Connect with us
Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Current Issue

Menjaga Kewarasan Saat Harus Di Rumah Aja

Apakah rasa frustasi muncul setelah melakukan social distancing selama seminggu?

Sampai dengan tanggal 22 Maret, ada 514 kasus positif COVID-19 di Indonesia. Gerakan #dirumahaja semakin digalakkan. Hal ini tak hanya berlaku di Indonesia tapi juga di belahan dunia lainnya. Social distancing dianggap ampuh untuk meredam laju penyebaran pandemi COVID-19. Sebelumnya cara ini digunakan untuk meredam wabah SARS beberapa tahun silam. Sayangnya melakukan social distancing tidak semudah yang dikatakan.

Tidak semua kantor bisa atau mau merumahkan karyawannya pada masa social distancing. Buruh pabrik, teller bank, office boy, dan beragam profesi lainnya tidak memungkinkan seseorang bekerja dari rumah.

Aturan pemerintah yang tidak bersifat wajib melainkan berupa himbauan pun turut membuat perusahaan merasa tak perlu merumahkan karyawan. Namun kecemasan tak hanya dirasakan orang-orang yang masih harus bekerja di masa pandemi. Orang yang berada di rumah juga merasa tertekan.

Berdasarkan diagram Maslow, ada lima tingkatan piramida yang menggambarkan kebutuhan manusia. Tingkatan paling dasar adalah kebutuhan fisik. Hal ini seperti makanan, minuman, tidur yang cukup, tempat untuk bernaung, dan baju untuk dipakai. Tingkatan kedua adalah rasa aman. Misalnya kepemilikan properti, asuransi, dan pekerjaan. Bila kebutuhan di tingkat dasar terpenuhi maka manusia akan terdorong untuk memenuhi kebutuhan di tingkat selanjutnya. Tingkatan ketiga adalah cinta dan rasa kepemilikan.

diagram maslow

Walau berada di dalam rumah dan bersama keluarga bukan berarti kebutuhan akan cinta seseorang terpenuhi. Seseorang tetap dapat merasa tertekan ataupun cemas karena ia tidak hanya membutuhkan keluarga. Ia ingin berkumpul dengan teman-teman dan berinteraksi dengan orang lain.

Berada di dalam rumah selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu tak sesederhana disebut sebagai rasa bosan. Seseorang tak hanya merasa kehilangan rutinitasnya yaitu bekerja tetapi juga kehilangan hubungan dengan manusia lain.

Menurut penelitian, memiliki hubungan sosial berpengaruh terhadap kesehatan seseorang secara mental dan fisik. Seseorang yang memiliki hubungan sosial lebih baik dibanding orang lain memiliki kemampuan bertahan hidup 50% lebih tinggi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada orang-orang yang melakukan social distancing saat pandemi SARS, terdapat gejala depresi dan PTSD. Hal ini tak hanya dirasakan oleh orang-orang dengan kepribadian ekstrovert. Seorang introvert pun tetap butuh berinteraksi dengan orang lain.

Menurut Tara Well, dosen di Departemen Psikologi Universitas Colombia, saat seseorang mengalami kecemasan secara alami ia ingin terhubung dengan orang lain. Apalagi dengan kondisi pandemi di mana ketika menonton atau membaca berita, kita justru menemukan berita kematian. Hal tersebut akan memicu seseorang merasa tak berdaya. Seseorang yang memiliki depresi pun cenderung membangun pikiran negatif ketika merasa terisolasi dari dunia luar. Namun media sosial tak membantu jika yang kita lakukan hanya melihat postingan seorang seleb dan memberi like.

social distancing di rumah aja

Photo via Pexels

Untuk merasa benar-benar terhubung dengan orang lain, kita perlu berinteraksi dengan orang yang benar-benar kita kenal. Komunikasinya pun perlu berjalan dua arah. Dibanding memberikan like atau komentar pada postingan seorang seleb, lebih baik bila kita mengobrol lewat teks dengan teman. Telpon, video call, atau chatting akan membantu kita untuk tidak merasa sendirian ataupun kesepian. Bertukar cerita dan menjelaskan apa yang dirasakan membantu beban kita berkurang.

Art Markman, profesor psikologi dari Universitas Texas, mengatakan dark jokes bisa digunakan untuk mengurangi tingkat stres. Dengan memandang lucu hal-hal yang sebenarnya menakutkan atau menyedihkan, ini membantu kita untuk lebih memahami keadaan. Pandemi telah membuat kita menjadi lebih serius dengan mengecek kenaikan kasus positif covid-19 setiap waktu. Angka-angka tersebut dapat memengaruhi emosi kita. Sedikit tertawa akan sangat membantu melonggarkan kerah yang tercekik.

Selain itu ketidakpastian membuat kita menjadi lebih lemah. Tidak ada yang tahu kapan pandemi akan berakhir atau kapan kita bisa benar-benar keluar rumah tanpa berjarak satu meter dari orang lain. Karena itulah banyak psikolog maupun psikiater menghimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi media. Dengan mengurangi terpaan media, diharapkan kita mampu lebih mengontrol pikiran untuk tidak terus berpikir negatif. Kita harus mengalihkan isi kepala agar tidak memikirkan pandemi Covid-19 ini selama 24 jam.

Pemerintah Australia sendiri menganggap kesehatan mental warganya yang melakukan self distancing secara serius. Tak hanya menggelontorkan dana untuk penanganan kesehatan fisik warganya, pemerintah juga menyiapkan anggaran untuk kesehatan mental. Warga Australia dapat mengakses layanan kesehatan mental secara online sehingga mereka tak perlu meninggalkan rumah. Mereka dapat berkonsultasi dengan psikolog ataupun psikiater melalui Skype, Face Time, maupun Whatsapp.

Pemerintah Inggris membuat pedoman bagi warganya untuk tidak melupakan kesehatan mentalnya. Beberapa tips tersebut seperti berolahraga, menjalani hobi, hingga membuka jendela untuk mendapatkan udara segar dan cahaya matahari. Mengisolasi diri di dalam rumah bukan berarti kita tidak bisa mendapatkan udara segar atau berjemur di matahari pagi. Social distancing bukan berarti kita tidak boleh melangkahkan kaki keluar dari pintu.

Untuk menjaga kebugaran tubuh, kita perlu memastikan tetap aktif bergerak di dalam rumah. Ada banyak video maupun aplikasi panduan olahraga yang mudah diikuti dan gratis. Selain berolahraga ringan, membersihkan rumah juga akan membantu kita tetap bergerak.

Menonton film, mendengarkan musik, membaca buku, hingga bermain dengan hewan juga dapat meredakan ketegangan. Tapi kalaupun kita memilih tidak melakukan apa-apa maka itu juga tidak masalah. Bertahan hidup adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect