Connect with us
Jenis Cryptocurrency
Image by Vadim Taranov/Pixabay

3 Jenis Cryptocurrency Yang Perlu Kita Ketahui

Perkembangan mata uang digital atau cryptocurrency begitu cepat dan agresif.

Dalam teknologi blockchain, ada 3 jenis cryptocurrency. Bitcoin merupakan jenis blockchain pertama. Kemudian disusul banyak blockchain lainnya, dengan nama altcoins. Beberapa contohnya adalah NEO, Litecoin, dan Cardano. Baru kemudian jenis terakhir muncul token/dApps, seperti Civic (CVC), BitDegree (BDG), sampai WePower (WPR). Ada juga fenomena baru di komunitas rantai blok yang disebut ICO (Initial Coin Offering).

Bitcoin

Pada 2008, Bitcoin menjadi awal dari cryptocurrency. Bitcoin digunakan untuk menukar barang dan jasa secara online. Baru sampai pada 2013-2014, Bitcoin berkembang dengan pesat. Pada 2017, nilainya melonjak ke tingkat tertingginya, dimana pada bulan Desember, mencapai lebih dari Rp 266 juta per Bitcoin. Jadi jika kita memiliki setidaknya 4 koin, kita bisa memiliki kekayaan lebih dari Rp 1 milyar. Padahal pada Januari 2015, 4 Bitcoin hanya dihargai Rp 80 juta. Berarti ada kenaikan lebih dari Rp 900 juta dalam kurun waktu 3 tahun.

Bitcoin adalah mata uang digital yang bisa dikirimkan ke orang lain. Bisa berupa hadiah, atau atas pembelian barang dan jasa. Esensinya sama dengan mata uang suatu negara, seperti Rupiah. Namun Bitcoin berbentuk digital, tanpa adanya backup emas.

Namun perbedaannya bukan cuma itu saja. Bitcoin menggunakan teknologi blockchain. Dimana tidak adanya pihak ketiga dalam verifikasi transaksi. Karena itu, kita tidak memerlukan identitas apapun untuk transaksi pembayaran atau penerimaan Bitcoin.

Saat seseorang mengirimkan Bitcoin, transaksi akan diverifikasi dan disimpan di blockchain. Informasi di blockchain akan dienkripsi. Dan yang menerima Bitcoin akan menggunakan private key untuk decrypt kembali.

Transaksi ini akan diproses oleh jaringan komputer dari banyak penambang Bitcoin. Komputer ini akan digunakan untuk menjalankan software yang disebut nodes. Dimana akan menggunakan banyak tenaga listrik. Namun mereka bisa mendapatkan sejumlah kecil Bitcoin baru, sebagai komisi penambangan tersebut. Saat blok baru transaksi dikirimkan ke blockchain, nodes akan memverifikasi blok dengan algoritma yang disebut PoW (Proof of Work). Dimana penambang pertama yang melakukan verifikasi akan dihadiahi koin baru.

Altcoins

Kemudian kita mengenal altcoins (alternative coin). Saat ini, ada lebih dari ribuan altcoins di dunia. Walaupun begitu, kebanyakan altcoins hanya berupa versi alternatif dari Bitcoin dengan sedikit perubahan. Dari sinilah nama altcoins berasal.

Penting untuk dimengerti, bahwa tidak semua altcoins berarti versi alternatif dari Bitcoin. Ada beberapa yang sangat jauh berbeda dengan Bitcoin. Beberapa menggunakan algoritma yang berbeda. Contohnya Factom yang tidak memiliki penambang, namun disebut stakers. Dimana verifikasi sebuah blok diurut satu per satu. Karena itu, tidak seperti penambang Bitcoin yang akan melakukan ribuan verifikasi blok yang sama, staker hanya fokus pada satu blok saja. Hal ini akan menghemat daya listrik dari stakers, walaupun keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan lebih lanjut.

Ethereum dan NEO juga dua contoh dari altcoins yang sangat berbeda dengan Bitcoin. Dimana Bitcoin digunakan sebagai mata uang digital. Sedangkan Ethereum dan NEO tidak didesain untuk itu. Melainkan sebagai platform untuk membangun aplikasi dalam blockchain. Dengan kontrak pintar, transaksi bisa dieksekusi otomatis saat kondisi tertentu dipenuhi. Teknologi ini diperkenalkan pada 2015 lalu, dan menjadi revolusi cryptocurrency dalam penciptaan mata uang baru.

Dengan kontrak pintar, akhirnya tidak diperlukan pihak ketiga. Dalam Bitcoin tidak ada pihak ketiga dalam pembayaran digital, sedangkan kontrak pintar, tidak diperlukan pihak ketiga untuk pembelian rumah, pembayaran listrik, bahkan sampai pasar saham. Nantinya, kita bisa menempatkan token dalam kontrak pintar untuk merepresentasikan properti rumah misalnya. Dengan begitu, token bisa merepresentasikan fisik barang nyata ke dalam blockchain.

Tokens/dApps

Jenis ketiga dari cryptocurrency adalah token. Token yang digunakan dalam aplikasi decentralisasi (dApps) ini tidak memiliki blockchain tersendiri. Melainkan hasil dari penggunaan kontrak pintar yang dijelaskan sebelumnya.

Token tidak melulu harus berupa aset fisik seperti properti. Namun bisa menjadi alat pembayaran dalam dApp. Selain itu juga bisa menjadi potongan diskon, komisi, dan sebagainya. Karena itu token akan memiliki nilai, dengan pilihan untuk digunakan sendiri atau dijual dalam dApps.

DApps sendiri dibangun dari blockchain yang lain seperti Ethereum dan NEO. Makanya, transaksi token tetap diverifikasi oleh nodes dari blockchain tersebut. Artinya biaya transaksi tetap dibayar menggunakan Ether atau NEO, dan bukan token. Jadi untuk melakukan transaksi di dApps, kita harus memiliki sejumlah Ether atau NEO, atau jenis altcoin lainnya dimana dApps tersebut dibangun.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect