Connect with us
Not Okay

Film

Not Okay Review: Drama Satir Menanggapi Era Internet dan Influencer

Pelajaran bijak dalam memahami era internet yang semakin brutal. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Danni Sanders (Zoey Deutch) adalah seorang editor foto di majalah online kekinian Amerika. Merasa kesepian, depresi, dan menginginkan perhatian di dunia maya (sekaligus dunia nyata), Danni memutuskan untuk melakukan ‘penipuan kecil’ agar Instagram-nya lebih menarik.

Dengan kemampuan mengedit fotonya, Ia berpura-pura melakukan retreat penulis di Paris, Prancis. Danni tak pernah menduga bahwa kebohongan ‘kecil’ yang Ia karang, lama-lama menjadi bola salju besar yang siap menghantam kehidupannya.

“Not Okay” merupakan film drama komedi terbaru di Hulu yang kini juga sudah bisa di-streaming di Disney+ Hotstar. Dewasa ini, media semakin kurang mengapresiasi atau memberikan kesempatan pada film drama ringan seperti ini. Padahal dari naskah yang terlihat cheesy dan dekat kehidupan, tak jarang kita mendapatkan pelajaran dan perspektif baru.

Di era internet, media sosial, dan trend influencer, “Not Okay” bisa menjadi naskah dengan tema relevan. Meski dengan label ‘satir’, cukup mengerikan bahwa setiap bits dalam kisah Danni Sanders merupakan realita terburuk dalam era dunia maya.

Not Okay

Komedi Satir Menyinggung Era Dunia Maya, Media Sosial & Trend Influencer

“Not Okay” memiliki plot seperti bola salju yang terus bergulir, berpusat pada Danni Sanders. Namun lebih dari sekadar plot penipuan dengan kekalutan dan kesialan bertubi-tubi, “Not Okay” memiliki latar, sekuen, dan pesan yang tepat. Setiap elemen dalam film ini saling berkesinambungan, menjadi satu paket drama satir menyinggung era dunia maya yang komplit. Mulai dari latar pekerjaan Danni, trend ‘influencer’ yang menggelikan, maupun influencer yang benar-benar memiliki pesan serius untuk disampaikan.

Bagi penonton yang anti media sosial dan tidak relate dengan budaya influencer, sangat mudah untuk meremehkan topik yang diangkat dalam film ini. “Not Okay” merupakan film dengan pesan dan opini yang bisa dikategorikan dalam area ‘abu-abu’ di internet. Penipuan citra, penipuan kisah tragis, dimana hukumannya adalah penghakiman sosial. Kita semua setidaknya relate sebagai pihak ketiga yang selama ini hanya menjadi netizen, pasif maupun aktif, ketika ada drama internet yang trending.

Keputusan tepat dalam naskah untuk menaruh konsekuensi yang akan diterima Danni sebagai prolog film. Pada titik ini, sudah bukan kejutan lagi untuk menyaksikan konsekuensi buruk ketika seseorang melakukan penipuan. Meski penipuan yang dilakukan oleh Danni dalam kisah ini sebetulnya tercelah secara moral dan etika, bukan penipuan dengan korban yang bersifat kejahatan pidana. Yang dibutuhkan untuk memahami pesan yang hendak disampaikan dalam “Not Okay” adalah kenetralan dan sikap yang open minded pada penontonnya.

Penampilan Terbaik Zoey Deutch & Mia Isaac

“Not Okay” dibuka dengan peringatan bahwa film mereka memuat protagonis perempuan dengan penokohan yang menjengkelkan. Sayang sekali penulis naskah tidak percaya dengan protagonis yang Ia tulis. Ada perbedaan antara ‘karakter menjengkelkan’ karena penulisan yang buruk, dengan ‘karakter anti-hero’ yang memang memiliki arch buruk, namun menjadi bagian dalam naskah yang bagus. Danni Sanders sendiri memenuhi kriteria poin kedua. Ia hanya seorang protagonis dengan segala kualitas terburuk, namun dalam naskah yang berkualitas, kita akan melihat perkembangan karakter yang memberikan banyak pelajaran.

Mungkin ada penonton yang akhirnya langsung tidak menyukai Danni sejak awal hanya karena peringatan tersebut. Padahal, jika kita mencoba menjadi penonton yang objektif dan netral, kita akan memahami alasan mengapa Danni bersikap demikian. Zoey Deutch menjadi cast sempurna dalam memerankan Danni Sanders.

Selain bintang utama, Mia Isaac menjadi aktris muda yang memberikan penampilan menyakinkan. Ia berperan sebagai Rowan Aldren, influencer muda yang selamat dari insiden penembakan di sekolah. Ambisinya adalah menyuarakan trauma yang Ia alami dan kampanye anti kekerasan dengan senjata api. Setiap tampil membawakan pidato, Mia tampil menyakinkan dengan ekspresi dan amarah yang otentik.

Perspektif Baru akan Drama Internet yang Semakin Brutal dan Toxic

Ketika drama internet melibatkan influencer maupun publik figur trending, reaksi main hakim sendiri netizen sudah menjadi fenomena yang semakin brutal dewasa ini. Tak hanya drama terbaru, skenario yang sama juga kerap terjadi ketika kesalahan masa lalu publik figur kembali diviralkan.

Layaknya orang yang tidak pernah salah dan merasa paling benar, banyak sekali netizen yang menghakimi pihak tertentu secara berlebihan di balik identitas tersembunyi di dunia maya, khususnya media sosial. Seakan pihak yang lagi sial atau terlibat skandal sudah tidak layak mendapatkan kesempatan kedua dan bertobat untuk melanjutkan kehidupan dengan lebih baik. Belajar dari kesalahannya.

Di masa sekarang, fenomena tersebut lebih familiar dengan sebutan ‘cancelled culture’. “Not Okay” memperlihatkan pada kita bagaimana tindakan main hakim di dunia maya bisa sangat brutal dan toxic. Mulai dari melempar cemooh yang tidak relevan dengan skandal hingga penyebaran informasi pribadi yang kelewatan batas.

Munculnya ulasan buruk dan kebencian pada “Not Okay” bisa menjadi bukti bahwa media tidak berpihak pada kebenaran fenomena ini. Pada beberapa perspektif, skenario ini sudah bukan satir atau perilaku masyarakat yang dihiperbola. Inilah rupa brutal dari era internet dan influencer masa kini.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect