Connect with us
Hilda and the Mountain King
Netflix

Film

Hilda and the Mountain King Review

Adaptasi Hilda lainnya yang patut disimak.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Meneruskan kesuksesan miniseries “Hilda” (2018), Luke Pearson kembali membuat adaptasi terhadap grafik novelnya, dimana kali ini ia mengadaptasikannya ke dalam film. Pearson menjadi penulis naskah film adaptasi ini, sedangkan kursi sutradara ia percayakan kepada Andy Coyle.

Cerita film ini dimulai tatkala Hilda (Bella Ramsey) menyadari kalau ia telah berubah menjadi troll, sosok makhluk penghuni gunung berhidung mancung dan punya kekuatan fisik luar biasa. Ia pun panik dan lantas mencoba mengembalikan tubuhnya seperti sedia kala.

Pada suatu momen, bertemulah ia dengan sosok troll raksasa bernama Trundle (Dino Kelly). Trundle memberitahu Hilda kalau ia bisa mengembalikan wujud anak perempuan itu menjadi manusia, asalkan Hilda mau menuruti permintaannya. Di lain tempat, ibu dan teman-temannya Hilda tengah berupaya mencari tahu keberadaan Hilda, serta tentu saja mengembalikan anak perempuan itu seperti semula.

Hilda and the Mountain KingHilda and the Mountain King

Seperti versi miniseries-nya, animasi yang dipakai film ini masih dibuat dengan software Toon Boom Animation. Pemakaian software itu membuat animasinya bagaikan gambar karikatur 2 dimensi yang hidup. Animasi itu lantas dilengkapi warna beragam dengan tone yang jelas dan tak terlampau tajam. Penonton pun jadi nyaman melihat animasi yang tersaji di film ini.

Bella Ramsey didapuk sebagai pengisi suara Hilda si tokoh utama. Secara keseluruhan, aktris kelahiran 25 September 2003 ini mampu mengisi suara sang tokoh secara konsisten dan sesuai dengan usia sang tokoh. Bella bukan satu-satunya pengisi suara yang tampil konsisten di film ini. Ada pula Daisy Haggard selaku pengisi suara Joanna alias ibu dari Hilda, serta Ameerah Falzon-Ojo selaku Frida. Hanya John Hopkins yang tampil kurang konsisten, di mana di beberapa bagian artikulasinya terasa begitu kaku.

Andy Coyle dan Luke Pearson melakukan treatment terhadap film ini dengan alur yang mengalir dan dialog-dialog yang mudah dicerna. Sedikit plot twist dihadirkan di tengah cerita yang walau tak memberi efek kejut, setidaknya mampu membelokkan alur cerita ke arah tak terduga.

Deretan music scoring dan soundtrack pun dihadirkan di berbagai adegan. Semua sajian musik itu membuat adegan-adegannya makin hidup dan semarak. Semua itu berkat tangan dingin Ryan Carlson selaku penata musik. Kerja kerasnya menciptakan berbagai varian musik di film ini membuatnya mendapatkan nominasi Annie Awards ke-49 untuk kategori Best Music -TV/Media.

Premis utama film ini memang terletak pada upaya Hilda untuk kembali menjadi manusia lagi. Namun, sebetulnya film ini tak sekadar menceritakan lika-liku Hilda semata. Film ini juga hendak menyampaikan pesan kepada penonton–terutama orang tua–untuk sesekali membiarkan anak mereka bertindak dan mengambil keputusan, walau mereka masih di bawah 17 tahun. Pesan itu tersirat dari Johanna (Daisy Haggard) yang tak mengizinkan Frida (Ameerah Falzon-Ojo) dan David (Oliver Nelson) membantunya menolong Hilda yang notabene sahabat mereka berdua. Padahal, keduanya punya ide untuk bisa menemukan sekaligus menyelamatkan Hilda.

Untungnya, mereka berdua punya inisiatif untuk melakukan itu. Khusus untuk David, ia tak hanya dilarang oleh Johana, tetapi juga dari ibunya sendiri. Di akhir, David dan Frida turut berkontribusi walaupun tak banyak. Pesan soal keselarasan antara manusia dan lingkungan sekitarnya pun turut dihadirkan.

(Spoiler Alert) Pesan itu hadir di sepuluh menit akhir film. Di situ dijelaskan kalau ibu para Troll rupanya sengaja menidurkan dirinya di bawah tanah guna membiarkan manusia di atas tanah membangun pemukiman. Sayangnya, pengorbanan itu tak dihargai oleh para manusia di atas tanah tersebut. Mereka malah terus saja membangun banyak bangunan, serta menyerang para troll yang sering datang ke pemukiman. Di akhir, para penghuni pemukiman pun membiarkan para troll itu untuk masuk ke pemukiman guna mengenang sang ibu. Sosok ibu para troll pun lantas dibuatkan monumen yang diletakkan di tengah pemukiman. (Spoiler ends)

Akhir kata, Jake Pearson yang kini bekerja sama dengan Andy Cole berhasil mengulangi kesuksesan adaptasi novel grafisnya lewat film ini. Semua itu berkat penceritaan yang mengalir dengan secuil plot twist dan pesan-pesan positif, sajian animasi yang sama indahnya dengan adaptasi Hilda yang lain, dsb. Para penggemar Hilda dijamin puas menonton film adaptasi berdurasi 85 menit ini.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

Connect