Connect with us
Fast & Feel Love Review

Film

Fast & Feel Love Review: Pendewasaan Diri Seorang Atlet Sport Stacking

Drama komedi Thailand yang sukses mengocok perut sekaligus memberi makna.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Setelah sukses dengan karya sebelumnya “Happy Old Year” (2019), sutradara yang juga seorang penulis naskah asal Thailand Nawapol Thamrongrattanarit kembali muncul ke permukaan dengan karya terbarunya “Fast & Feel Love” (2022).

Sekilas, saat pertama kali melihat poster filmnya kita akan mengira ini merupakan film action. Bahkan judul dan font posternya sendiri mirip dengan “Fast & Furious”. Namun setelah menonton filmnya, kita akan tahu bahwa “Fast & Feel Love” memang sengaja dibuat sedemikian rupa sebagai film drama komedi dengan banyak referensi film di dalamnya. Bahkan film ini bisa dikatakan sebagai karya terbaik Nawapol Thamrongrattanarit sejauh ini.

Fast & Feel Love

Antara Passion & Pendewasaan Diri

“Fast & Feel Love” bercerita tentang Kao (Nat Kitcharit) yang merupakan seorang atlet sport stacking, atau yang juga dikenal sebagai olahraga cup stacking. Kao menghabiskan seluruh hidupnya berlatih untuk memecahkan rekor sport stacking tercepat di dunia.

Obsesi berlebih Kao terhadap sport stacking membuatnya melupakan kehadiran orang-orang sekitarnya, termasuk pacarnya Jay (Urassaya Sperbund) yang telah senantiasa menemaninya untuk menjadi atlet sport stacking internasional.

Permasalahan muncul ketika Jay memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Kao. Jay merasa selama ini Ia telah banyak membuang waktu untuk mengurusi Kao hingga Ia lupa untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Putusnya hubungan Kao dan Jay membuat kehidupan Kao berubah. Kao harus fokus mempersiapkan diri untuk bersaing dengan penantang sport stacking baru yang sedang naik daun. Namun di saat yang bersamaan, Kao juga harus belajar ketrampilan dasar kehidupan sehari-hari seperti menyetrika, mencuci pakaian, mengepel, memperbaiki pompa air dan ketrampilan dasar lainnya.

Pekerjaan sederhana semacam itu mungkin tampak mudah bagi orang lain, namun bagi Kao yang telah mendedikasikan 30 tahun hidupnya hanya untuk olahraga sport stacking, pekerjaan rumah semacam itu merupakan sebuah petaka. Terlepas dari itu semua, tugas paling sulit bagi Kao adalah memenangkan kembali hati Jay.

Fast & Feel Love

Film ini tebilang berhasil menyentil problematika yang kerap dialami banyak orang, yakni perihal pendewasaan diri. Kita akan diperlihatkan beratnya proses pendewasaan seorang Kao yang terlalu bergantung pada Jay sepanjang hidupnya.

Kao yang hanya tahu tentang teknik sport stacking dan hanya mengandalkan Jay sebagai pacarnya untuk mengurusi pekerjaan rumah menjadi suatu penggambaran yang pas bagaimana pentingnya proses pendewasaan bagi setiap orang.

Selain itu, sebagai film drama komedi, “Fast & Feel Love” juga berhasil mengusung unsur drama yang cukup relatable bagi para penonton di era sekarang. Melalui karakter Kao, kita akan melihat bagaimana pentingnya menjalani passion dan kehidupan sehari-hari secara seimbang.

Kao sangat terobsesi dengan sport sacking. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk olahraga itu hingga Ia lupa akan kehadiran orang-orang sekitarnya yang setia menemani dan mendukungnya. Kao lupa akan dukungan dan doa ibunya sendiri, Kao juga lupa Jay sebagai pacarnya yang selalu merawat dan mendukungnya untuk menjadi atlet sport stacking tercepat di dunia.

Keberhasilan Penulisan Naskah, Komedi & Referensi

“Fast & Feel Love” berhasil menjadi film komedi Thailand yang layak ditonton tahun ini. Jokes dalam film ini sukses disampaikan secara kreatif melalui verbal maupun ekspresi para aktornya.

Tentu penulisan naskah garapan Nawapol Thamrongrattanarit menjadi nyawa utama dalam film ini. Kreativitas Nawapol dalam menulis naskah membuat film dengan premis klise menjadi lebih menarik, bermakna dan original. Nawapol banyak bermain di aspek metafora yang cukup membuat para penonton dalam sekejap merefleksikan dirinya masing-masing.

Lalu alasan lain “Fast & Feel Love” patut menjadi film komedi terbaik tahun ini adalah sang sutradara yang menyematkan banyak referensi film lain sebagai wujud dari penghormatan. Contohnya adalah penyematan referensi “Parasite” (2019) karya Bong Joon Ho, “Star Wars: The Empire Strikes Back” (1980)”, “Ip Man” dan beberapa film lainnya. Uniknya penempatan referensi ini tidak terkesan cringe, malahan semakin menambah tingkat komedi dari “Fast & Feel Love” itu sendiri.

Pada akhirnya narasi film ini berusaha mengeksplorasi tentang pendewasaan diri yang harus kita hadapi seiring bertambahnya usia. Apapun passion dan cita-cita kita, kita masih perlu memerhatikan serta mengapresiasi orang-orang sekitar kita. “Fast & Feel Love” dapat ditonton di Netflix.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect