Connect with us
limbah fashion
Photo by Artem Beliaikin from Pexels

Current Issue

Atas Nama Fashion, Kita Menumpuk Limbah

Industri tekstil dan pakaian termasuk pencemar terbesar lingkungan di dunia.

Pernah tidak, kita berpikir ada berapa banyak pakaian yang terlipat dan tergantung di dalam lemari kita? Berapa banyak dari pakaian-pakaian itu yang masih bisa kita gunakan dan berapa banyak yang sama sekali sudah tidak pernah dipakai?

Lalu, ada berapa banyak pakaian yang telah disumbangkan dengan harapan dapat berguna untuk orang lain (dan tentu saja, mengurangi tumpukan pakaian di lemari kita). Tapi, pernahkah kita menemukan fakta bahwa donasi baju (yang sering kali dalam jumlah yang besar) pada korban-korban bencana misalnya, tidak semua tersalurkan, yang mana sebagian mungkin didaur ulang, namun sebagian lagi dapat berakhir menjadi sampah?

Setiap orang tentu punya jawaban masing-masing untuk pertanyaan di atas. Namun tidak semua orang tahu dan sadar bahwa, semakin banyak pakaian yang tertumpuk, terlebih tidak digunakan berarti semakin besar pula potensi akan berakhir menjadi limbah.

limbah fashion

Photo by mentatdgt from Pexels

Masalah pakaian tidak hanya terletak pada muaranya (ketika tidak terpakai, lalu berakhir di tempat pembuangan akhir), melainkan juga pada proses di hulunya. Mulai dari pengolahan serat dasar, saat proses pembuatan pakaian, hingga proses pencuciannya mampu membuat karbon dioksida yang dihasilkan menjadi penyumbang polusi, pencemar lingkungan, dan memberikan efek sosial negatif.

Industri tekstil dan pakaian termasuk pencemar terbesar lingkungan di dunia. World Wild Life (WWF) juga menekankan bahwa pembuatan satu kaos katun setidaknya menggunakan 2700 liter air. Hal ini berarti bahwa produksi pakaian secara masif juga berelasi dengan ketersediaan air dunia. Bukan hanya pada air, namun juga pohon, hingga polusi udara. Industri tekstil dan pakaian pada akhirnya berkait kelindan dengan semakin buruknya kualitas ekosistem kita.

Bahkan menurut laporan A New Textiles Economy: Redesigning Fashion’s Future, dampak negatif yang ditimbulkan oleh industri tekstil akan meningkat secara drastis di tahun 2050. Jika di tahun 2015 limbah minyak yang dihasilkan dari produksi tekstil hanya sekitar 98 juta ton, maka diprediksi di tahun 2050 akan ada sekitar 300 juta ton limbah minyak yang dihasilkan.

Di atas semua masalah yang ditimbulkan oleh limbah tekstil, tetap saja sulit untuk membayangkan kehidupan hari ini tanpa tekstil. Olehnya, penting untuk menilik upaya-upaya daur ulang produk tekstil yang sedikit mampu menahan laju limbah yang dihasilkan dari produk dengan pemakaian jangka pendek.

Atas Nama Fashion, Kita Menumpuk Limbah

Photo by Chattrapal on Pexels

India menjadi salah satu Negara penyelamat yang berperan sebagai importir pakaian bekas. Di India, pakaian-pakaian dari berbagai belahan dunia ini didaur ulang menjadi benang dan produk lain, seperti selimut. Namun juga ada pakaian yang dihancurkan, jika kondisi kainnya sudah tidak memungkinkan untuk di daur ulang atau bahan dasarnya yang memang terbuat dari bahan sintesis.

Selain itu, China yang juga merupakan Negara yang menghasilkan sekitar 50% produk tekstil dan pakaian di dunia selama bertahun-tahun juga pernah menjadi Negara tujuan daur ulang produk tekstil. Perannya cukup penting untuk mengendalikan limbah pakaian.

Namun saat ini, China melakukan pembatasan ketat terhadap impor bahan baku industri tekstil. Keputusan yang diumumkan pada Juli 2018 itu, akhirnya memaksa banyak perusahaan di dunia kelimpungan mencari tempat untuk meneruskan produk tekstil bekas mereka.

Gerakan Alternatif di Indonesia

Di Indonesia, ada beberapa gerakan alternatif yang hadir dari kegelisahan akan limbah industri tekstil. Zero Waste Indonesia (ZWID), misalnya. ZWID adalah komunitas berbasis online yang berfokus pada upaya untuk mengajak masyarakat Indonesia meminimalisir sampah (hingga ke Zero Waste Lifestyle).

Langkah positif ZWID ini diwujudkan dalam pengimplementasian refuse, reduce, reuse, recycle, dan rot (5R). Langkah ini diwujudkan dengan berfokus pada strategi edukatif dalam penanganan limbah dan relasinya dengan keoptimalan kondisi lingkungan.

Selain itu, ada Sadara Sedari. Ini adalah organisasi non-profit yang fokus gerakannya ada pada isu literasi dan lingkungan. Organisasi ini mengumpulkan baju bekas layak pakai untuk dijual kembali. Hasil penjualan dari pakaian bekas tersebut akan dialihkan untuk membiayai aktivitas pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Dalam aktivitasnya, Sadari Sedari mengenalkan gaya hidup yang ramah lingkungan dengan menggalakkan kebiasaan reduce, reuse, recycle.

Namun berbagai aktivisme dalam upaya penanggulangan sampah, tidak menghilangkan fakta bahwa industri tekstil memberi sumbangsih besar terhadap memburuknya kualitas lingkungan hidup.

Ditambah lagi, industri fast fashion (gerai ritel fashion yang memodifikasi busana yang sedang riuh di dunia menjadi lebih murah dan dapat tersebar di berbagai Negara) terus menjamur. Atas nama fashion, pakaian tidak hanya sekadar dilihat dari nilai gunanya. Dan atas nama fashion, kita menumpuk limbah.

1 Comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect