Connect with us
Tren Belanja Online Karena Pandemi
Photo by cottonbro from Pexels

Current Issue

Tren Belanja Online Karena Pandemi: Apa yang Dibeli dan Tidak Dibeli?

Orang Denmark belanja sex toy. Orang Thailand belanja alkohol. Kalau Indonesia?

Pada awal pandemi Covid-19, media sosial dibanjiri foto dan video mengenai fenomena panic buying di Amerika. Orang-orang di sana menimbun tissue toilet. Mungkin terdengar tidak masuk akal tapi ini karena mereka pernah mengalami kelangkaan yang serupa di masa perang dunia. Tidak seperti kita yang mengenal cebok dengan air dan gayung ataupun bidet, orang Amerika harus pakai tissue.

Thailand memiliki kondisi uniknya sendiri. Pemerintah menyadari bahwa masyarakatnya sangat suka mengonsumsi alkohol dan akan merayakan tahun baru tanpa social distancing. Songkran, tahun barunya orang Thailand, berlangsung pada 13 April lalu. Demi mengantisipasi orang berpesta, pemerintah melarang penjualan miras mulai tanggal 10 hingga 20 April. Alhasil masyarakat panik.

Tren Belanja Online Karena Pandemi

Photo by Waldemar Brandt on Unsplash

Di berbagai pertokoan maupun supermarket besar terlihat antrian orang Thailand yang membeli miras dalam jumlah besar. Mereka khawatir tidak bisa minum alkohol. Ironisnya, ketika mereka memadati toko untuk menimbun miras, mereka berdesakkan.

Fenomena serupa terjadi di Inggris. Penjualan alkohol meroket hingga 14%. Orang-orang lebih suka mengunci diri di rumah dengan minuman favoritnya.

Sinful adalah penjual sex toy terbesar di Eropa utara. Perusahaan ini mencatat kenaikan penjualan hingga 110% di Denmark saat negara tersebut melakukan lockdown. Setiap harinya Sinful mengirimkan hingga 1500 paket kepada konsumen di Denmark, Norwegia, Swedia, dan Finlandia. Selain itu website review sex toy ternama di Denmark, eroti.dk, melaporkan peningkatan kunjungan hingga 3x lipat.

Singapura pun mencatat kenaikan belanja online yang signifikan hingga 3x lipat terutama untuk pembelian bahan makanan pokok. Belanja online dianggap sebagai cara baru dalam menjalani hidup sekaligus bukti kecepatan manusia dalam beradaptasi. Masyarakat dianggap dapat menjalani kondisi berada di rumah sebagai “a new normal”. Kita telah melihat kantor-kantor meminta karyawannya bekerja secara remote. Sekolah dan ibadah dilakukan secara online begitu pula kegiatan olahraga.

Asosiasi perdagangan barang mewah di Italia memperkirakan penjualannya akan turun dratis hingga 44 milyar dolar. Mengingat pandemi tidak dapat dipastikan akan berlangsung sampai kapan, banyak orang berpikir untuk menggunakan uangnya dengan hati-hati. Berbelanja barang mewah jelas bukan kebutuhan primer. Ini mendorong produsen barang mewah untuk mengalihkan usaha mereka ke kegiatan amal.

Mulai dari Louis Vuitton, Dior, Balenciaga, hingga Gucci kini memproduksi alat-alat kesehatan misalnya APD dan hand sanitizer. Louis Vuitton juga menyediakan layanan belanja online khusus bagi penduduk China melalui aplikasi chat WeChat. Beberapa mall besar di China berhasil menutupi kerugian selama lockdown dengan membuat layanan belanja live streaming. Total penjualan selama 3 jam live streaming setara dengan penjualan offline selama 1 minggu.

Penelitian lain menyebutkan bahwa generasi milenial adalah generasi yang paling banyak mengubah gaya hidupnya selama pandemi. Dibanding generasi yang lebih tua dan lebih sulit menerima perubahan, generasi milenial paling cepat beradaptasi. Mereka sadar sebaiknya menghindari pengeluaran yang konsumtif, memiliki stok bahan makanan pokok, dan menghindari angkutan umum.

Sebanyak 47% laki-laki sebagai responden menyatakan pandemi memengaruhi keputusan mereka dalam membeli sesuatu. Jumlah ini tidak berbeda jauh dengan 41% perempuan yang menjadikan pandemi sebagai pertimbangan dalam mengeluarkan uang. Keputusan ini misalnya lebih memilih membeli masker dan suplemen kesehatan serta memangkas pengeluaran untuk pergi ke restoran.

grafik belanja selama pandemi covid-19

Via visualcapitalist.com

Menurut Visual Capitalist, penjualan sarung tangan meningkat hingga 670%. Walaupun sebenarnya sarung tangan bukan kebutuhan esensial mengingat kita harus rutin mencuci tangan dengan sabun. Produk-produk lain yang meningkat pesat penjualannya adalah bahan makanan tahan lama seperti beras, makanan kaleng, hingga peralatan masak seperti mesin pembuat roti. Ini karena orang-orang tidak bisa membeli semua yang mereka inginkan saat itu juga seperti biasanya. Orang-orang beradaptasi untuk membuat sendiri makanan yang mereka inginkan.

Di Indonesia sendiri, pembelian buah dan sayur lokal meningkat pesat. Sementara itu impor buah dan sayur mengalami penurunan hingga lebih dari 50% karena pasokan yang terganggu. Banyak negara yang mengalami lockdown sehingga buah dan sayur impor sulit masuk ke Indonesia. Namun ini artinya menjadi berkah bagi petani lokal. Pandemi membuat produk lokal berjaya di tanah sendiri. Apalagi orang-orang berlomba untuk meningkatkan imunitas dengan mengonsumsi makanan bergizi.

Geo Septianella, salah satu pemilik startup Sobat Veggies, mengaku selama pandemi penjualan buah dan sayur meningkat hingga 50%. Startup yang berlokasi di Bekasi dan mendapat pasokan dari Bandung ini mengaku tak hanya melayani penjualan di Jabodetabek saja bahkan hingga ke luar Jawa. Misalnya untuk jenis buah yang tahan lama.

Menurut Geo, peningkatan penjualan adalah imbas dari banyaknya pertokoan dan pasar yang memiliki jam buka lebih sebentar. Ditambah lagi orang-orang berusaha untuk mengurangi aktivitas keluar rumah sehingga mereka memilih berbelanja online. Harga yang ia berikan pada buah dan sayurnya juga terjangkau karena tidak melalui tengkulak dan langsung berasal dari petani.

Meningkatnya penjualan juga dapat memicu kenaikan harga secara drastis. Harga suplemen sendiri sempat meroket dan langka. Begitu pula harga termometer, masker medis, gula pasir, dan rempah-rempah. Ini cukup mengkhawatirkan mengingat orang-orang yang sangat membutuhkan jadi tidak bisa mendapatkan produk tersebut. Akhirnya kondisi berangsur membaik.

Bisa ditebak, di antara industri-industri yang mengalami peningkatan penjualan drastis tentu ada yang mengalami penuruan. Misalnya industri fashion, makeup, maupun pariwista. Penjualan koper turun hingga 77% dan dan kamera turun 64%. Inilah yang mendorong kita akan melihat lebih banyak diskon maupun beragam promo lainnya di e-commerce. Namun dengan banyak orang kehilangan pekerjaan dan mengalami penurunan pendapatan, barang-barang tersebut menjadi sesuatu yang tak mendesak.

Bila sebelumnya orang melakukan belanja online untuk produk yang memang tidak bisa didapat secara offline, kini apapun yang ia butuhkan dicari di e-commerce. Fitriyani, seorang PNS, mengaku sampai membeli obat nyamuk semprot secara online. Gina, seorang admin retail, mengaku membeli beras di e-commerce. Ini dilakukan karena keduanya mengurangi kegiatan ke luar rumah. Selain itu harga yang ditawarkan e-commerce jauh lebih murah serta memiliki promo gratis ongkos kirim.

Pandemi mungkin membuat perekonomian terguncang. Namun ada harapan bagi sebagian industri yang justru menangguk untung. Tentu saja sebaik apapun kondisi keuangan kita, berhati-hati dalam membeli jauh lebih baik dibanding melakukan panic buying. Kita tidak tahu sampai kapan pandemi akan berlangsung jadi setiap rupiah yang dimiliki haruslah digunakan secara berarti.

1 Comment

1 Comment

  1. INFOAJA.COM

    May 3, 2020 at 1:59 PM

    Kalau saya dengan situasi seperti ini belanja online hanya kebutuhan sehari-hari saja, karena cukup sederhana tidak keluar rumah dan sambil menunggu pesanan datang. Tetap stay at home.

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect
%d bloggers like this: