Connect with us
FAO mengatakan Covid-19 mengancam persediaan makanan. Ini bukan kejadian pertama.
Photo by Tucker Tangeman on Unsplash

Current Issue

Ancaman Kelaparan Yang Terus Berulang

FAO mengatakan COVID-19 mengancam persediaan makanan. Ini bukan kejadian pertama.

Midleton adalah sebuah kota yang terletak di Republik Irlandia. Di sana kita dapat melihat monumen Suku Choctaw berupa bulu-bulu yang biasanya dipakai sebagai ikat kepala kaum Indian. Mengapa lambang orang Indian yang ada di Benua Amerika justru merupakan monumen di sebuah pulau di Benua Eropa? Ini karena ratusan tahun lampau, mereka memiliki ikatan ketika terjadi wabah kelaparan.

Pada masa itu, Suku Choctaw dipaksa untuk angkat kaki dari tanah yang mereka miliki. Mereka diusir oleh para pendatang yaitu bangsa kulit putih yang berniat menduduki Amerika. Sejarah mencatat pengusiran tersebut sebagai trail of tears alias jejak air mata. Puluhan ribu orang Indian terpaksa pergi meninggalkan kampung halamannya tanpa membawa perbekalan yang cukup. Banyak dari mereka meninggal karena kelaparan dan penyakit.

Dalam kondisi sulit dan serba kurang, kaum Indian mendengar adanya wabah kelaparan yang terjadi di Irlandia. Tanpa pikir panjang mereka menggalang dana sebanyak $170 dolar untuk diberikan kepada orang-orang Irlandia. Jumlah itu setara dengan ribuan dolar sekarang. Kini, masyarakat Irlandia membalas utang budi tersebut. Di situs penggalangan dana Go Fund Me, telah terkumpul dana sebanyak 3,5 juta dolar dan terus bertambah.

Sebenarnya dalam rangka apa penggalangan dana ini dilakukan? Tentu saja dalam rangka pandemi Covid-19. Ratusan tahun berlalu dan rasisme masih berakar di Amerika. Kaum Indian sebagai penduduk asli Amerika masih tersisih dan termarjinalkan. Dana itu digunakan untuk menopang kaum Indian dalam menghadapi pandemi meliputi akses air bersih, makanan, dan peralatan kesehatan.

Penyakit busuk menghantam tanaman di seluruh Eropa dan berdampak buruk pada Irlandia

Getty Images

Lalu bagaimana Irlandia di masa lalu bisa jatuh ke dalam wabah kelaparan? Hal ini bermula ketika ada jamur Phytophthora infestans yang menyerang tanaman kentang milik petani Irlandia. Bagi orang Irlandia, kentang adalah makanan pokok. Hanya ada satu jenis kentang yang dapat tumbuh dengan baik di tanah Irlandia yang disebut sebagai lumper. Sayangnya karena jamur, setengah panen pada tahun itu mengalami kegagalan.

Penderitaan tak sampai di situ saja. Sampai tujuh tahun berikutnya, panen kentang terus mengalami kegagalan akibat jamur. Pada 1852 tercatat satu juta kematian di Irlandia akibat wabah kelaparan dan penyebab lain yang berhubungan. Sekitar satu juta orang lainnya terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka sebagai pengungsi karena kesulitan bahan pangan. Ironisnya, kentang adalah makanan pokok yang baru dikenal orang Irlandia seabad sebelumnya.

Sebagai koloni Inggris, saat itu pemimpin Irlandia mengirim petisi kepada Ratu Victoria untuk menyelamatkan mereka dari kelaparan. Akhirnya Inggris membatalkan undang-undang mereka yang membuat harga bahan pangan seperti jagung dan roti begitu tinggi di Irlandia. Namun hal itu tidak cukup menyelamatkan satu juta nyawa yang hilang. Inilah yang membuat Suku Choctaw merasa bahwa mereka membagi penderitaan yang sama dengan Irlania. Mereka sama-sama dijajah.

Sejarah mencatat pandemi kelaparan pertama terjadi 4200 tahun lampau. Pandemi itu disebut sebagai 4.2 Kiloyear Event. Ini adalah salah satu peristiwa iklim terburuk sepanjang sejarah dan terjadi di Masa Holosen. Masa Holosen merupakan sebuah titik balik dunia karena di sinilah dimulai munahnya manusia purba dan munculnya manusia modern. Es di kutub mulai mencair, permukaan air laut naik, dan pulau-pulau pun terbentuk.

Inilah masa ketika pulau-pulau di Nusantara mulai terbentuk, bukan lagi berupa satu kesatuan seperti pada awal terciptanya. Menurut analisis para ahli, pandemi kelaparan saat itu turut memengaruhi kehancuran peradaban-peradaban besar seperti di Mesir, Yunani, Suriah, Palestina, Mesopotamia, China, dan India. Kelaparan terjadi karena adanya kekeringan lama dan suhu bumi yang menurun sehingga menyebabkan gagal panen. Kondisi iklim yang kacau ini terjadi selama 200 tahun.

Kelaparan selanjutnya yang tercatat dalam sejarah terjadi pada 436 SM di Roma. Sayangnya hal ini terjadi tak hanya karena kondisi iklim belaka melainkan karena sebab politis. Orang-orang yang dianggap tidak kompeten menangani distribusi pangan serta perang yang berkepanjangan turut menyebabkan kekurangan makanan. Pada masa itu masyarakat Romawi telah memiliki kalender tanamnya sendiri dan memprediksi gejala alam tertentu.

Misalnya bila di musim tanam terdengar bunyi petir pada hari ketiga, artinya biji-bijian dan buah-buahan akan layu akibat udara panas. Petir pada hari keempat artinya hujan deras yang membuat tanaman busuk. Sementara petir di hari ke-26 artinya musim dingin yang berbahaya bagi tanaman. Bila terjadi kegagalan panen atau stok bahan pangan berada dalam jumlah mengkhawatirkan, makanan pokok akan diimpor dari luar Roma.

Kesulitan bahan pangan juga terjadi di Yunani ketika terjadi Perang Peloponnesian pada 431 SM – 404 SM. Perang tersebut terjadi di lahan zaitun yang menyebabkan kelumpuhan ekonomi selama 40 tahun ke depan. Ini karena zaitun membutuhkan waktu 40 tahun untuk mencapai masa dewasa. Karena itu, banyak bahan makanan harus disubsitusi. Misalnya barley diganti dengan gandum. Namun hal ini tetap tidak menolong orang-orang miskin yang kesulitan mengakses makanan walaupun tidak mengalami perang.

Kelaparan juga diduga menjadi salah satu alasan kuat runtuhnya kedigdayaan Bangsa Maya. Para ahli mencatat bahwa kota-kota milik Bangsa Maya mulai jatuh pada 850 M – 925 M, periode yang sama dengan bencana kekeringan yang melanda saat itu. Awalnya para ahli mengira kota-kota yang hancur karena kekeringan hanya di bagian selatan. Namun penelitian berikutnya membuktikan kehancuran kota-kota di bagian utara karena hal yang sama. Setelah diterpa kekeringan parah pada abad 9, Bangsa Maya kembali menderita karena kekeringan yang jauh lebih parah di abad 11.

Peradaban Islam sendiri mencatat wabah kelaparan pada 638 M. Saat itu adalah masa pemerintahan Khalifah Umar. Ia dikenal sebagai orang yang mencintai keadilan hingga berani menghukum anaknya sendiri yang dituduh berzina. Wabah kelaparan membuat Khalifah Umar turun tangan langsung dalam pendistribusian makanan kepada rakyat miskin. Ia juga menunda pengumpulan zakat dan hukuman kepada pencuri.

Khalifah Umar percaya di masa itu orang mencuri karena terdesak sehingga orang itu butuh ditolong, bukan dihukum. Ia mendatangkan bahan makanan dari Mesir dan Irak. Lalu ia juga meminta Gubernur Mesir untuk membangun kanal sampai ke Arab demi memudahkan distribusi bahan makanan. Kekeringan itu diketahui terjadi karena kekeringan yang melanda Arab ditambah adanya wabah di Suriah.

FAO

FAO

Tentu saja bila dilihat sepanjang peradaban manusia, ada begitu banyak wabah kelaparan yang terjadi dan terus berulang. Ribuan bahkan jutaan orang meninggal dunia setiap kali terjadi kelaparan.

Namun ancaman itu datang kembali karena pandemi Covid-19. Bahkan sebelum pandemi terjadi, FAO menyatakan sudah ada 135 juta orang yang kesulitan mengakses makanan. Sebelumnya, wabah Ebola pada 2014 sendiri telah menyebabkan kelaparan di negara-negara Afrika.

Baca Juga: Pertanian Menjadi Sektor Yang Menarik?

Kelaparan menunjukkan pada kita betapa pentingnya kesuksesan panen. Petani adalah garda terdepan yang memastikan umat manusia dapat bertahan hidup. Sudah seharusnya kita lebih menghargai kiprah petani dalam memastikan setiap perut di bumi ini terisi. Ada banyak isu yang harus dipikirkan dan dicari bersama solusinya selama pandemi ini, termasuk sesederhana isi periuk kita.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect