Connect with us
vlogger indonesia youtuber
Photo via amap-production.com

Entertainment

Celebrity Vlogs: Hiburan Merangkap Perisai

Sebagai manusia, bahkan selebriti juga berhak memegang kendali atas nasibnya.

Ketika seorang pesohor (entah itu aktor atau penyanyi atau sosialita) memutuskan untuk meluncurkan vlog, selalu ada perasaan ngeri-ngeri sedap di hati publik alias netizen. Di satu sisi, kita ingin melihat konten seperti apa yang akan mereka hadirkan. Di sisi lain kita tidak niat untuk menonton vlog mereka. Selalu ada faktor skeptisisme (dan bahkan faktor cemburu) yang mengambil alih persepsi kita.

Memang patut diakui, tidak ada yang lebih menjengkelkan selain melihat selebriti memamerkan gaya hidup ke-selebriti-an mereka di depan publik–apalagi di Internet. Akan tetapi, bila melihat jumlah views dan subscriber yang berhasil dituai oleh celebrity vlogs ini (khususnya di Indonesia), kita juga harus mengakui bahwa “supply” tidak akan ada bila tidak ada “demand”.

Bila kita diberi kesempatan untuk melihat isi rumah Raffi dan Nagita, tidakkah kita setidaknya penasaran? Kita selalu mencari hiburan yang orisinil dan tidak biasa. Bagaimana dengan hiburan berbentuk klip YouTube yang berjudul “BERKREASI SAAT LOCKDOWN, PENGHUNI ISTANA CINERE UNJUK BAKAT” oleh keluarga Anang Hermansyah? Bukankah itu cukup ‘tidak biasa’?

Terlepas dari itu, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk menjadi dewasa dan menyikapi tren “celebrity vlogs” ini dengan kacamata yang lebih kritis. Menarik popularitas dan menarik lebih banyak sponsor turut menjadi alasan mengapa para pesohor ikut ‘sambilan’ menjadi Youtuber. Apa salahnya? Selama halal, setiap insan manusia memiliki kebutuhan untuk mencari nafkah. Akan tetapi, terdapat beberapa alasan lainnya yang menjelaskan mengapa “celebrity vlogs” justru adalah (kejutan!) sesuatu yang positif.

“Positif”? Benarkah? Sebelum kita lanjutkan lebih dalam, mohon dicamkan terlebih dahulu fakta yang satu ini: bahwa pada akhirnya, selebriti juga adalah manusia.

Marshanda youtube

Via YouTube/MARSHED

Menghentikan Penghakiman Publik

Bila kita melihat ke belakang sejenak, rasa-rasanya tidak ada yang bercita-cita menjadi selebriti di era 2000-an yang lalu. Kala itu, status ‘selebriti’ diberikan kepada public figure yang sedang mengalami musibah. Tentu saja, sudah menjadi naluri termentah manusia (dan awak media) untuk merayakan tragedi seseorang dan bukannya prestasi mereka.

Sempat berkibar era ketika Reza Artamevia malah terkenal sebagai janda bercerai dan bukannya diva paling sukses di era Milenium. Bukannya dikagumi sebagai aktris muda paling berbakat di generasinya, Marshanda malah disorot gara-gara penyakit bipolar yang dideritanya. Tentu saja, kala itu tidak ada seorang pun yang ingin mempelajari apa sesungguhnya “bipolar”–apalagi host program gosip pagi.

Baca Juga: Membaca Keinginan Kita Dengan Algoritma

Karier seorang public figure sangat bergantung pada persepsi publik. Itu artinya, begitu publik memutuskan untuk menjatuhkan penghakiman (terlepas dari apakah penghakiman tersebut rasional atau tidak), itu sudah sama dengan vonis mati tanpa peluang naik banding. Akan tetapi, apabila kita hendak menjadikan persidangan sebagai metafora, bukankah itu artinya seharusnya para pesohor ini diberikan kesempatan untuk membela diri mereka?

