Connect with us
The Karate Kid (1984)

Film

The Karate Kid (1984) Review: Antara Bela Diri dan Pembuktian Diri

Film martial arts yang ringan, menghibur, dan filosofis.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Jauh sebelum di-remake pada 2010, “The Karate Kid” sudah mencuri hati khalayak saat pertama kali muncul ke publik pada 1984. Film ini berhasil menyajikan unsur martial arts yang menghibur dan filosofis.

Selain dibuat remake, “The Karate Kid” juga sudah menjadi franchise lewat sejumlah sekuel dan serial, salah satunya adalah “Cobra Kai” yang masih tayang hingga kini. Film ini pun juga berhasil membuat karate begitu diminati orang-orang di Amerika.

“The Karate Kid” versi 1984 sendiri berkisah tentang seorang remaja pindahan bernama Daniel LaRusso (Ralph Macchio) yang kerap mendapatkan perundungan dari Johnny Lawrence (William Zabka) dan rekan-rekannya. Daniel selalu gagal menghindari Johnny si perundung, sampai pada suatu momen ia diselamatkan oleh Mr. Miyagi (Pat Morita) yang tak lain adalah pengelola apartemen tempat Daniel tinggal. Selain menyelamatkan Daniel, Miyagi pun kelak menjadi guru karate Daniel.

“The Karate Kid” 1984 disajikan dengan alur maju melalui flow yang pas. Premis ceritanya pun sederhana, yakni tentang pembuktian diri seorang remaja yang kena perundungan. Adapun yang membuat premisnya menarik adalah medium pembuktian diri sang remaja, yaitu karate. Sebuah hal baru untuk ukuran film Amerika saat itu.

30 menit pertama film akan menampilkan adegan demi adegan perundungan yang dialami Daniel. Setelahnya, penonton akan lebih banyak menyimak proses pembelajaran karate yang dilakukan Daniel. Di film ini, karate tak hanya sebagai pelengkap cerita saja, melainkan bagian dari cerita itu sendiri. Karate pun juga ditampilkan secara dua sisi di film ini, yaitu sisi pragmatis dan sisi filosofis.

Sisi pragmatis diwakili oleh perguruan karate Cobra Kai tempat Johnny belajar. Di tempat itu, karate diajarkan sebagai seni untuk menyerang lawan tanpa ampun. Sedangkan sisi yang lebih filosofis diwakili oleh Mr. Miyagi. Menurut Miyagi, karate merupakan seni bela diri yang dipakai untuk melindungi diri, bukan menyerang orang lain. Karate juga bukan tentang menang dan kalah, melainkan tentang keseimbangan dan surviving. Selain menawarkan karate dari sisi filosofis, Mr. Miyagi juga menampilkan metode latihan tak biasa.

(Spoiler alert)

Bukannya mengajari cara bertarung dalam seni karate kepada Daniel, ia justru menyuruh Daniel melakoni sejumlah pekerjaan kasar, mulai dari mencuci mobil sampai mengecat pagar dan rumah. Hal itu sempat membuat Daniel kesal, namun kekesalan itu hilang setelah ia diberitahu secara tidak langsung maksud dari sang guru. (Spoiler end).

The Karate Kid (1984)

Kedua filosofi karate itu pun lantas dipertemukan dalam suatu turnamen karate yang disajikan di sepertiga akhir film. Di turnamen ini, banyak adegan-adegan karate yang di-shoot dengan intens, terutama pertandingan-pertandingan yang dilakoni Daniel dan Johnny. Supaya lebih greget, adegan-adegan itu pun lantas diperkuat dengan sajian musik hasil kurasi Bil Conti. Sajian musiknya banyak memakai musik bernuansa 80-an, salah satunya adalah lagu “You’re The Best” garapan Joe Esposito. Lagu tersebut juga menjadi soundtrack utama film ini

Menjelang akhir, adegan pertandingan karate pun diberi sedikit unsur drama, guna menaikkan emosi penonton. Film pun lantas ditutup dengan pertandingan yang dramatis dan ending yang menghangatkan hati, walau ending-nya agak kurang lama.

Dari segi akting, Ralph Macchio mampu memerankan Daniel LaRusso yang kikuk, agak penakut, dan sedikit keras kepala. Ia juga mampu memeragakan gerakan karate yang kikuk khas Daniel. Semua pencapaian itu tergolong luar biasa mengingat saat itu Ralph merupakan seorang debutan. Pat Morita juga berhasil memerankan sosok Mr. Miyagi yang bijaksana, sebuah peran yang sebetulnya jauh dari image Morita saat itu yang cenderung lekat dengan peran-peran komedi. Keberhasilannya sebagai Mr. Miyagi membawanya masuk ke nominasi Academy Awards pada 1984.

Selain tampil baik untuk peran masing-masing, keduanya juga mampu menciptakan chemistry yang menarik. Melihat kebersamaan kedua tokoh yang mereka perankan membuat penonton merasakan kalau keduanya tak hanya sekadar guru dan murid, tetapi juga ayah dan anak.

Beberapa cast lain pun juga mampu tampil baik, salah satunya adalah Martin Kove. Walau tak terlalu sering ditampilkan, ia berhasil memerankan sosok John Kreese, pemimpin Cobra Kai yang keras dan selalu menghalalkan segala cara untuk menang.

“The Karate Kid” versi 1984 merupakan sajian klasik sekaligus induk bagi franchise The Karate Kid itu sendiri. Film ini punya premis yang simpel, menghibur, serta punya unsur filosofis terutama soal karate. Film ini bisa kembali disimak di Netflix.

One Piece Film: Red One Piece Film: Red

One Piece Film: Red Review – Drama Bajak Laut Berbalut Musikal

Film

Drifting Home Drifting Home

Drifting Home Review: Ketika Tempat Menyimpan Berbagai Kenangan dan Trauma

Film

Woman King Woman King

Rekomendasi Film Terbaru Oktober 2022

Cultura Lists

blonde review blonde review

Blonde Review: Biopik Suram Marilyn Monroe yang Tidak Mencerahkan

Film

Connect