua memenangkan kategori Best Leading Actor dan Actress di Taipei Film Awards ke-20.

Selain kualitas akting para pemainnya, film ini juga memberikan kualitas sinematografi yang baik. Beberapa adegan memperlihatkan uniknya transisi latar waktu masa lalu dan masa kini. Contohnya adalah saat Jie bermain gitar dengan latar waktu masa kini, namun tiba-tiba berubah menjadi latar masa lalu, yaitu saat kekasihnya yang telah tiada mengajarkan Jie cara bermain gitar dengan baik.

Secara keseluruhan, Dear Ex merupakan sebuah film yang sangat direkomendasikan untuk ditonton. Alur cerita yang mudah diikuti dan kualitas para pemain yang mampu meluapkan emosi penonton sangat cocok dinikmati jika sedang ingin menikmati film tear-jerking.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect