Connect with us
Boston Strangler Review
Cr. Hulu/20th Century Studios

Film

Boston Strangler Review: Kisah Loretta McLaughlin Melawan Stigma Jurnalis Perempuan

Adaptasi kasus pembunuhan berantai dari sudut pandang investigasi jurnalis Loretta McLaughlin.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pada 1960an, 13 wanita terbunuh di Boston, Amerika Serikat. Menduga ada kesamaan dari kasus pembunuhan tersebut, Loretta Laughlin menjadi jurnalis pertama yang menulis kasus tentang Boston Strangler di koran Boston Record American.

“Boston Strangler” merupakan film biopik yang diangkat dari kasus pembunuhan sungguhan di Boston pada 1962. Dimana dua jurnalis wanita, Loretta Laughlin (Keira Knightley) dan Jean Cole (Carrie Coon) mendapat izin untuk melakukan investigasi sebagai berita utama di Boston Record.

Film arahan sutradara Matt Ruskin ini mengadaptasi materi kriminal nyata namun dari perspektif jurnalistik. Cukup serupa dengan film “Zodiac” yang juga diangkat dari kasus pembunuhan berantai oleh Zodiac Killer pada akhir 1960an di California Utara.

Selain memiliki plot investigasi kriminal, dengan Loretta sebagai tokoh utama, film ini juga menyinggung dunia jurnalistik pada masanya yang sexist. “Boston Strangler” tersedia untuk di-streaming di Disney+ Hotstar.

Boston Strangler Review

 

Adaptasi Kasus Boston Strangler dari Sudut Pandang Jurnalistik

Ini bukan pertama kalinya kasus Boston Strangler diangkat menjadi film. “The Boston Strangler” merupakan film adaptasi kriminal nyata pada 1968 yang disutradarai oleh Richard Fleischer. Film adaptasi tersebut disajikan melalui perspektif Albert DeSalvo (Tony Curtis) sebagai tersangka.

Film ini sebetulnya sampai diproduksi karena kepopuleran berita dari koran Boston Record yang ditulis oleh Loretta. Namun, “The Boston Strangler” merupakan film yang terlihat seakan memihak bahkan bersimpati pada tersangka. Belum lagi konten kekerasan dan kebrutalan yang ditampilkan secara eksplisit pada film ini. Bisa dibilang sangat tidak sensitif dengan perasaan keluarga 13 wanita yang menjadi korban.

Oleh karena alasan ini, “Boston Strangler” bisa digolongkan sebagai adaptasi yang lebih baik. Pertama, karena tidak mengeksploitasi wanita-wanita yang menjadi korban dalam visual brutal. Kedua, karena mengambil sudut pandang jurnalistik yang lebih terlihat etis dan mendalam. Mengajak kita memahami kasus kriminal secara kronologis, mencari kebenaran cerita. Namun tidak penasaran dengan bagaimana pelaku memperlakukan korban-korbannya dengan brutal.

“The Boston Strangler” juga tidak bisa dibilang akurat, karena kasus ini kurang lebih sama dengan kasus Zodiac Killer. “Boston Strangler” memilih untuk setia pada fakta dan kebenaran, meskipun artinya penonton akan mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Boston Strangler Review

Stigma Jurnalis Wanita di Amerika Serikat pada Era 1960an

Selain pemahaman kasus kriminal melalui investigasi jurnalistik yang lebih etis, “Boston Strangler” juga angkat konflik lain dalam naskahnya melalui kehadiran Loretta Laughlin. Seorang jurnalis wanita yang tidak puas hanya dengan menulis artikel gaya hidup dan mengulas produk rumah tangga untuk pembaca wanita pada umumnya. Setelah menemukan tiga artikel tentang wanita yang meninggal dengan dicekik menggunakan stocking, ia mengajukan ijin untuk melakukan investigasi kriminal pada editor-nya.

Loretta sempat menerima penolakan karena hanya jurnalis pria yang biasanya melakukan investigasi dan menulis kasus kriminal. Hingga akhirnya ia mendapatkan dukungan setelah berhasil menemukan bahan berita awal. Meski akhirnya berhasil merilis berita kriminal pertama dan menggemparkan kota, Loretta masih menerima opini sexist karena ia wanita yang dianggap tidak memahami dunia kriminal, bagaimana cara kerja seorang polisi.

Ini mengapa “Boston Strangler” menjadi adaptasi kriminal nyata yang memiliki pesan tepat sasaran dalam naskahnya. Tidak sekadar mengeksploitasi konten true crime yang belakangan lagi trending dengan alasan yang salah.

Ketika Polisi Mencari Pelaku, Jurnalis Mencari Kebenaran

Melalui karakter Loretta Laughlin dan Jea Cole kita bisa melihat perbandingan yang menarik antara pihak kepolisian dengan jurnalis dalam melakukan investigasi kasus kriminal. Hal ini juga menjadi salah satu isu sosial yang akhirnya menimbulkan pembahasan dalam film ini.

Dalam setiap peristiwa kriminal dengan tersangka yang belum dipastikan, polisi dan masyarakat pada umumnya hanya ingin teror tersebut berakhir. Polisi butuh pelaku untuk diserahkan ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman penjara. Lalu ketika tersangka diumumkan telah ditangkap, maka masyarakat umum akan merasa aman.

Disinilah jurnalisme menuntut dan menawarkan sesuatu yang lebih, yaitu kebenaran. “Boston Strangler” memilih untuk menyampaikan kisah yang sesungguhnya melalui tokoh Loretta, sementara film seperti “The Boston Strangler” hanya ingin mengeksploitasi konten kriminal untuk penonton umum.

Lantas siapa yang membutuhkan kebenaran? Keluarga korban menjadi korban terbesar dalam peristiwa seperti ini. Mereka yang membutuhkan kebenaran untuk akhirnya mengikhlaskan kepergian orang tercinta dan melanjutkan hidup. Di situlah mulianya ketika seorang jurnalis menulis berita kriminal dengan tujuan yang benar.

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Monkey Man Review Monkey Man Review

Monkey Man Review: Bukan John Wick Versi India

Film

The First Omen The First Omen

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Film

Connect