Connect with us
made in dagendham
Made in Dagenham (2010)

Cultura Lists

Daftar Film Pilihan di Hari Buruh

Kita semua adalah buruh. Titel pekerja kantoran ataupun buruh kasar hanya propaganda pecah belah semata.

1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh atau May Day. Buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Begitu kira-kira definisi buruh berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2003. Artinya kita semua adalah buruh, tak peduli di mana tempat kita bekerja. Apakah dengan setelan parlente di dalam ruangan ber-AC atau di dalam pabrik kumuh dengan sirkulasi udara buruk, kita semua adalah buruh. Pekerja kantoran, eksekutif muda, apapun istilah yang dilekatkan pada jabatan atau pangkat kita, tidak mengubah kenyataan mengenai identitas kita.

Untuk merayakan hari buruh, berikut adalah daftar film mengenai buruh yang dapat dinikmati. Sebagian film menggambarkan perjuangan kaum buruh mendapatkan hak-haknya. Sebagian film lain mengambil setting dunia buruh dari sudut pandang lebih ceria dan ringan.

Suffragette

Ada nama-nama besar yang tampil dalam film ini. Sebut saja Carey Mulligan, Helena Bonham Carter, hingga Meryl Streep. Jajaran aktrisnya saja sudah membuat kita yakin bahwa film ini akan menjadi sangat keren. Alkisah Carey Mulligan alias Maud Watts adalah buruh cuci (alias laundry) yang bekerja di iklim yang sangat tidak kondusif. Perbedaan upah, tidak ada hak pilih ketika pemilu, sampai pelecehan seksual. Meski film ini menggambarkan keadaan di zaman dahulu, perlu digarisbawahi bahwa kondisi buruh perempuan hingga saat ini masih rentan. Buruh perempuan di masa kini masih menghadapi upah tak layak dan pelecehan, bahkan perkosaan.

Singkat cerita Maud ikut bergabung dalam gerakan Suffragette. Gerakan ini nyata adanya begitu pula potret beberapa tokohnya. Meski demikian Maud sendiri adalah tokoh fiksional. Meryl Streep memerankan Emmeline Pankhurst, pendiri Persatuan Politik dan Sosial Perempuan pada 1903. Ia beberapa kali dipenjara atas perjuangannya. Ia juga mendukung aksi militan dalam perjuangan pergerakan perempuan. Kita akan melihat aksi nekat Helenam Bonham Carter (Edith Ellyn) sebagai salah satu contohnya. Hal inilah yang menjadi kritikan bagi penonton film Suffragette dari kalangan antifeminis.

Ada pula hal lain yang nyata yaitu aksi dari Emily Wilding Davison. Perjuangannya untuk hak-hak perempuan membuatnya dipenjara berkali-kali. Ia juga mogok makan, hingga melakukan aksi bunuh diri dengan jalan di lintasan kuda milik Raja George V di Epsom Derby pada 1913. Aksinya inilah yang membuahkan sorotan media terhadap gerakan Suffragette.

Made in Dagenham

Seharusnya tidak ada perbedaan upah baik di antara buruh lelaki maupun perempuan. Pekerjaannya sama, jam kerjanya sama, seharusnya tak ada pembeda. Namun ternyata ada kebijakan semacam ini. Apalagi kalau bukan karena top manajemennya diduduki para lelaki yang menganggap perempuan tidak sepantasnya digaji setara. Berbeda dengan Suffragette yang lebih gelap dan suram, Made in Dagenham hadir lebih berwarna. Perjuangan tidak digambarkan dengan air mata. Tetapi seorang perempuan yang tampil kuat, independen, dan tersenyum lebar.

Tokoh utamanya adalah Rita O’Grady yang diperankan sangat apik oleh Sally Hawkins. Kita dapat melihat akting menawannya dalam Paddington maupun Shape of Water. Sally selalu punya sisi di mana kita merasa ia ceria, komedik, sekaligus bahagia. Meski sebenarnya ini film tentang perjuangan buruh dan perempuan, kita tidak merasa ini adalah konten yang berat. Sally membuat kita berpikir ini adalah topik yang ringan. Ia bekerja di Ford Dagenham, salah satu anak perusahaan dari perusahaan mobil Ford di Inggris. Pekerjaannya adalah menjahit sarung jok mobil. Kondisi pabrik yang panas membuatnya sampai harus membuka pakaian dalam.

Pada film ini, Rita sebagai seorang buruh perempuan maupun aktivis tidak bergerak sendirian. Ada pula lelaki yang mendukungnya yaitu Albert Passingham. Albert menyadari bahwa perbedaan upah adalah hal yang tidak manusiawi. Rita juga bicara di televisi mengenai perjuangannya. Bagusnya lagi Rita juga mendapat dukungan dari politisi perempuan maupun buruh lain. Salah satu bentuk mogok kerja mereka juga cukup berani, dengan membuka pakaian dan menuliskan “Equal Pay” di kulit perutnya.

The Intern

Film ini tidak menggambarkan perjuangan kaum buruh melainkan bagaimana pekerja dengan kelas usia berbeda beradaptasi satu sama lain. Filmnya sendiri cukup ceria dan menyenangkan untuk ditonton di waktu luang. Seperti judulnya, The Intern (2015), film ini fokus pada kisah seorang magang. Bukan mahasiswa, bukan pula anak sekolah, melainkan lansia berkharisma bernama Ben Whittaker yang diperankan Robert De Niro.

Sepeninggal sang istri, Ben merasa kesepian. Ia memutuskan untuk magang di sebuah perusahaan fashion online. Karena sudah tua dan masih menganut gaya jadul, ia pergi bekerja membawa koper. Sangat old school. Ia juga selalu membawa sapu tangan karena menurutnya, itu digunakan para gentleman untuk menghapus air mata perempuan. perbedaan usia ini juga membuat Ben harus beradaptasi dari nol, termasuk memiliki bos perempuan yang lebih muda seperti Jules Ostin (Anne Hathaway).

Hubungan Ben dan Jules menjadi sangat unik. Jules yang memiliki bawahan orang tua dan Ben yang pada zamannya dulu tentulah tidak terpikir untuk dipimpin perempuan. apalagi Jules adalah kepala keluarga karena suaminya adalah bapak rumah tangga. Apalagi ketika Ben tahu rahasia dalam rumah tangga Jules, ia menjadi lebih bersimpati lagi. Akting Robert dan Anne memang tak perlu diragukan lagi. Keduanya mampu membangun chemistry dengan sangat baik dan hangat.

Click to comment

Leave a Comment

Connect