Connect with us
4 Film Terikonik yang Menciptakan Genre Baru
Night of the Living Dead (1968)

Cultura Lists

4 Film Terikonik yang Menciptakan Genre Baru

Mulai dari lahirnya film zombie hingga horror footage. 

Horor, thriller, drama, romance, sudah menjadi genre-genre umum yang kita temukan di skena perfilman. Seiring berkembangnya variasi cerita yang dimuat dalam sebuah naskah, semakin banyak tema yang terulang pada film-film yang terus rilis.

Beberapa film akhirnya menciptakan sebuah genre baru yang menambah keseruan eksplorasi konsep cerita tertentu ke berbagai naskah original. Bahkan tak hanya terbatas di skena perfilman, beberapa film juga mempengaruhi konsep hiburan pada budaya pop lainnya. Mulai dari serial, game, hingga ide video klip musik. 

Mulai dari asal mula tren film bertema zombie hingga time loop plot, berikut beberapa film yang telah menciptakan genre baru. 

Night of the Living Dead (1968) – Survival Thriller Zombie

“White Zombie” menjadi film horor pertama yang melahirkan karakter zombie, diadaptasi dari legenda Haiti tentang ritual voodoo membangkit orang mati menjadi budak tanpa kesadaran dan perasaan. Film rilisan 1932 tersebut juga lebih cenderung memuat genre gothic romance. Tentang seorang perempuan yang dibunuh untuk dibangkitkan kembali sebagai zombie pengantin yang tak akan pernah meninggalkan pasangannya. 

Pada 1968, George Romero mengerjakan film horor secara independen, “Night of the Living Dead”. Romero sendiri tidak pernah berniat untuk melabeli filmnya sebagai ‘film zombie’, julukan tersebut muncul dari penonton karena melihat kemiripan karakteristik dari monster dalam filmnya.

Sebetulnya Romero lebih terinspirasi dengan kisah Frankenstein untuk monster mayat hidup ciptaannya. Dimana mayat hidup bangkit dari kubur karena sebuah satelit bertenaga listrik ambruk dan memberikan sengatan listrik di tanah kuburan. Ia menyebut monster dalam filmnya sebagai ‘ghouls’, mayat hidup tanpa hasrat apapun selain berburu manusia sebagai makanan. Tidak ada pula skenario penularan zombie pada manusia melalui gigitan dalam film tersebut. 

“Night of the Living Dead” memiliki premis tentang suami istri yang mengunjungi kuburan orang tua mereka di sebuah daerah terpencil. Kunjungan tersebut menjadi mimpi buruk ketika mereka harus berlindung bersama warga lainnya di sebuah gubuk di tengah serangan mayat hidup, berusaha membuat barikade agar tidak dimakan hidup-hidup.

Memuat plot yang bermula dari yang sekarang kerap kita sebut ‘zombie outbreak’, hingga sekuen bertahan hidup, dan karakter-karakter yang tidak bertahan, rumus tersebut kini telah diadaptasi ke berbagai skenario survival thriller dengan teror zombie. 

Kini kita telah melihat banyak variasi dari plot tersebut diterapkan pada berbagai ide film bertema zombie. Meski memiliki rumus yang nyaris serupa, ada pemilihan latar lokasi yang berbeda, sederet karakter yang semakin variatif, hingga karakteristik zombie yang semakin banyak dimodifikasi untuk menciptakan varian baru. Mulai dari yang bergenre horor menegangkan seperti “28 Weeks Later” (2007), hingga yang fresh dengan sentuhan komedi seperti “Zombieland” (2009). 

Halloween (1978) – Slasher Horror

Slasher horror adalah genre film yang identik dengan konten gore, sekuen teror pembunuhan, dan sosok pembunuh misterius dengan topeng. Sesuai dengan julukannya, unsur hiburan adrenalin yang disajikan oleh film slasher adalah perpaduan antara sayatan senjata tajam, cipratan darah, dan teriakan korban yang membuat kita merinding. “Halloween” rilisan 1978 menjadi film horor pertama yang menciptakan popularitas teror pembunuh bertopeng. 

Lebih dari sekadar makhluk halus atau monster yang lahir dari mimpi buruk, “Halloween” menjadi film yang melahirkan karakter Michael Myers, pembunuh bertopeng yang kabur dari penjara karena membunuh kakaknya sendiri ketika usianya masih 6 tahun. Ia pun kembali ke kampung halamannya, Haddonfield, Illinois, untuk mencari korban selanjutnya di malam Halloween.

Pada era yang sama, sebetulnya Michael Myers bukan satu-satu pembunuh bertopeng yang populer. Ada Leatherface dari “Texas Chainsaw Massacre” dan “Black Christmas” yang juga memiliki pembunuh berantainya sendiri. Namun, “Halloween” yang menjadi judul sukses yang menstimulasi kemunculan karakter-karakter slasher ikonik lainnya. Mulai dari Jason Voorhees pada “Friday the 13th” hingga Ghostface pada franchise “Scream”. 

Groundhog Day (1993) – Time Loop Movie

“Groundhog Day” merupakan film yang dibintangi oleh Bill Murray sebagai Phil, seorang pembawa berita cuaca yang egois. Hingga suatu hari Ia terus terbangun di hari yang sama, yaitu tanggal 2 Februari, terjebak pada agenda dan rutinitas yang sama dan terus terulang.

Setiap kali kita melihat ulasan dari film baru dengan tema daily time loop, kita pasti akan melihat “Groundhog Day” disebut seakan judul tersebut adalah sebuah genre film. Naskah film tersebut memiliki konsep time loop, kemudian secara umum memuat genre komedi romantis. 

Bukan time loop secara umum, “Groundhog Day” secara spesifik lebih ditandai dengan plot waktu yang mengulang hari. Kisah juga berpusat pada satu protagonis saja yang menyadari pengulangan waktu.

Konsep yang tersebut kini tidak hanya diterapkan pada film drama, namun lebih leluasa untuk diadaptasi dalam berbagai genre film. Mulai dari “Edge of Tomorrow” (2014) dengan genre laga fiksi ilmiah, hingga “Happy Death Day” (2017) yang bergenre horror thriller

The Blair Witch Project (1999) – Found Footage Horror

Rilis pada awal era internet di Amerika Serikat, “The Blair Witch Project” merupakan pioneer dari genre film horor dengan konsep found-footage. Dimana konsep ini memuat visual film yang seakan-akan diambil dari kamera amatir yang ditemukan secara misterius dan benar-benar terjadi di dunia nyata.

Pada 1998, film ini memulai promosi dengan meluncurkan sebuah website tentang pengumuman tiga orang yang menghilang, laporan, dan wawancara dengan pihak polisi. Ketika sedang promosi di film festival seperti Sundance, pihak film membagikan brosur orang hilang, begitu pula IMDb mencantumkan bahwa para aktor dari “The Blair Witch Project” adalah orang hilang, kemungkinan telah tewas. Dengan metode promosi yang cukup berani dengan mengumbar berita yang tergolong hoaks, “The Blair Witch Project” menjadi film found-footage horror pertama yang sulit untuk diulangi kesuksesannya. 

Memberikan pengalaman yang terasa nyata dianggap menjadi salah satu unsur yang mampu mendukung kesuksesan film horor. Semenjak kemunculan “The Blair Witch Project”, semakin banyak film mencoba konsep serupa seperti “Paranormal Activity”. Kemudian ada film Spanyol, “REC” (2007) dan “The Gallows” (2015). “Noroi: The Curse” (2005) menjadi film Jepang dengan konsep serupa yang cukup menyajikan horor yang benar-benar menakutkan. 

Memasuki era media sosial dan video chat, genre film ini semakin berkembang meski dengan media yang berbeda. Mulai dari “Unfriended” (2014), “Searching” (2018), hingga film horor pandemi terbaru yang hybrid, “Host” (2020). 

Click to comment

Teka-teki Tika Review Teka-teki Tika Review

Teka-teki Tika Review: Wadah Eksperimen Tanggung Rasa

Film

Lineup Musisi Internasional di Java Jazz Festival 2022

Cultura Lists

oslo ibrahim java jazz 2020 oslo ibrahim java jazz 2020

Lineup Musisi Indonesia di Java Jazz Festival 2022

Cultura Lists

Django Unchained Django Unchained

Django Unchained Review: Kisah Balas Dendam Seorang Budak

Film

Advertisement
Connect