Connect with us
Photo by Mister Mister from Pexels

Lifestyle

Salah Kaprah “Berbukalah dengan yang Manis”

Konsumsi makanan juga perlu diimbangi dengan pengeluaran energi tubuh yang cukup.

Salah satu kalimat yang paling sering didengar pada saat bulan ramadhan adalah “berbukalah dengan yang manis”. Kalimat ini juga diasosiasikan dengan salah satu iklan produk tertentu. Namun, “berbukalah dengan yang manis” bukan saja hanya tentang bagaimana suatu brand itu dibangun. Melainkan juga bisa ditarik ke cakupan yang lebih luas, yaitu kesehatan.

Banyak pakar gizi yang menyarankan untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang manis saat berbuka. Hal ini karena energi diperoleh tubuh dari asupan gula darah. Sedangkan gula darah diperoleh dari asupan makanan. Sementara pada saat berpuasa, asupan makanan ini yang tidak bisa dikonsumsi selama kurang lebih 13 jam. Olehnya, makanan atau minuman yang manis diharapkan mampu mensuplai gula untuk memenuhi asupan gula darah lalu diubah menjadi energi.

Meskipun pada saat sahur, kita mensuplai makanan untuk tubuh. Namun kadar energi dari suplai gula darah yang dihasilkan dari makanan yang kita makan tentu akan terus menurun seiring bertambahnya waktu. Karena tidak adanya asupan makanan tambahan, berarti amunisi untuk menyulut energi juga tidak ada. Makanya sering kali tubuh merasa lemas dan mengantuk pada saat berpuasa.

Setelah merasa lemas berjam-jam, berbuka puasa adalah saat yang dinanti-nanti. Ungkapan berbuka dengan yang manis, dianjurkan oleh banyak pakar gizi, hal ini tidak berarti bahwa semua yang rasanya manis boleh dikonsumsi dengan serampangan.

Namun ungkapan ini tidak ditujukan untuk makanan atau minuman dengan kandungan gula tinggi. American Heart Foundation, sebuah lembaga non-profit yang banyak mensponsori berbagai penelitian medis kardiovaskular dan juga gencar melakukan edukasi hidup sehat kepada masyarakat, pernah merilis tentang batas ambang konsumsi gula.

Untuk laki-laki, batas ambangnya adalah 150 kalori atau setara 37,5 gr dalam satu hari. Sedangkan, batas ambang konsumsi gula pada perempuan adalah 100 kalori atau setara 25 gr. Angka tersebut adalah akumulasi kandungan gula yang ada di semua penganan yang dikonsumsi dalam satu hari.

Kadar ini yang perlu diperhatikan. Pada saat berbuka, tidak jarang penganan yang disantap adalah penganan manis yang rasa manisnya dihasilkan dari gula tambahan. Alih-alih mensuplai energi, konsumsi gula yang berlebihan justru hanya akan membuat kandungan gula darah dan kalori di dalam tubuh merosot jumlahnya.

Selain itu, asupan gula yang tinggi justru cukup berelasi dengan kondisi banyak orang yang berat badannya justru naik selama bulan ramadhan. Jika tidak dikontrol, kadar gula darah dan kalori berlebih dapat berakibat pada kelebihan lemak tubuh, hasilnya kegemukan. Kegemukan ini yang tentunya dapat memicu munculnya berbagai penyakit.

berbuka dengan yang manis

Photo by Dana Tentis from Pexels

Rasa Manis yang Sehat

Dengan dasar bahwa rasa manis dari gula tambahan tidak disarankan, maka rasa manis dari gula alamilah yang dapat mensuplai energi dan tetap berkontribusi pada kesehatan tubuh. Rasa manis dengan kandungan gula alami dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan.

Sebagai contoh, jus buah tanpa ditambahkan gula pasir adalah salah satu rekomendasi untuk membatalkan puasa di waktu maghrib. Beberapa diantaranya adalah apel, pisang, dan anggur. Dalam setiap 100 gr penyajian, apel telah mengandung 10 gr gula.

Sedangkan untuk pisang dan anggur, masing-masing mengandung sebanyak 12 gr dan 16 gr gula. Kurma juga mengandung pemanis alami. Dalam satu butir kurma misalnya, telah ada sekitar 5,3 gr gula.

Kurma adalah salah satu makanan dengan kandungan karbohidrat yang kompleks sehingga tubuh mampu menyerapnya tanpa terburu-buru. Jika kurma mengandung karbohidrat yang kompleks, sebaliknya produk gula pasir yang kerap dijadikan bahan pemanis justru mengandung karbohidrat sederhana.

Jenis kandungan gizi semacam ini memiliki sifat yang sangat mudah dicerna menjadi gula darah oleh tubuh, namun sulit untuk dicerna dan diubah menjadi energi. Hal ini tentu menegaskan, bahwa konsumsi gula pasir dan/atau pemanis-pemanis buatan lainnya tidak cukup sehat untuk dikonsumsi oleh tubuh, apalagi dalam jumlah yang berlebihan.

Jadi jelas, berbuka dengan yang manis tidak berarti membenarkan konsumsi makanan manis yang berlebih pada saat berbuka puasa. Perlu diperhatikan akumulasi kandungan gula dan juga kandungan gizi lain dari keseluruhan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Selain itu, konsumsi makanan juga perlu diimbangi dengan pengeluaran energi tubuh yang cukup. Misalnya dengan olahraga.

1 Comment

1 Comment

  1. Yudi

    May 1, 2020 at 8:12 PM

    Mau tanya…
    Saya sudah menjalanka isolasi mandiri selama 14 hari dan tidak ada gejala apapun selama karantina mandiri, di hari ke 15 Apakah saya diperbolehkan kembali bekerja? Dah haruskah saya di rapid test…
    Mohon pencerahannya.. terimakasih

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect
%d bloggers like this: