Connect with us
Transparansi Industri Fashion
Photo by Gustavo Fring on Pexels

Current Issue

Bukan Hanya Kualitas dan Harga, Transparansi Industri Fashion Juga Penting

Konsumen punya kuasa untuk mempertimbangkan banyak hal atas pilihan.

Pada artikel Atas Nama Fashion: Kita Menumpuk Limbah, kita mampu membaca bahwa pakaian yang dipakai sehari-hari sesungguhnya bukan hanya soal kualitas dan harga. Satu pakaian hadir dari rantai produksi yang tidak sederhana.

Dalam laporan Gender Justice on Garment Global Supply Chains: An Agenda to Transform Fast-Fashion yang disusun oleh Global Labor Justice dan The Asia Floor Wage Alliance (TAFWA), ditemukan bahwa para pekerja kontrak di Inggris sering kali menerima upah lebih rendah, jarang menerima tunjangan upah, termasuk cuti dan jaminan sosial, serta mereka pun dapat dipecat sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang berubah-ubah.

Hal ini bukan hanya terjadi di Inggris dan Negara-negara lain saja, di Indonesia pun para buruh banyak yang mengalami hal demikian. Masalah yang kerap kali didengar adalah upah buruh yang tidak manusiawi, penangguhan upah, hingga eksploitasi.

Di antaranya, ada Pabrik Hansae dan Perusahaan Jaba Garmindo. Pabrik Hansae adalah pabrik yang memproduksi bahan pakaian untuk produk H&M. Sedangkan Jaba Garmindo adalah industri pengelolaan garmen untuk Uniqlo. H&M dan Uniqlo adalah dua gerai fast fashion yang menjamur di berbagai mall.

Inilah salah satu realitas kelam dari rantai produksi industri fashion. Di balik harga untuk kualitas, juga ada harga untuk ketimpangan dan ketidakadilan yang sayangnya tidak terlalu menarik untuk dipikirkan semua orang. Berbagai narasi ketimpangan ini telah banyak diulas di berbagai media, diteliti oleh banyak lembaga dan akademisi sejak dulu, ditambal dengan banyak regulasi, namun masih terus anda hingga hari ini.

Fashion Revolution Day

Setiap tanggal 24 April, setahun setelah tragedi runtuhnya bangunan Rana Plaza di Bangladesh di tahun 2013, dunia memperingati Fashion Revolution Day (FRD). FRD adalah moment untuk menggiatkan pemahaman dan tindakan bahwa keuntungan ekonomi yang ingin diraih tidak seharusnya mematikan kemanusiaan dan abai atas keberlanjutan lingkungan.

Fashion Revolution Day

Fashion Revolution Day – Who Made My Clothes

Agak menyesakkan memang, karena FRD adalah momen yang digencarkan setelah bencana Rana Plaza yang menelan korban jiwa hingga lebih dari 1000 orang. Tragedi Rana Plaza kembali menyadarkan dunia tentang kondisi bekerja yang buruk, ekspolitasi pekerja, polusi serta degradasi lingkungan yang dihasilkan dari suplai fashion global.

Hal-hal semacam itu adalah bentuk keterbatasan banyak orang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik layar indutsri fashion. Namun, benar saja apa yang dituliskan Whitney Bauck dalam salah satu artikelnya bahwa sulit untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan atas apa yang tidak kita ketahui secara mendalam tentang mereka, dan sulit untuk mengetahui apa yang tidak kita ketahui tentang mereka jika mereka dapat dengan leluasa menyembunyikan apa pun yang mereka ingin sembunyikan dari publik.

Olehnya, penting untuk menggalakkan transparansi indutsri. Hal inilah yang dirorong oleh FRD. Transparansi bertujuan untuk memberi akses konsumen pada informasi yang kredibel dan berkualitas terhadap produk tertentu. Karena memang, transparansi dipandang berelasi dengan kepercayaan konsumen dan reputasi produk itu sendiri. Meriuhkan kalimat #WhoMadeMyClothes, dipandang sebagai gambaran pentingnya mengambil keputusan untuk membeli dan menggunakan satu produk tertentu berdasarkan informasi dan pengetahuan yang didapatkan sebelumnya.

Transparansi Industri Fashion

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels

Untuk FRD, transparansi adalah jalan atau alat untuk meraih perubahan, dan bukan merupakan tujuan akhir. Kunci utamanya adalah informasi. Lantas, informasi yang bagaimana yang seharusnya dibuka secara transparan oleh industri kepada publik? Diantaranya adalah darimana bahan baku mereka didapatkan, dimana produk mereka dibuat, siapa-siapa saja pihak yang terlibat dalam produksi, material apa yang digunakan, bagaimana jaminan kesehatan dan upah bagi para pekerjanya, dan lain-lain.

Dalam Fashion Transparency Index 2020, Fashion Revolution juga menyadari bahwa menjadi transparan tidak menjamin perusahaan telah cukup bertanggung jawab dan peduli pada prinsip-prinsip keberlanjutan. Bisa jadi, ada produk yang membagi sebagian besar informasinya ke publik, namun ternyata tetap melakukan eksploitasi pada pekerja dan lingkungan.

Namun, tentu bisa saja ada perusahaan yang telah melakukan cara-cara yang bajik di belakang layar tapi tidak membagikan informasinya ke publik. Sehingga cara-cara yang bajik ini tidak dapat dijadikan pembelajaran bagi industri lain dan orang-orang yang melek terhadap hal tersebut.

Pada dua kondisi ini, kita dapat melihat betapa informasi menjadi amat berharga. Sebagai konsumen, kita punya kuasa untuk mempertimbangkan banyak hal atas pilihan kita masing-masing. Termasuk dalam memilih pakaian, selain melihat kualitas dan harga, transparansi industri fashion layak untuk dipertimbangkan.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect