Connect with us
Oscilloscope Laboratories

Film

Clementine Review: Kisah Romantis yang Manipulatif

Kisah drama romantis Karen dan Lana yang dibalut dengan unsur thriller.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Clementine merupakan sebuah film bergenre drama romantis yang dirilis pada bulan Mei lalu. Lara Jean Gallagher menulis naskah sekaligus menyutradari film ini. Clementine bercerita tentang kisah cinta dua perempuan yang dikhianati dengan nafsu dan kepalsuan. Dibumbui dengan unsur thriller, film drama ini memiliki keunikannya tersendiri.

Otmara Marrero muncul sebagai pemeran utama dalam Clementine. Lawan mainnya kali ini adalah aktris yang sedang naik daun, yaitu Sydney Sweeney. Kombinasi akting keduanya merupakan aspek yang paling mencolok dalam film ini. Keduanya melengkapi jalan cerita Clementine yang sangat menarik.

CLEMENTINE

Oscilloscope Laboratories

Berawal dari Sebuah Kisah Cinta yang Berakhir Traumatis

Film dibuka dengan kisah seorang perempuan yang baru saja mengakhiri sebuah hubungan dengan pacarnya. Karen (Otmara Marrero) tidak menyangka bahwa kisah cintanya dengan sang mantan akan berakhir dengan sangat menyakitkan. Kenyataan yang menimpanya membuat Karen kehilangan motivasi dalam menjalani hidup.

Satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Karen adalah pergi dari Los Angeles demi melupakan masalah yang menimpanya. Ia memilih untuk menghabiskan waktu di Oregon, tepatnya di sebuah vila pinggir danau milik mantan kekasihnya. Alih-alih melupakan mantan, Karen malahan lebih sering mengingat memori manis yang pernah terjadi di vila itu.

Sampai akhirnya seorang gadis misterius muncul di daerah vila. Gadis itu bernama Lana (Sydney Sweeney) dan masih berumur 19 tahun. Muda, cantik, dan lugu adalah kata-kata yang cocok untuk mendeskripsikan Lana. Pesona Lana seolah-olah menyihir Karen. Seketika ia melupakan kesedihannya dan kembali merasakan perasaan cinta yang sebelumnya telah kandas.

Dengan segala bujuk, rayu, dan kata-kata manis, akhirnya Lana membuka hati untuk Karen. Ia kagum dengan cerita-cerita Karen dan menginginkan kehidupan orang dewasa yang sama seperti ia rasakan di Los Angeles. Namun, keduanya mulai merasakan kejanggalan yang muncul pada hubungan mereka. Apakah mereka benar-benar jatuh cinta?

Sinematografi yang Memukau

Sebuah pertanyaan muncul ketika menyaksikan film ini. Penonton dibuat bingung dengan genre yang digunakan dalam film Clementine. Sang sutradara, Lara Gallagher, menyebutkan bahwa genre film ini adalah drama romantis. Namun, sinematografi dalam film ini seolah-olah menunjukkan genre yang berbeda.

Clementine Review

Oscilloscope Laboratories

Sinematografer Andres Karu membuat film Clementine seolah-olah bergenre horror. Latar tempat Oregon yang ditumbuhi oleh pohon-pohon pinus membuat atmosfer film ini menjadi terasa gelap dan sepi. Seringnya gambar yang diambil dari sisi belakang tokoh menambah rasa waspada bagi penonton, padahal sama sekali tidak ada jumpscare yang ditampilkan dalam film ini.

Atmosfer gelap dan misterius perlahan-lahan berkurang seiring dengan penonton yang telah beradaptasi dengan gaya sinematografi yang dipakai dalam film ini. Salah satu adegan paling berkesan adalah saat Karen dan Lara menghabiskan waktu di pinggir danau. Perpaduan danau yang misterius dengan langit yang cerah mengingatkan pada keindahan sinematografi film Call Me By Your Name (2017).

Selain sinematografinya, karakter-karakter dalam film ini juga memiliki sisi misterius yang membuat penonton semakin penasaran. Karakter Lana yang lugu dan jarang berekspresi sukses dibawakan oleh Sweeney. Di sisi lain, Otmara Marrero terasa sedikit kaku dan canggung saat memerankan karakter Karen, sehingga karakternya tidak mampu memberikan kesan yang kuat bagi penonton.

Bagi para penggemar film drama romantis dan juga film thriller, sepertinya Clementine merupakan film yang layak untuk dinikmati. Kombinasi kisah manis, namun misterius merupakan poin utama dari film ini. Cerita yang bagus, plot yang rapi, serta sinematografi yang menarik membuat Clementine menjadi film yang direkomendasikan untuk ditonton di tahun ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect