Connect with us
Negara-negara yang Melakukan Lockdown Karena Covid-19
Photo by Boris Dunand on Unsplash

Current Issue

Negara-negara yang Melakukan Lockdown Karena COVID-19

WHO mengumumkan Eropa sebagai episentrum pandemi COVID-19.

Selama seminggu terakhir, untuk pertama kalinya China mencatat kasus positif COVID-19 dengan jumlah satu digit saja. Provinsi Hubei sebagai wilayah episentrum COVID-19 mencatat delapan kasus. Sementara di luar Provinsi Hubei juga mencatat jumlah kasus yang kurang lebih sama. Namun kasus tersebut bukan berasal dari China melainkan impor. Artinya, penderita yang positif tersebut terinfeksi COVID-19 ketika dia berada di negara lain. Bisa dibilang jumlah penderita COVID-19 di China sudah turun drastis. Beberapa rumah sakit yang sengaja dibangun untuk menanggulangi pandemi ini juga sudah ditutup.

Walaupun keadaan di China sudah jauh lebih terkontrol, kini pandemi ini menjadi mimpi buruk di Benua Eropa. Italia mencatat jumlah kasus positif COVID-19 tertinggi kedua di dunia setelah China. Ada 24.747 pasien dengan 1.809 korban meninggal dan 2.335 orang telah pulih. Italia memberlakukan lockdown akibat penyebaran COVID-19 yang masif. Tenaga kesehatan yang sudah tidak mampu lagi menangani tingginya lonjakan pasien mendapat bantuan dari China. Beberapa hari lalu diberitakan China mengirim tenaga kesehatan untuk menyokong Italia dalam merawat warganya.

Italia memutuskan melakukan lockdown selama seminggu terakhir sembari memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Warga hanya boleh keluar rumah untuk membeli makanan atau obat-obatan. Orang yang memaksa untuk tetap keluar tanpa alasan dapat didenda bahkan dianggap kriminal. Langkah serupa juga dilakukan oleh Spanyol sebagai negara kedua di Eropa yang mendapatkan dampak terburuk akibat pandemi COVID-19. Ada 7.844 positif COVID-19 dengan 335 korban meninggal dan 517 orang sembuh.

Spanyol memberlakukan lockdown sejak 15 Maret meski tidak seketat Italia. Warganya masih boleh keluar rumah untuk keperluan darurat, membeli makanan, atau bekerja. Angkutan umum masih beroperasi meski armadanya dikurangi. Kapasitas angkutan umum yang berjalan hanya boleh terisi sepertiganya saja agar penumpang tidak berdesakkan. Keputusan serupa akhirnya diambil oleh Prancis hari ini yang akan mulai dilaksanakan Rabu besok. Prancis berencana melakukan lockdown hingga lima minggu ke depan.

Awalnya pemerintah Prancis mendorong tempat hiburan untuk ditutup seperti restoran dan bioskop. Hal ini dilakukan agar warganya terdorong untuk tidak berkumpul di keramaian. Namun pada akhir pekan ini nampaknya warga masih menganggap enteng pandemi COVID-19 sehingga mereka berkumpul di taman atau ruang terbuka lainnya. Inilah yang mendorong Prancis memutuskan lockdown. Prancis tercatat memiliki 5.437 kasus positif dengan 127 korban meninggal dan 12 orang yang telah sembuh.

Jerman sendiri memutuskan untuk meningkatkan kewaspadaan setelah melihat negara-negara lain di Eropa memberlakukan lockdown. Jerman menutup perbatasannya dan melarang masuk orang-orang dari Prancis, Switzerland, dan Austria mulai hari ini. Tercatat ada 6.672 pasien positif COVID-19 di negara tersebut. Denmark yang memiliki 916 pasien positif COVID-19 pun memutuskan menutup perbatasannya dan baru akan dibuka pada 13 April.

Baca Juga: Wabah Mematikan di Dunia dari Masa ke Masa: Influenza hingga Corona

Austria juga menutup perbatasan sekaligus tempat-tempat umum seperti restoran, bar, tempat bermain, dan arena olahraga. Pemerintah memberlakukan larangan untuk perkumpulan yang melibatkan lebih dari lima orang. Austria mencatat korban positif COVID-19 sebanyak 959 orang. Negara-negara lain yang turut mengikuti langkah tersebut adalah Czech, Slovakia, Hungaria, Polandia, Rusia, dan Ukraina. Namun kekhawatiran masih menghantui Eropa mengingat ada banyak negara dengan aturan yang berbeda-beda dalam menangani COVID-19 sehingga hasilnya bisa beragam.

Seluruh sekolah di Eropa telah tutup. Meski diketahui anak-anak memiliki tingkat kekebalan lebih tinggi terhadap COVID-19, mereka diduga menjadi carrier virus tersebut. Oleh karena itu anak-anak didorong untuk berada di rumah agar tidak menulari anggota keluarga yang berusia lebih tua tanpa sengaja. Namun anak-anak untuk tenaga kesehatan maupun pekerja sosial tetap diperkenankan datang ke sekolah karena orangtua mereka tidak berada di rumah. Sementara anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya di rumah diharapkan tidak pulang ke kampung halaman untuk mencegah meluasnya virus corona ini.

Manila, ibukota Filipina, terlihat sepi sejak kemarin setelah pemberlakukan lockdown. Dengan total 142 pasien positif COVID-19 dan 12 korban meninggal, Filipina memberlakukan lockdown hingga 14 April. Sekolah-sekolah akan diliburkan hingga sebulan ke depan. Polisi dan militer akan disiagakan di perbatasan. Filipina menghadapi kritik dari warganya karena hanya memiliki 2.000 alat tes COVID-19. Baik polisi maupun militer di perbatasan tidak semuanya memiliki termometer pengukur panas. WHO sendiri mendorong Filipina untuk melakukan tes, isolasi, dan social distancing karena diperkirakan akan ada puluhan ribu kasus baru.

Baca Juga: 10 Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Lebanon yang mencatat 99 korban memutuskan untuk melakukan lockdown. Hanya apotek dan toko makanan saja yang diperbolehkan buka. Polisi berpatroli untuk memastikan penduduk berada di dalam rumah dan menyuruh orang yang berkeliaran untuk pulang. Langkah serupa juga dilakukan oleh Iraq meski tidak ketat. Iraq akan memberlakukan jam malam selama seminggu ke depan. Hal ini rupanya menimbulkan kepanikan sehingga warganya berbondong-bondong memborong ke supermarket.

Iran dan Israel sendiri memutuskan untuk tidak melakukan lockdown meski memberlakukan aturan ketat demi meredam penularan virus. Israel menutup preschool, mendorong orang bekerja dari rumah, mengurangi armada angkutan umum, dan mengurangi akses ke tempat publik seperti mall. Israel berupaya tidak melakukan lockdown demi menghindari kemungkinan ekonomi yang hancur. Meski demikian Israel tetap menyadari adanya kemungkinan lockdown dan memastikan warganya tidak akan kekurangan suplai makanan maupun kebutuhan primer lainnya.

Tak hanya Eropa dan Asia saja, Afrika pun memberlakukan langkah-langkah tak jauh beda. Kenya tidak akan menerima pengunjung dari negara-negara yang memiliki kasus COVID-19. Selain itu, warga negaranya yang baru datang dari luar negeri diminta untuk melakukan karantina pribadi selama 14 hari ke depan. Maroko sendiri menambahkan langkah penutupan perbatasan. Pengunjung yang datang akan diminta menjawab kuesioner mengenai kesehatan mereka. Afrika Selatan memilih untuk mewajibkan pendatang dari negara dengan risiko COVID-19 tinggi untuk melakukan tes.

Sejauh ini lockdown nampaknya berhasil menekan penyabaran virus. Namun ketakutan akan goyangnya ekonomi membuat beberapa negara ragu untuk mengambil langkah ini. Walau vonis positif COVID-19 bukanlah hukuman mati bagi penderitanya, kewaspadaan tetap dibutuhkan. Mengingat orang-orang dengan kekebalan tubuh rendah, penyakit penyerta, dan berusia lanjut memiliki risiko lebih besar. Bila tidak berhati-hati maka kekacauan seperti di Italia dapat terulang di negara lain.

Update artikel terkait COVID-19 / Corona bisa diikuti di halaman ini.

Jakarta Tanggap COVID-19 bisa cek di corona.jakarta.go.id

Layanan Jakarta Tanggap COVID-19
112
081388376955

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: FAQ Covid-19

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect