Connect with us
Coda review
Apple TV+

Film

CODA Review: Antara Mimpi dan Menjadi Telinga Bagi Orang Lain

Kisah seorang remaja Children of Deaf Adults dalam menggapai impiannya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pada perhelatan Academy Awards ke-94 lalu, “CODA” (2021) menjadi salah satu film yang menjadi sorotan. Pasalnya salah satu aktornya, Troy Kotsur berhasil menjadi aktor tuna rungu pertama yang memenangi Oscar untuk kategori Best Supporting Actor untuk perannya di CODA.

Tidak hanya itu, “CODA” juga menjadi salah satu film yang menyabet banyak penghargaan lain, termasuk kategori film terbaik dalam Sundance Films Festival 2021. Bahkan film arahan Sian Heder ini memenangkan rekor kesepakatan distribusi sebesar $25 juta dengan Apple TV+.

Kisah Keluarga Tuna Rungu

Seperti judulnya, “CODA” yang merupakan abreviasi dari Children of Deaf Adults ini berkisah tentang Ruby (Emilia Jones), seorang remaja perempuan yang hidup di tengah keluarga penyandang tuna rungu. Ruby menjadi satu-satunya orang yang dapat mendengar di keluarganya. Orangtua Ruby, Frank (Troy Kotsur) dan Jackie Rossi (Marlee Matlin), serta kakaknya Leo Rossi (Daniel Durant) semuanya terlahir dengan kondisi tuna rungu.

Karena menjadi satu-satunya anggota keluarga yang bisa mendengar, Ruby diandalkan untuk membantu bisnis penangkapan ikan keluarganya. Ruby dibebani tanggung jawab sebagai penerjemah American Sign Languange (ASL) keluarganya untuk komunitas nelayan lokal.

Di sekolah, hidup Ruby berubah saat ia bertemu dengan guru musiknya, Bernardo Villalobos atau dikenal sebagai ‘Mr. V’ (Eugenio Derbez). Dalam ekstrakulikuler paduan suara, Mr V melihat bakat Ruby dalam menyanyi namun merasa Ruby kurang percaya diri. Ia bersikeras melatih Ruby untuk mengikuti audisi beasiswa Berklee College of Music. Dari sini, konflik mulai dibangun dengan menyoroti prioritas Ruby yang dilematis untuk memilih antara sekolahnya, keluarganya, atau mimpinya untuk menjadi seorang penyanyi.

“CODA” sendiri sebenarnya merupakan remake dari drama-komedi Prancis La Famille Bélier” (2014) dengan sinopsis yang hampir sama, yaitu tentang anak perempuan yang hidup di tengah keluarga tuna rungu, dan memiliki mimpinya sendiri. Namun rasanya “CODA” memang pantas memborong banyak penghargaan karena telah menyuguhkan drama coming of age yang cukup emosial dan sedikit menyentil isu hak-hak kaum disabilitas yang masih ‘di anak tirikan’.

Coda review

Premis Klise, Namun Menyentuh Hati

Seperti halnya drama coming of age lain, “CODA” mempunyai premis sederhana di mana sang tokoh utama berusaha menggapai mimpinya, namun di tengah perjalanannya, terdapat pertentangan atau hambatan dari keluarga atau orang-orang sekitarnya. Premis semacam ini memang telah diadaptasi ratusan bahkan ribuan film sejenis, atau dengan kata lain — klise. Namun entah kenapa sepanjang durasi 111 menit, “CODA” cukup sukses membangun suasana yang emosial dan tak membosankan.

Salah satu scene yang cukup membekas yaitu ketika keluarga Ruby menonton penampilannya di pentas seni di sekolah, lalu suara nyanyian Ruby dan Miles (Ferdia Walsh-Peelo) sengaja dibuat mute agar kita dapat memahami sudut pandang orang tua dan kakak Ruby sebagai penyandang tuna rungu. Dengan adanya scene itu, kalian bakal dibuat jatuh hati sekaligus terhubung secara emosional dengan Ruby yang berusaha menggapai impiannya dan para anggota keluarga dengan egonya masing-masing.

Setiap konflik dalam film ini dipresentasikan dengan lugas dan seksama. Setiap karakter diberi ruang pengisahan sendiri-sendiri sehingga membuat kehadiran mereka mampu meninggalkan kesan yang mendalam di benak para audiens.

Coda

Akting yang Berkelas

Salah satu aspek yang lagi-lagi patut mendapat pujian adalah dari departemen aktingnya. Semua aktor dalam film ini berhasil menyuguhkan penampilan terbaik mereka dalam menghidupkan tiap-tiap karakternya.

Emilia Jones sebagai Ruby tentu menjadi ‘tulang punggung’ utama dalam pengisahan film ini. Ia berhasil tampil dengan emosional tanpa terasa terlalu berlebihan dalam setiap adegan penampilannya. Tidak ketinggalan performa epik dari Troy Kotsur yang memenangkan Academy Award untuk perannya sebagai Frank, ayah dari Ruby.

Chemistry di antara Jones, Kotsur, Matlin dan Durant berhasil meyakinkan penonton bahwa mereka benar-benar keluarga. Momen-momen paling emosional dalam film ini bahkan banyak muncul dari adegan-adegan hening tanpa dialog yang tampil ketika interaksi di antara keluarga dengan menggunakan bahasa isyarat.

Naskah cerita garapan Heder ini secara handal memberikan ruang pengisahan bagi tiap karakter yang hadir dalam linimasa film, serta memberikan kesempatan bagi setiap pemeran untuk meninggalkan kesan tersendiri yang tidak akan mudah untuk dilupakan begitu saja.

Pada akhirnya “CODA” bukan sekadar kisah roman dan ambisi seorang remaja yang dibuat dramatis, melainkan lebih dari itu. Film ini membawa pendekatan realistis kehidupan keluarga tuna rungu kelas menengah kebawah di Amerika Serikat, bagaimana mereka bertahan dan berinteraksi dengan keluarga maupun masyarakat sekitar.

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Happiest Season Happiest Season

Rekomendasi Film Chick Flick 2020an

Cultura Lists

Kilas Balik Trilogi Baru Star Wars: Kehancuran Sebuah Franchise

Entertainment

My Missing Valentine My Missing Valentine

My Missing Valentine: Menyusuri Ingatan Satu Hari yang Hilang

Film

Connect