Connect with us
Sampah daur ulang plastik
Tom Fisk on Pexles

Lifestyle

Hidup Berkalang Sampah

Jika fokus masalah plastik di alam adalah durasi terurainya, maka embel-embel “ramah lingkungan” tidaklah benar-benar ramah.

Tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) salah satunya menargetkan agar negara-negara di dunia harus mengambil tindakan untuk mengurangi timbunan sampah. Upaya pengurangan ini paling tidak tercermin dalam berbagai cara untuk mencegah, mengurangi, mendaur ulang hingga menggunakan kembali sampah. Oleh pemerintah Indonesia, dikeluarkanlah Peraturan Presiden 97 tahun 2017 sebagai regulasi yang menargetkan pengurangan sampah rumah tangga hingga 30% dan upaya penanganannya hingga 70%.

Persoalan sampah tentulah hal yang serius. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Laporan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2018 menunjukkan bahwa dengan jumlah penduduk Indonesia sebesar 261.115.456 jiwa di tahun 2016, jumlah timbunan sampah telah mencapai 65.200.000 ton. Sementara di tahun 2025, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai angka 284.829.000 jiwa.

Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah tentu akan berimplikasi pula pada sampah yang akan dihasilkan. Meski tidak sesederhana itu untuk menarik kesimpulannya, namun persoalan jumlah penduduk yang bertambah berkait kelindan dengan masalah-masalah sosial lainnya. Misal, perubahan pola konsumsi dan tentu saja perubahan gaya hidup.

Di Indonesia, pada tahun 2017, Surabaya menjadi kota dengan jumlah perkiraan produksi sampah tertinggi. Sampah yang dihasilkan Kota Surabaya yaitu 9.896,78 m3 per hari dengan volume sampah yang terangkut adalah 5.427,5 m3. Artinya, terdapat sekitar 4.469,28 m3 sampah yang tidak terangkut atau berarti hanya sekitar 54,84% sampah yang terangkut. Pertanyaanya, kemana perginya sampah yang tidak terangkut? Apakah upaya pendaurulangan sampah dalam hal ini dilakukan?

Daur ulang dalam hal ini menjadi sangat penting. Bagaimanapun, pengolahan kembali bahkan peremajaan benda-benda tertentu menjadi hal yang baru akan berimplikasi pada jumlah sampah yang akan dibuang. Selain itu, karena yang ditekan adalah proses produksi maka pendaurulangan sampah juga mampu mengurangi polusi dan gas emisi rumah kaca yang dapat dihasilkan dari pengolahan bahan baku baru.

Obesitas Plastik

Dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Indonesia Solid Waste Association, sampah plastik sangat tidak ramah lingkungan. Ia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai. Sayangnya, 57% sampah yang ditemukan di pantai adalah plastik. Imbasnya, hewan-hewan laut sangat bisa mengalami kegagalan untuk mengenali habitatnya sendiri.

Berangkat dari berbagai fenomena dan data, berbagai pihak baik secara lembaga maupun personal mengambil peran untuk mengatasi persoalan ini. Sebagai contoh, Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 27 Desember 2019 telah menetapkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 142 tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan, dan Pasar Rakyat.

Pasal 5 ayat 1 dalam pergub tersebut mewajikan pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat untuk menggunakan kantong belanja ramah lingkungan. Kantong belanja ramah lingkungan ini yang lalu ditegaskan pada ayat berikutnya bahwa yang dimaksud adalah kantong sekali pakai.

Pada tahun 2017, sampah yang dihasilkan oleh masyarakat DKI Jakarta (menurut data BPS) adalah sebanyak 7.164,53 m3 dengan volume sampah yang terangkut adalah 6.872,18 m3. Diantara tumpukan-tumpukan sampah tersebut, tentu saja sampah plastik mengambil peran.

Regulasi semacam ini tentu saja perlu diapresiasi mengingat berbagai data telah menunjukkan posisi Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik dengan jumlah yang besar. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa Indonesia telah menghasilkan sampah kantong plastik sebesar 10,95 juta lembar/tahun/100 gerai.

Hari ini, pihak industri telah membuat kantong plastik ramah lingkungan. Namun, label “ramah lingkungan” ternyata tidaklah sepenuhnya ramah. Plastik ramah lingkungan yang konon dapat dengan mudah terbiodegradasi atau terurai di alam masih tetap bisa utuh bahkan hingga sekitar tiga tahun lamanya. Artinya, jika fokus masalah plastik di alam adalah durasi terurainya, maka embel-embel “ramah lingkungan” tidaklah benar-benar ramah.

Click to comment

Leave a Comment

Hikmah Pandemi Corona Hikmah Pandemi Corona

Apa yang Bisa Kita Petik dari Sebuah Pandemi?

Lifestyle

Menjaga Kewarasan Saat Harus Di Rumah Aja

Lifestyle

cuci tangan cuci tangan

Bagaimana Sejarah Manusia dalam Menyadari Pentingnya Cuci Tangan?

Lifestyle

Tips Keuangan Corona Tips Keuangan Corona

Tips Keuangan Saat Wabah COVID-19

Lifestyle

Advertisement
Connect