Connect with us
Cr. Katie Posner/The Atlantic

Lifestyle

Film vs Buku: Manakah yang Lebih Baik dan Untuk Siapa?

Lebih suka baca novel atau versi film?

Saat penggunaan internet masih belum meluas seperti sekarang, kita tentu hanya punya satu pilihan saja untuk menambah wawasan dan mencari hiburan, yaitu membaca buku atau menonton TV. Banyak di antara kita tentunya memiliki hobi membaca buku hingga saat ini.

Lalu bagaimana dengan sekarang, saat banyak sekali buku novel diadaptasi ke dalam film? Untuk di Indonesia sendiri, ada novel-novel populer yang sudah diangkat ke versi filmnya seperti novel laris “Ayat-Ayat Cinta”, “Dilan 1990”, “5 cm”, “Perahu Kertas”, “Antologi Rasa”, dan masih banyak lagi.

Bagi sebagian orang, menonton versi filmnya lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Hanya saja, kita harus mempertimbangkan juga kecepatan internet di rumah untuk bisa menonton film-film itu secara streaming dengan lancar. Kita perlu melihat kecepatan internet dengan melakukan Uji Kecepatan Internet untuk mengecek apakah jaringan WiFi di rumah cukup stabil untuk menonton film-film streaming. Jika dianggap masih kurang stabil, maka kita bisa mencoba layanan yang disediakan oleh Telkomsel.

Lalu pertanyaannya sekarang adalah apakah masyarakat kini lebih tertarik untuk melihat versi layar lebarnya atau versi novelnya? Dengan kata lain, apakah orang-orang lebih suka menonton film dibandingkan dengan membaca buku?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh SuperSummary, sebuah sumber online yang menyediakan panduan studi bagi buku fiksi maupun non-fiksi, seputar pertanyaan: buku atau film? Perusahaan ini telah bertanya kepada sebanyak 2030 responden, berusia antara 23 hingga 62 tahun, untuk menjawab pertanyaan tentang buku-buku yang diadaptasi ke versi layar lebar atau bahkan serial TV.

Dan hasilnya adalah cukup dekat. Secara keseluruhan, ada 34% responden yang menikmati bacaan buku, sementara 27% orang lebih suka menonton versi layar lebarnya. Meskipun terdapat 82% orang yang disurvei itu setuju bahwa adaptasi ke layar lebar akan dapat membantu buku menghidupkan adegan-adegan yang tertulis pada buku, namun ada sebanyak 46% responden setuju bahwa adaptasi novel ke versi layar lebar tidak akan sebagus novelnya. Bahkan hampir 25% responden menyatakan bahwa film telah merusak buku aslinya.

Alasan paling kuat mengapa mereka tidak menyetujui adaptasi novel ke layar lebar adalah karena film menjadi terlalu berbeda daripada apa yang tertulis di buku. Bahkan 13,4% responden menyatakan bahwa film seringkali kehilangan detail-detail adegan yang penting. Tidak hanya itu, sebanyak 10% orang yang disurvei menyatakan bahwa mereka tidak suka dengan batasan 2 jam film yang mengadaptasi cerita di buku yang berisikan ratusan bahkan ribuan halaman.

Bagaimanapun juga, dalam menjawab pertanyaan seputar film versus buku, maka hasil survei di atas juga cukup mengejutkan. Alasannya adalah film-film populer hasil adaptasi dari novel seperti “Forrest Gump”, “Jurassic Park”, “Charlie and the Chocolate Factory” dan bahkan “Harry Potter” ternyata lebih banyak disukai untuk ditonton oleh para responden dibandingkan membaca novel-novelnya. Misalnya saja film “Forrest Gump”, sebanyak hampir 77% responden sangat menikmati versi layar lebarnya, dimana hanya sekitar 5,6% responden menikmati versi bukunya.

Di Indonesia sendiri, versi novel akan tetap disukai oleh masyarakat terutama mereka yang sudah merasa nyaman dengan membaca buku. Bagi mereka yang sudah mempunyai hobi membaca buku, tentu tidak masalah membaca buku favorit mereka halaman demi halaman hingga tuntas. Namun bagi mereka yang kurang suka dengan membaca buku, tentunya cenderung untuk lebih memilih menonton film-film favorit mereka, baik di bioskop maupun secara streaming di device mereka. Dan semua ini pastinya tergantung selera masing-masing.

Isu Kemanusian dalam Blade Runner 2049

Entertainment

Pentas Teater Orang-Orang Berbahaya Pentas Teater Orang-Orang Berbahaya

Orang-orang Berbahaya: Membongkar Kesalahan Masa Lalu Lewat Penyelidikan Detektif

Stage

The Dark Knight Rises The Dark Knight Rises

The Dark Knight Trilogy: Perjalanan Epik Batman dalam Tiga Babak

Entertainment

Mia Goth "Pearl" (Cr. A24) Mia Goth "Pearl" (Cr. A24)

Mia Goth, Perempuan ‘Sinting’ Baru Dekade Ini

Entertainment

Connect