Di era modern ini, selebriti memiliki perisai untuk membela diri mereka. Sedikit buah bibir saja terdengar, kini selebriti tinggal menyalakan kamera handphone dan menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya. Tidak ada lagi middlemen seperti awak media atau burung pemangsa berkulit wartawan yang berniat memanipulasi kesaksian mereka–karena setiap kata disampaikan secara langsung dari mulut sang pesohor ke telinga publik.

Tentu, celebrity vlogs belum tentu berhasil menyamakan persepsi antara selebriti dan masyarakat publik. Namun setidaknya, kini arena pertempuran menjadi lebih adil. Strategi ini pun terbukti berhasil. Program infotainment di stasiun televisi malah lebih sering merangkum konten celebrity vlog yang sedang populer daripada mengulas (atau menciptakan) buah bibir yang tak berdasar.

Sebagai manusia, bahkan selebriti juga berhak memegang kendali atas nasibnya.

Sumber Edukasi yang Tidak Disangka-sangka

Di balik sosok yang (kelihatannya) sempurna, kita sering melupakan bahwa selebriti mencicipi manis pahit kehidupan yang justru lebih keras bila dibandingkan dengan ‘orang biasa’.

Pertama, selebriti tidak memiliki yang namanya job security–fasilitas lumrah yang bahkan dimiliki oleh seorang satpam. Kedua, seluruh gerak-gerik mereka (termasuk kesalahan dan kekurangan mereka) selalu menjadi bahan observasi yang tidak masuk akal. Seperti pepatah klasik: “we are what people perceive us to be”. Ketiga, pesohor sulit membedakan siapa itu kawan sejati dan siapa yang hanyalah seorang oportunis. Sering kali mereka malah menjadi korban kebohongan orang kepercayaan mereka–termasuk di antaranya pasangan mereka sendiri.

Baca Juga: Rekomendasi Saluran YouTube Ramah Anak

Belakangan ini, mulai bermunculan konten celebrity vlogs yang justru menceritakan kesulitan hidup selebriti yang tidak pernah dipublikasikan sebelumnya. Mulai dari kemiskinan, menjadi korban penipuan, dan bahkan keguguran, kita memasuki era ketika para pesohor ini telah muak berpura-pura menjadi sempurna dan memutuskan untuk tampil apa adanya. Mungkin ini sulit buat dipercaya, tapi bahkan selebriti juga perlu yang namanya “curhat”.

Netizen yang skeptis mungkin akan berpendapat bahwa konten seperti ini hanya sekadar untuk menarik rasa iba dan simpati. Akan tetapi, netizen yang pernah mengalami keguguran pasti akan mengapresiasi. Manusia biasa belum tentu memiliki keberanian untuk mengungkapkan sisi gelap kehidupan mereka.

Pelajaran Paling Berharga: Pada Akhirnya, Selalu Ada Pilihan

Konsep “popularitas” telah berevolusi sepanjang dua puluh tahun terakhir. Pada zaman dahulu, popularitas menjadi berkah. Di era modern ini, popularitas adalah pilihan. Seorang public figure kini memiliki pilihan untuk menjadi low profile atau sebaliknya, mengkapitalisasikan popularitasnya menjadi sesuatu yang lebih. Ini bukanlah narsisme, melainkan strategi bisnis.

Baca Juga: Ironi Isu Kesehatan Mental: Harus Ada Korban Dulu

Sebagai contoh, Atta Halilintar tidak beroleh predikat “The King of Youtube” hanya karena dia rajin mengunggah vlog hidupnya. Faktanya, dia telah berhasil menyulap hobi vlogging menjadi bisnis yang terbukti lukratif, relevan, dan trendsetting. Terlepas dari nyinyiran netizen, dominasi Ria Ricis di ranah Youtube menjadi kisah sukses female empowerment bagi kaum hawa remaja. Semua itu adalah prestasi yang patut diacungi jempol.

Di sisi lain, publik juga memiliki pilihan: antara kita memutuskan untuk menonton (dan bahkan men-subscribe) atau tidak. Inilah yang dimaksud dengan keseimbangan. Kita memiliki pilihan untuk mengganti channel dan mencari hiburan yang lain. Gosip seputar selebriti tidak lagi menjadi satu-satunya topik yang bisa dibahas bersama keluarga atau teman sekantor. We can talk about something else.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect