Film

Lightyear Review: Spinoff Buzz Lightyear Tidak Berhasil Lampaui Toy Story

Keseruan instan pada babak pertama, sisanya membosankan.

Meski tidak masuk bioskop Indonesia, “Lightyear” akhirnya bisa kita tonton karena masuk Disney+ Hotstar pada 3 Agustus. Film animasi ini menjadi spinoff yang fokus pada salah satu mainan kesayangan Andy, Buzz Lightyear.

Dalam “Toy Story” (1995) pertama, Buzz Lightyear menjadi mainan hadiah ulang tahun Andy dari film favoritnya. “Lightyear” adalah film yang ditonton oleh Andy. Sederet aktor Hollywood turut meriahkan pengisi suara dalam film animasi ini. Chris Evans mengisi suara Buzz Lightyear, kemudian ada Taika Waititi dan Keke Palmer.

Buzz Lightyear adalah seorang space ranger. Terjebak di planet yang tidak aman untuk peradabannya, Buzz memiliki misi mengitari matahari dengan pesawat luar angkasa dalam kecepatan hyper. Setelah kembali dari misi yang baginya hanya beberapa saat, Buzz ternyata telah melewatkan banyak momen dalam waktu yang tak terduga. “Lightyear” menjadi film animasi dengan genre petualangan luar angkasa. Dimana Buzz memiliki sahabat dan tim lain sebelum menjadi figur mainan terpopuler.

Lightyear

Referensi Buzz Lightyear yang Tepat, Didukung dengan Musik Tema yang Ikonik

Menjadi spinoff yang memberikan panggung pada Buzz Lightyear, penokohan protagonis kita kali ini sudah cukup bagus. Terutama kecocokannya dengan berbagai referensi dari “Toy Story”.

Seperti pada kemunculan debutnya sebagai mainan terbaru Andy, Buzz adalah space ranger yang mandiri dan membutuhkan waktu untuk bisa bekerja sama dalam tim. Ia memiliki integritas kerja tinggi, tidak suka amatir, lebih suka mengandalkan diri sendiri, dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Penokohan tersebut akan kembali terlihat dalam film spin off ini. Begitu pula referensi quote ikoniknya, ‘menuju tak terbatas dan melampauinya’ hingga kebiasaannya melaporkan statusnya pada Komandan Bintang.

Bicara tentang kualitas animasinya, sudah pasti Pixar selalu bisa melampaui standar animasinya sendiri setiap kembali dengan project animasi terbaru. Buzz masih tampil ikonik dengan seragam space ranger hijau ungu putih yang terlihat lebih hidup, karena dalam kisah ini dia bukan mainan. Fitur yang menunjukan karakter mereka adalah manusia jadi lebih detail. Satu lagi elemen penokohan yang berkesan adalah lagu tema Buzz Lightyear. Lagu tema diaplikasikan pada adegan-adegan heroik yang monumental. Dijamin musik tema Buzz akan teriang untuk beberapa saat bahkan setelah filmnya selesai.

Lightyear

Keseruan Instan pada Babak Pertama, Sisanya Membosankan

Meski ada banyak elemen produksi yang unggul dalam “Lightyear”, penulisan naskah bukan kekuatan utama dari animasi terbaru Walt Disney ini. “Toy Story” merupakan film animasi terbaik Pixar hanya sampai seri ketiganya pada 2010. Film keempatnya saja sudah kehilangan keajaibannya. Begitu pula “Lightyear” yang tidak bisa dibilang sukses dalam eksekusi ceritanya. Tak sedikit penonton franchise animasi ini sekarang adalah penggemar yang sudah dewasa. Dengan kualitas plot yang demikian, kisah Buzz dengan tim terbarunya tidak menyajikan petualangan yang seheboh ekspektasi kita.

“Lightyear” memang dibuka dengan adegan yang membuat penonton semangat. Ketika Buzz mulai menjalankan misi mencapai kecepatan hyper, adegan tersebut juga masih membuat penonton bersemangat. Namun, babak pertama menghadirkan keseruan instan yang ternyata tidak bertahan lama. Seperti sudah terlalu banyak hal yang terjadi, ternyata durasi film bahkan belum sampai setengahnya.

Memasuki babak berikutnya, kelanjutan petualangan Buzz mulai terasa hambar. Sajian komedi dalam “Lightyear” juga kurang menggigit. Kehadiran Sox, robot kucing Buzz menjadi salah satu karakter yang cukup menghibur. Sayangnya karakter lain dalam tim Buzz satu ini tidak memiliki penokohan dan latar belakang yang menarik untuk meninggalkan kesan pada penonton. Hanya Buzz dan Sox yang ikonik dalam film kali ini.

Kontroversi Konten LGBT dalam Lightyear

Alasan utama yang membuat “Lightyear” tidak tayang di bioskop Indonesia adalah adanya konten LGBT dalam film anak-anak ini. Disney+ Hotstar pun akan menampilkan peringatan bahwa film animasi ini mengandung konten dewasa. Mungkin ada beberapa dari kita yang penasaran dengan konten bersangkutan. Apa “Lightyear” masih bisa dikategorikan tontonan layak buat yang mau menonton bersama anak di bawah umur?

Sedikit spoiler, konten LGBT yang diselipkan dalam film ini termasuk minor dalam keseluruhan plot. Pada babak pertama, Buzz memiliki sahabat sesama space ranger bernama Alisha Hawthorne. Ia memiliki istri bernama Kiko, kemudian memiliki anak laki-laki, yang kemudian menikah dan memberikan Alisha cucu perempuan. Sekuen adegan yang menunjukan kisah pendukung tersebut hanya memakan sekitar 2 sampai 3 menit screen time dengan transisi yan cepat.

Secara keseluruhan, “Lightyear” mengalami flop bukan hanya karena konten LGBT-nya, namun kualitas cerita juga tidak terlalu berkesan. Banyak dari kita akan ragu mengajak anak di bawah umur menonton film animasi, meski sebetulnya tidak seekstrim yang dibesar-besarkan media. Sementara bagi penonton dewasa, yang kebanyakan penggemar “Toy Story”, juga tidak akan merasa puas dengan kualitas petualangan Buzz Lightyear yang terbilang generik.

Bernadetta Yucki

Writer, hardcore movie enthusiast who believes in pop culture.

Share
Published by
Bernadetta Yucki