Connect with us
Are You There God? It's Me, Margaret.
Lionsgate

Film

Are You There God? It’s Me, Margaret. Review: Gadis yang Mencari Jati Diri dan Tuhan

Drama coming of age seputar pubertas gadis remaja dan dilema menentukan kepercayaan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Are You There God? It’s Me, Margaret.” merupakan film drama coming of age yang sudah masuk Netflix untuk kita tonton. Film ini disutradarai oleh Kelly Fremon Craig, diadaptasi dari novel klasik bertajuk serupa oleh Judy Blume yang terbit pada 1970, menjadi latar waktu juga untuk kisahnya.

Dibintangi oleh aktris muda, Abby Ryder Fortson sebagai Margaret Simon, gadis remaja 11 tahun yang pindah dari New York ke New Jersey karena pekerjaan ayahnya. Di tempat tinggal barunya tersebut, Margaret memulai babak baru masa remajanya yang penuh pengalaman pertama.

Abby Fortson mungkin tampak familiar, sebelumnya ia bermain sebagai Cassie Lang kecil, anak Scott Lang dalam dua film pertama “Ant-Man”. Film drama kehidupan ini juga dibintangi oleh Rachel McAdams, Elle Graham, Benny Safdie, dan Kathy Bates. Ini akan membawa kita kembali pada kehangatan film drama coming of age untuk karakter di awal belasan tahunnya. Seperti “Little Manhattan” dan “Flipped” yang tak hanya diisi kisah drama remaja bermakna, namun juga elemen komedi yang menghibur.

Are You There God? It's Me, Margaret.

Margaret Terlahir dari Pernikahan Beda Agama

Agama menjadi salah satu bagian dalam hidup kita yang hadir untuk menentukan jati diri kita. Namun Margaret lahir dari pernikahan beda agama, ibunya beragama Kristen sementara ayahnya adalah seorang Yahudi. Kedua orang tuanya sepakat untuk tidak mengajarkan agama apapun untuk Margaret, ia diberikan kebebasan untuk memilih agamanya sendiri ketika sudah dewasa. Meski demikian, Margaret kerap berbicara dengan Tuhan ketika sedang sendirian.

Topik ini menjadi subyek yang mengendarai keseluruhan plot dari “Are You There God? It’s Me, Margaret.”, membuat naskah memiliki visi dan plot yang jelas meski akan mencangkup berbagai hal selain tentang agama. Cerita yang disampaikan dari topik ini juga memberikan perspektif yang terasa baru sekaligus relevan di skena penonton Indonesia. Agama masih menjadi subyek yang penting dalam masyarakat kita terutama dalam menentukan identitas diri.

Margaret sebagai protagonis sekaligus narator kita memiliki cara yang sederhana dan jelas dalam memahami fenomena di sekitarnya. Sebagai anak dari pasangan yang harmonis meski dengan perbedaan agama, Margaret jadi lebih netral dalam menuangkan opininya. Komunikasinya dengan siapapun Tuhan yang sedang berusaha ia jangkau juga membuatnya berbeda dari film coming of age lain dengan gaya narasi serupa.

Are You There God? It's Me, Margaret.

Drama Coming of Age yang Bermakna Sekaligus Jenaka

Pelajaran agama yang diterima oleh Margaret sebetulnya masih level permukaan dalam kisah ini. Ini juga bukan film religius yang melulu membahas agama. Ada banyak pengalaman dan momen keseharian Margaret yang sangat menarik untuk kita simak. Membuat kita kembali mengingat masa-masa remaja dulu, terutama untuk penonton perempuan. Mulai dari pengalaman cinta pertama, pembicaraan seputar apa yang dialami perempuan ketika melalui masa pubertas, dan berbagai pesta serta liburan yang menyenangkan bersama teman-teman.

Interaksi antara remaja laki-laki dalam film lebih populer kekonyolan dan kelucuannya. Sementara remaja perempuan biasanya berusaha menjaga image mereka dan tidak diperlihatkan melakukan banyak hal konyol. Namun geng Margaret dan teman-temannya tak pernah gagal membuat kita tertawa dengan perbincangan sok dewasa mereka.

Anak perempuan juga bisa konyol dan brutal dalam mengeluarkan pemikiran mereka. Rasa penasaran mereka akan hal tabu juga tak kalah menggebuh-gebuh. Ini selalu menjadi plot yang lucu bagi penonton dewasa yang dulu pernah muda.

Penampilan Berkesan dari Abby Ryder Fortson dan Rachel McAdams

“Are You There God? It’s Me, Margaret.” bisa digolongkan sebagai film feel-good. Memang akan muncul beberapa konflik dalam plot, namun tidak yang berkembang menjadi konflik dramatis dan terlalu merusak suasana hati. Semua masalah yang dihadapi oleh Margaret adalah masalah-masalah yang wajar dan sebetulnya tidak serumit itu, apalagi di mata penonton dewasa. Namun tetap memiliki presentasi topik yang sangat menarik untuk dieksplorasi.

Ini menjadi penampilan akting Abby Ryder Fortson yang bisa menjadi batu loncatan untuknya di Hollywood. Sang aktris masih muda, ia masih memiliki masa depan di industri ini. Ia membuat Margaret menjadi karakter yang relevan sekaligus spesial. Margaret bukan anak yang mencolok dan berani mengungkapkan pendapatnya setiap saat, namun ia tahu kapan suaranya harus didengar. Ia anak yang ceria, ingin relevan dan tidak tertinggal, namun tetap memiliki moral kompas yang benar.

Selain Fortson, Rachel McAdams sebagai ibu Margaret, Barbara, juga tampil menarik. Kisahnya menjadi side plot dari kisah utama Margaret yang juga menarik untuk disimak. Barbara adalah wanita yang terlalu baik, berusaha untuk membahagiakan semua orang, dan ini menjadi kisahnya menemukan kebebasan batinnya sendiri. Skala konfliknya sangat kecil, justru membuatnya relevan dengan wanita yang posisinya sama dengan karakter ini.

Secara keseluruhan, “Are You There God? It’s Me, Margaret.” merupakan film drama coming of age yang sangat menghibur sekaligus memberikan perspektif baru tentang agama. Memasuki musim liburan akhir tahun, film drama seperti bisa jadi tontonan menyenangkan di Netflix.

The Holdovers The Holdovers

The Holdovers Review: Tidak Semua Liburan Adalah Liburan Terindah

Film

Dream Scenario Dream Scenario

Dream Scenario Review: Popularitas Berujung Mimpi Buruk

Film

Emma Stone Emma Stone

10 Film Emma Stone Terbaik dan Terikonik

Cultura Lists

Oppenheimer & Maestro Oppenheimer & Maestro

Oppenheimer & Maestro: Film Biopik yang Miliki Banyak Kesamaan

Entertainment

Connect