Connect with us
You Should Have Left Review
Blumhouse

Film

You Should Have Left Review: Lebih Dari Rumah Hantu

David Koepp mempersembahkan premis klise mengenai rumah hantu dengan memberikan kejutan yang berbeda.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Film horor mengenai rumah berhantu mungkin sudah banyak dijumpai dan mulai membosankan dengan premis yang itu-itu saja. Sebuah keluarga mendiami rumah baru, hal-hal aneh dan mengerikan mulai terjadi di sana, dengan akhir yang mengkonfirmasi bahwa ada hantu gentayangan di rumah tersebut. Namun film You Should Have Left (2020) membawa premis tersebut ke arah yang berbeda.

Seorang mantan bankir, Theo (Kevin Bacon), melalui kesehariannya dengan mendengarkan rekaman meditasi dan menulis jurnal. Istrinya, Susanna (Amanda Seyfried), adalah seorang aktris muda yang mengaruniainya seorang putri bernama Ella (Avery Tiiu Essex). Sebelum Susanna kembali ke lokasi syuting untuk waktu yang lama, keluarga tersebut memutuskan untuk berlibur ke sebuah rumah yang disewakan di pedesaan Wales.

You Should Have Left Review

You Should Have Left | Blumhouse

Berawal dari kesenangan mereka karena mendapatkan rumah yang megah dan modern, kejadian-kejadian aneh dalam mimpi Theo mulai mengubah suasana di dalam rumah tersebut.

You Should Have Left merupakan adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Daniel Kehlmann. Awalnya film ini dibuat untuk dirilis di bioskop, akan tetapi akibat pandemi Covid-19, film ini hanya dirilis secara digital. Berada di bawah naungan produksi Blumhouse, film horror thriller ini mendapatkan cukup banyak perhatian di ranah pecinta film meskipun penilaiannya beragam.

Sebagian besar latar belakang tempat di film ini berada di perbukitan Wales yang terlihat cukup terpencil dari pusat kota. Melalui sinematografinya, penggambaran rumah yang berdiri sendiri di atas bukit terkesan sangat indah namun juga mencekam di saat yang bersamaan.

You Should Have Left Review

Blumhouse

Rumah yang menjadi titik permasalahannya memiliki rancangan modern yang membuatnya terlihat sangat mencolok di tengah-tengah hijaunya perbukitan. Hal tersebut rasanya seperti simbolisasi keluarga Theo yang amat sangat warga perkotaan Amerika ketika tiba di pinggiran Wales yang jauh dari pusat peradaban. Berada di atas bukit tersebut sendiri tanpa ada rumah lainnya, pemilihan tempat menunjukkan kesan isolasi yang bisa membuat orang bermimpi buruk.

Bukan hanya latar belakang tempat yang membuat film ini terkesan menekan bagi penonton, tapi juga melalui scoring musik yang tidak main-main. Geoff Zanelli dengan pintar membuat scoring yang menakutkan di adegan-adegan yang tepat, tanpa kelewatan satupun kesempatan. Terkadang musik yang dibuat seperti ingin melakukan jumpscare, namun dilakukan dengan cara sehalus mungkin.

(Warning: spoiler)

Dengan premis awal yang membuat penonton mengira ini akan menjadi film horor tentang rumah berhantu, You Should Have Left mengambil jalan lain yang cukup berbeda. Theo ternyata digentayangi oleh rasa bersalahnya sendiri yang membuat rumah tersebut mengekangnya. Lalu dengan alur cerita ala Nolan, satu persatu kejadian di pertengahan film mulai terbongkar akibat perjalanan waktu yang dilaluinya.

You Should Have Left

Blumhouse

Meskipun plot twist yang ada sudah bisa ditebak dengan cukup cepat, eksekusi film ini tetap cukup bagus dan berhasil mengakhirinya dengan baik. Alur cerita berjalan dengan rapih dan tidak terburu-buru, meskipun mungkin beberapa hal di dalamnya dapat digali lebih dalam lagi, seperti tentang kematian mantan istri Theo.

Film ini memberikan waktu yang cukup untuk melepaskan tensi setelah klimaks di akhir, namun kurang memberikan ruang untuk menceritakan latar belakang yang lebih kokoh. Karakter Theo yang seharusnya menjadi pondasi film justru masih terkesan kopong di beberapa sisi dengan perubahan watak yang sangat mudah ditebak.

Plot film You Should Have Left memang sangat klise jika dipisahkan dan berdiri sendiri setiap cabangnya, namun ketika menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi satu sama lain, film ini berhasil memberikan kisah yang cukup kokoh.

Pada akhirnya, film ini menyorot salah satu perasaan yang paling kuat dan mengganggu dalam diri manusia, yaitu rasa bersalah. Bukan hanya dapat memberikan orang mimpi buruk, kesalahan di masa lalu juga bisa menjerat kita tak bergeming di suatu tempat yang kelam.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect