Connect with us
black friday
Photo by Skitterphoto from Pexels

Lifestyle

Pro Kontra Black Friday Dari Masa Ke Masa

Ini mungkin hari libur paling random sedunia.

Umumnya hari libur nasional ditetapkan karena ada alasan historis di baliknya. Ada hari ibu, hari buruh, hari anak, hari pendidikan, hingga hari perayaan agama tertentu. Tapi mungkin Black Friday adalah hari nasional yang paling tidak biasa alasan penetapannya. Black Friday adalah Hari Belanja Nasional terutama untuk warga Amerika dan Kanada. Meski demikian Black Friday menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Black Friday di Indonesia memang belum seterkenal Harbolnas yang diselenggarakan di tanggal-tanggal cantik.

Awalnya, Black Friday merujuk pada keruntuhan ekonomi Amerika di tanggal 24 September 1869. Jay Gould dan Jim Fisk adalah orang di balik petaka tersebut. Mereka membeli emas besar-besaran dengan harapan persediaan emas nasional menjadi langka. Kemudian mereka akan menjualnya dengan harga yang meningkat berkali lipat. Tujuannya tentu saja profit. Namun konspirasi tersebut terbongkar. Pasar saham anjlok. Semua orang di Wall Street merugi. Gilanya, mereka tidak bertanggung jawab. Kejahatan mereka berhasil terkubur karena korupsi di Tamany Hall yang dilakukan oleh William Tweed.

Ketika itu seorang politikus bernama William Tweed yang berasal dari keluarga berpengaruh memanfaatkan posisinya secara ilegal. Ia bahkan berani menyuap seorang hakim untuk mendapat sertifikasi sebagai pengacara. Tanpa latar belakang pendidikan hukum, ia memberikan layanan kepada siapapun yang mampu membayarnya. Politikus Partai Demokrat ini kemudian berhasil mencapai posisi tinggi di Tamany Hall. Ia lalu berhasil diturunkan paksa setelah serangkaian ilustrasi buatan komikus Thomas Nast memicu tekanan publik. Tweed kemudian dipenjara sementara Nast berjaya hingga akhir hayatnya.

Saat itu Black Friday memiliki konotasi negatif mengingat kekacauan di bidang ekonomi dan politik yang menyerang Amerika bertubi-tubi. Di akhir abad 19, Presiden Amerika saat itu yaitu Abraham Lincoln memutuskan Thanksgiving sebagai hari libur nasional. Namun ternyata masyarakat tidak hanya antusias di Hari Thanksgiving saja tetapi juga sehari setelahnya. Ini karena setiap tahunnya pertandingan football selalu dirayakan di Hari Minggu sementara Thanksgiving dirayakan di Hari Kamis. Jumat dan Sabtu pun menjadi hari kejepit nasional. Masyarakat memanfaatkannya untuk pergi ke tempat wisata atau berbelanja. Jalanan menjadi macet.

Aparat kepolisian menjadi kesal. Pertama, mereka terpaksa bekerja di shift yang lebih panjang dari biasanya untuk mengurai kemacetan. Kedua mereka pun harus lebih siaga karena ada banyak pencopet yang memanfaatkan hari-hari tersebut untuk menangguk untung besar. Meski sebenarnya Hari Jumat bukanlah hari libur, nyatanya ada banyak pekerja kantoran yang memutuskan bolos agar merasakan libur panjang hingga Hari Minggu. Mereka banyak mengajukan izin tidak masuk kerja dengan alasan sakit dan malah menghabiskan waktu berbelanja. Hal tersebut mendorong banyak perusahaan untuk memberikan libur di Hari Jumat sehingga di minggu terakhir di Bulan November semua orang merasakan libur panjang.

Sebenarnya Hari Thanksgiving sendiri sempat bergeser. Ketika seluruh dunia mengalami krisis ekonomi, Presiden Franklin D. Roosevelt mengubah Hari Raya Thanksgiving menjadi Hari Kamis keempat di Bulan November. Saat itu tahun 1939 dan Bulan November memiliki lima minggu dalam satu bulan. Tujuannya agar rakyat Amerika memiliki lebih banyak waktu berbelanja. Sebab bila Thanksgiving terlalu dekat dengan Hari Natal, orang-orang dipercaya akan menahan nafsu belanja mereka hingga Desember. Apalagi para pebisnis mengeluhkan kondisi mereka yang terancam bangkrut.

Sayangnya keputusan Presiden Franklin kurang tepat. Pemindahan tanggal tersebut tetap menimbulkan malapetaka. Terutama bagi perusahaan-perusahaan kalender yang telah mencetak Hari Thanksgiving di Kamis kelima Bulan November. Mereka terpaksa melakukan ralat pada kalender yang telah dicetak. Begitu pula pertandingan-pertandingan football yang sudah telanjur dijadwalkan di minggu terakhir Bulan November. Para pelatih takut pertandingan mereka sepi dari penonton. Keputusan Presiden Franklin dicerca di mana-mana hingga akhirnya beberapa tahun kemudian ia mengeluarkan aturan baru. Apapun yang terjadi, Thanksgiving akan selalu jatuh di Kamis terakhir Bulan November. Artinya Black Friday akan mengikuti sehari setelahnya.

Sebenarnya Black Friday bukanlah hari belanja biasa. Retailer di Amerika mencatat ketika mereka mengalami kerugian sepanjang tahun (ditandai dengan rapor merah) ternyata keuntungan meningkat tajam di Hari Thanksgiving. Mereka akhirnya berhasil meraih rapor hitam. Karena itulah Black Friday selalu dirayakan besar-besaran setiap tahunnya. Itu adalah masa ketika perekonomian Amerika dan Kanada berada di titik menggairahkan. Namun perayaan Black Friday dikecam oleh para aktivis lingkungan.

Bila masyarakat Amerika dan Kanada bahkan dunia berbelanja gila-gilaan pada Black Friday, artinya limbah akan meningkat tajam. Sebab orang tak selalu membeli apa yang mereka butuhkan. Orang terdorong menjadi konsumtif ketika melihat diskon bertebaran. Saat masyarakat berbondong-bondong berbelanja meski barang yang lama masih memiliki kualitas baik, barang lama tersebut akan terbuang percuma. Sampah pun menjadi menumpuk. Padahal sampah telah menjadi masalah di seluruh dunia. Sampah-sampah ini mencemari lingkungan.

black friday adalah

Salah satunya adalah pakaian. Limbah dari industri pakaian telah mencemari air dan tanah serta menduduki peringkat kedua terburuk dunia setelah minyak. Tiap tahunnya diperkirakan setiap orang membuang sebanyak 70 pounds atau sekitar 32 kilogram baju dan sepatu. 95% sampah tekstil yang ditemukan ternyata masih bisa didaur ulang atau dijual kembali. Sayangnya perilaku konsumtif telah mendorong masyarakat lebih impulsif dalam membeli dan mengoleksi serta lebih mudah membuang.

Tak hanya limbah saja yang menjadi masalah sebagai dampak dari Black Friday. Upah yang rendah bagi para pegawai retail maupun e-commerce pun turut disoroti. Saat konsumen menghabiskan uang besar-besaran demi diskon, para pegawai ini justru hidup tidak layak. Bahkan diberitakan para pegawai Amazon sampai tidak memiliki waktu untuk buang air ke toilet karena terlalu sibuk bekerja. Selain itu Black Friday mendorong retail buka dengan waktu lebih cepat dan tutup lebih terlambat demi memberikan waktu panjang kepada konsumen untuk berbelanja. Artinya konsumsi listrik meningkat pesat.

Bila melihat kondisi bumi yang semakin buruk, sudah saatnya kita berpikir ulang bila ingin tetap memertahankan Black Friday. Bisa jadi Black Friday tidak lagi relevan. Kita harus memikirkan untuk membeli barang seperlunya, memanfaatkan nilai suatu barang selama mungkin, dan melakukan daur ulang sebanyak-banyaknya.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect