Connect with us
Australia Tourism
big brother review

Film

Big Brother Review: Pesan Dalam Yang Dicemari Oleh Plot Klise

Donnie Yen mengambil peran sedikit berbeda yaitu sebagai mantan tentara yang beralih profesi menjadi seorang guru.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Donnie Yen merupakan salah satu aktor laga asal Cina yang paling populer saat ini. Lewat karakter Ip Man, Donnie Yen membuktikan kemampuannya baik dengan koreografi apik dalam adegan aksi hingga kemampuan berakting dalam adegan tanpa aksi yang lebih serius. Pada tahun 2018 kemarin, Donnie Yen mengambil peran sedikit berbeda dalam film drama komedi berjudul Big Brother. Film ini bercerita tentang seorang pria bernama Chan Hak seorang mantan tentara yang mendadak merubah arah profesi menjadi guru di Sekolah Menengah Atas Tak Chi. Profesi barunya ini terbukti menjadi ujian sulit yang menciptakan berbagai drama, komedi, bahkan aksi yang membuat film Big Brother menjadi menarik.

Dari segi plot ada rasa nostalgia yang mengingatkan penonton pada film Trouble Maker tahun 1995 yang dimainkan oleh Ng Man Tat dan Steven Hao atau yang biasa lebih dikenal di Indonesia dengan nama Bo Bo Ho. Karakter Mr. Chan dan Ta Shu (Ng Man Tat) sama-sama menjadi guru di sebuah kelas yang berisi kumpulan anak berandal. Kedua film sama-sama memiliki adegan dimana para murid berusaha memberikan jebakan kepada guru wali kelas mereka tersebut. Bedanya film Trouble Maker lebih memberikan emphasis pada genre comedy jika dibandingkan dengan Big Brother yang berusaha lebih serius.

Big Brother membahas berbagai masalah keluarga yang terbukti sangat dekat dan relatable dengan masalah umum yang sering terjadi disekitar kita. Lewat berbagai latar belakang karakter siswa di SMA Tak Chi masalah-masalah sensitif diangkat dan dicari solusinya. Dari karakter saudara kembar Bruce dan Chris, penonton dapat melihat sisi kelam dari keluarga broken home dimana korban utamanya sebetulnya adalah anak dari keluarga itu sendiri. Masalah budaya Timur yang lebih mementingkan anak laki-laki daripada perempuan juga dibahas lewat karakter siswi tomboy bernama Gladys. Tidak hanya masalah keluarga saja, Big Brother bahkan juga membahas masalah sosial, ekonomi dan rasisme sebagai wujud cerminan dunia realita tempat kita hidup.

Sepanjang film Mr. Chan karakter yang diperankan oleh Donnie Yen berusaha membantu kehidupan pribadi para siswa karena peduli terhadap masa depan bagi mereka. Sayangnya aksi Mr. Chan ini menciptakan salah satu kekurangan yang ada di film ini yaitu adegan atau scene yang terasa episodik dan tidak menyatu. Hubungan adegan satu dengan yang lainnya terasa tidak harmonis dan terpisah sehingga membuat penonton seakan menonton film yang berbeda-beda. Pesan yang ingin disampaikan terkadang terasa terlalu banyak dan tidak fokus. Sepertinya premise cerita yang diangkat oleh Big Brother lebih tepat untuk dijadikan serial daripada sebuah film.

Selain pesan yang terasa tidak fokus, tone dan genre yang ingin disampaikan oleh sutradara Ka-Wai Kam juga terasa membingungkan. Big Brother memang merupakan gabungan beberapa genre seperti aksi, drama dan komedi tetapi semua genre terasa sangat tanggung. Dengan kehadiran Donnie Yen adegan aksi di film ini seharusnya tidak dapat diragukan lagi. Namun, kegunaan adegan aksi bagi cerita di film ini terkesan dipaksakan dan terlalu mengada-ada. Banyak juga adegan menyentuh yang kembali mengingatkan penonton pada unsur drama di film ini tetapi sayangnya dampak yang diberikan tidak sama kuat. Adegan seperti pembicaraan Bruce dan Chris dengan sang ayah cukup menyentuh tetapi adegan ketika Bruce berusaha bunuh diri malah terasa canggung dan out of the place. Hal ini menyebabkan beberapa adegan terasa superior dan adegan lain terasa sangat biasa. Beberapa adegan komedi juga terasa terlalu over the top atau kelewat batas sehingga kurang dapat dinikmati. Salah satu adegan yang dapat menjadi contoh adalah saat Ms. Leung salah tingkah ketika berinteraksi dengan Mr. Chan lalu melempar botol sampai terkena langit-langit.

big brother review

Big Brother (2018)

Dari awal dimulainya film, penonton dengan mudah dapat menebak kira-kira apa jalan cerita pada babak kedua dan babak ketiga di film ini. Hal ini tidak lepas pada jalan cerita yang terlalu umum dan klise. Cerita dimana guru datang mengurus anak berandal, merubah hidup mereka, terlibat masalah yang dibuat oleh para siswa sehingga harus keluar dari sekolah lalu para siswa berusaha membuat guru favorit mereka kembali ke sekolah sudah sangat umum dan sering digunakan. Cerita yang klise terkadang membuat film terasa pointless dan tidak original. Cerita terasa tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi pada kehidupan nyata.

Hanya ada sebuah misteri yang membuat penonton terus penasaran dan tertarik mengikuti cerita yaitu apa sebenarnya alasan dari Mr. Chan seorang mantan tentara berubah menjadi seorang guru. Terungkap pada pertengahan babak kedua, alasan dari Mr. Chan bisa dibilang sangat mengecewakan. Mr. Chan merupakan seorang alumni sekolah Tak Chi yang terkenal sebagai anak paling nakal di sekolah tersebut. Konsep anak nakal bertobat lalu kembali ke sekolah menjadi guru tersebut bisa dibilang terlalu mengada-ada. Big Brother seakan menjadi kumpulan ide, pesan, genre yang digabungkan secara sembarangan menjadi satu lalu dibumbui dengan cerita dan plot yang klise. Penulis terkesan malas melakukan eksplorasi untuk membuat cerita yang berbeda dan terjebak pada plot klise. Sangat disayangkan, padahal beberapa masalah yang diangkat sangat relatable tetapi pemilihan cerita yang digunakan sangat tidak masuk akal untuk mendukung pesan yang ingin disampaikan.

Dalam film Big Brother, terdapat juga seorang karakter antagonis yang berusaha menghancurkan sekolah Tak Chi. Karakter tersebut bernama Ying Law, seorang pemimpin berandal yang berusaha agar sekolah Tak Chi dapat tutup dan terjual kepada atasannya. Dari deskripsi singkat mengenai karakter Ying Law kembali terlihat klise dari penggambaran karakter antagonis. Ying Law terasa sebagai karakter antagonist pada umumnya yang bersikap jahat tanpa alasan. Sebetulnya, penulis sudah berusaha memberikan ‘alasan’ lewat flashback masa kecil antara Mr. Chan dan Ying Law. Namun, sebagai poin yang merubah seorang anak normal berubah menjadi ‘supervillain’ momen tersebut terasa sangat lemah dan tidak logis jika dihubungkan dengan karakter Ying Law yang sekarang.

Sebagai sebuah tontonan santai terutama bagi penggemar Donnie Yen sepertinya film ini menjadi pilihan yang cocok. Dengan mengesampingkan berbagai klise dan mengambil pesan moral yang ingin disampaikan film Big Brother. Ada berbagai adegan luar biasa tetapi tidak sedikit adegan yang terasa sangat biasa. Plot yang tak harmonis dan terasa tidak menyatu sepertinya akan sangat dirasakan oleh penonton. Big Brother sebetulnya berpotensi memberikan sebuah cerita yang fun, menghibur dan sangat menyentuh tetapi kemalasan dalam menyusun sebuah cerita yang padat dan original harus dibayar mahal dengan kualitas akhir yang berada di antara batasan buruk dan cukup.

Click to comment

Leave a Comment

Dallas Buyers Club (2013) Dallas Buyers Club (2013)

Rekomendasi Film Tentang HIV/AIDS

Cultura Lists

bond 25 no time to die bond 25 no time to die

Bond 25: No Time To Die

Film

martin scorsese the irishman martin scorsese the irishman

Jangan Menonton The Irishman Melalui Smartphone!

Entertainment

the irishman review the irishman review

The Irishman Review: Kisah Pembunuh Bayaran dengan Storytelling yang Hangat

Film

Connect