Connect with us
foxtrot six review

Film

Foxtrot Six: Film Laga Yang Kurang Drama

Sepertinya ada sentuhan yang kurang pada naskah film ini. Yaitu unsur dramanya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Inilah film laga Indonesia yang seluruh dialognya menggunakan Bahasa Inggris. Kerennya lagi dialek para tokohnya mendekati sempurna. Para aktor dan aktris dalam film ini tidak kedengaran gagap dalam berbahasa Inggris. Dialog mereka terdengar fasih dan cukup enak didengar. Bahkan para pemain pendukung pun patut diacungi jempol karena mampu melafalkan dialog Bahasa Inggrisnya dengan baik. Sepertinya selama proses pembuatan film semua pemain mendapatkan pelatihan bahasa yang intensif selain pelatihan adegan laga dari ahlinya, Uwais Team milik Iko Uwais.

Foxtrot Six (2019) bertabur aktor dan aktris kawakan Indonesia. Sebut saja Oka Antara, Julie Estelle, Rio Dewanto, Arifin Putra, dan Chicco Jericho. Ada pula beberapa nama yang juga sudah malang melintang di dunia hiburan seperti Verdi Solaiman, Mike Lewis, Aurelie Moremans, dan Edward Akbar. Pertanyaannya adalah, bagaimana aktingnya? Kita pasti memasang ekspektasi tinggi bila melihat list aktornya. Sayangnya, biasa saja. Sepertinya ada sentuhan yang kurang pada naskah film ini. Yaitu unsur dramanya.

Tokoh utamanya adalah Angga (Oka Antara), seorang tentara yang telah berhenti dan beralih profesi menjadi anggota dewan korup. Angga terlihat meyakinkan dengan setelan jas menawan dan sikap menjilat yang agak menyebalkan. Ia ingin mendapatkan kekayaan lebih banyak lagi dengan cara melakukan propaganda heroik. Rencananya adalah menipu rakyat agar berpihak pada penguasa yaitu Presiden dan Partai Piranas sebagai partai penguasa. Tujuannya agar tidak semakin banyak lagi rakyat yang berbalik haluan mendukung kelompok oposisi yaitu Reform. Reform melakukan pemberontakan karena menyadari bahwa Indonesia di tahun 2031 ini telah menjadi negara kacau. Negara yang kaya dan maju tetapi menindas rakyatnya. Demokrasi sudah tidak berlaku lagi. Kelaparan terjadi di mana-mana.

The Four Horsemen-nya Indonesia alias 4 orang yang mengendalikan negara akhirnya menyetujui proposal propaganda Angga. Syaratnya, Angga harus bekerja sama dengan The Wolf alias Wisnu (Edward Akbar). Sebenarnya Wisnu memiliki tipikal wajah bengis dan tengil. Sekali lihat pun kita pasti setuju ia menjadi tokoh antagonisnya. Sayangnya, Wisnu masih kurang sangar dibanding aura dari The Four Horsemen yang justru hanya menempati porsi kecil dalam film. Lebih sialnya lagi Angga dikhianati oleh Wisnu dan dikambinghitamkan. Namun pengkhianatan ini justru membuahkan hasil karena Angga akhirnya bertemu dengan Sari (Julie Estele), mantan kekasihnya yang hilang sejak era reformasi.

Ternyata Sari-lah yang menjadi pemimpin pemberontakan. Sari dibantu oleh Spec (Chicco Jericho) yang tokohnya paling nanggung. Entah apa tujuan dari penulis naskah membuat tokoh Spec. Ia gagal terlihat misterius. Chicco Jericho juga tidak terlihat meyakinkan sebagai seseorang yang berasal dari antah berantah tapi ternyata jagoan. Ia lebih cocok berakting tengil dan bermulut kasar seperti dalam A Copy of My Mind atau Filosofi Kopi. Sampai akhir film pun, penonton masih dibuat bingung dengan Spec. Akhiran yang menggantung bisa menjadi petunjuk bahwa Foxtrot Six akan memiliki sekuel.

Ketika berusaha menghancurkan dominasi Piranas di Indonesia, Angga merekrut kawan-kawan lamanya di militer. Yaitu Oggi (Verdi Solaiman), Ethan (Mike Lewis), Bara (Rio Dewanto), dan Tino (Arifin Putra). Selanjutnya kita akan disuguhi banyak adegan baku hantam yang tak perlu diragukan koreografinya. Tapi entah mengapa scene-scene sadis dalam Foxtrot Six terasa kurang greget. Alih-alih menimbulkan ngeri dan membekas di ingatan, Foxtrot Six hanya sampai di bagian membuat kita menahan napas sedetik dua detik. Eksekusi yang kurang mantap sungguh disayangkan. Padahal adegan sadis yang menjadi jualan utama film ini memiliki potensi besar. Verdi Solaiman yang sering ditemui bermain dalam film komedi pun dapat memberikan kesegaran dalam film ini. Ia lucu dalam artian tidak berlebihan karena film ini adalah film laga.  Image-nya sebagai aktor komedi membuat kita mudah tertawa hanya dengan melihat ekspresinya.

Rio Dewanto yang digambarkan sebagai preman dan jagoan pun cukup menyenangkan untuk ditonton. Meski demikian sikap semaunya yang berusaha ia tampilkan kurang keluar. Yah… bisa dibilang baru mencapai angka 70 dari 100. Seharusnya ia dapat bersikap lebih slebor lagi melihat dari perannya. Arifin Putra sendiri sebagai seorang cerdas dan licik juga sudah tampil cukup baik meski seharusnya ia bisa lebih menyebalkan lagi. Akting menarik lainnya ditampilkan oleh Julie Estele. Ia adalah seorang ibu sekaligus seorang jagoan. Namun ia gagal dalam scene mengharu biru di Foxtrot Six. Inilah yang dimaksud kurang drama. Padahal naskahnya sendiri memang ingin memberikan sentuhan drama. Peran Aurelie Moremans juga terasa seperti selipan belaka karena kurang penting. Tidak ada penjelasan bagaimana ia tahu Wisnu telah memfitnah Angga.

Untuk film berbudget 70 milyar, Foxtrot Six review tidaklah mengecewakan. Apalagi berhasil masuk dalam box office selama 4 hari penayangan. Ada beberapa efek CGI yang kasar tapi secara garis besar sudah sangat baik. Perfilman Indonesia sendiri sudah semakin maju dengan adanya film ini. Settingnya pun terlihat niat dan tidak tanggung. Ruangan The Four Horsemen terlihat memikat dengan colouring dan lighting yang khas seperti ruangan ala film-film mafia. Scoringnya pun mantap dan benar-benar melengkapi film ini dengan baik.

Di luar itu semua, Indonesia yang berada di tahun 2031 nampak bagus. Meski demikian, masih ada yang terasa kurang. Setting ini mengingatkan kita pada The Hunger Games. Bedanya, Hunger Games nampak lebih suram dengan colouring yang membuat sepanjang film berada di bawah awan gelap. Lebih disayangkan lagi sikap semena-mena pihak militer kurang terasa nyata terhadap rakyat. Adegan memukulinya seperti lembut-lembut saja. Ada beberapa bagian yang tidak logis seperti Angga yang tidak juga mati walau sudah ditembak, tertusuk, dan dilempari granat. Angga sudah seperti Steven Seagal yang hampir selalu di atas angin meski sejujurnya mana ada manusia setangguh itu? Tetap saja, kita perlu mengapresiasi karya anak bangsa ini.

Script: 7/10
Cinematography: 7/10
Scoring: 8/10
Acting: 7/10
Setting: 8/10
CGI: 7/10

Click to comment

Leave a Comment

Connect