Quantcast
Kejahatan yang Disamarkan Sebagai Kasih Sayang - Cultura
Connect with us
The Housemaid Korea

Cultura Lists

Kejahatan yang Disamarkan Sebagai Kasih Sayang

Potret grooming dalam film.

Grooming jarang hadir sebagai kekerasan yang langsung terlihat. Ia tumbuh pelan, lewat perhatian, kepercayaan, dan manipulasi emosional yang sering kali luput dikenali—bahkan oleh korban dan orang-orang terdekatnya. Sinema, dalam bentuk fiksi maupun dokumenter, menjadi medium penting untuk membaca ulang pola ini: bukan untuk meromantisasi, melainkan untuk membongkar.

Di balik perhatian, pujian, dan “kedekatan”, grooming bekerja pelan-pelan. Membangun kepercayaan sebelum mengambil kendali. Lewat film-film ini, kita belajar membaca pola: manipulasi, ketimpangan kuasa, dan luka yang sering tak terlihat. Karena kesadaran adalah bentuk perlindungan paling awal.

“Grooming bukan tentang nafsu semata, tapi tentang kontrol dan manipulasi psikologis yang sistematis. Sebagaimana pesan yang tersirat dalam ‘Broken Strings’ karya Aurélie Moeremans trauma mungkin tidak kasat mata, namun dampaknya nyata dan menetap. Mari lebih peka, lebih skeptis, dan lebih berani bersuara.”

Berikut deretan film yang mengulas grooming secara beragam—dari yang subtil dan psikologis hingga yang brutal dan nyata—dan mengapa penting untuk ditonton dengan kesadaran kritis.

Lolita

1. Lolita (1962 / 1997)

Mengisahkan Humbert Humbert, pria dewasa yang terobsesi pada Dolores “Lolita” Haze, seorang gadis remaja. Cerita disampaikan dari sudut pandang Humbert, dengan bahasa dan visual yang kerap terasa puitis.

“Lolita” adalah studi klasik tentang grooming berbasis narasi. Humbert membingkai manipulasi, kontrol, dan eksploitasi sebagai “cinta”, menggunakan bahasa romantis untuk menutupi ketimpangan kuasa yang ekstrem.

Bukan untuk dinikmati, tapi untuk dikritisi. Film ini penting sebagai contoh bagaimana budaya—melalui estetika dan sudut pandang—pernah (dan kadang masih) meromantisasi relasi predator. Lolita mengajarkan bahwa cara cerita disampaikan bisa sama berbahayanya dengan isi ceritanya.

2. The Tale (2018)

Seorang perempuan dewasa mulai mempertanyakan ulang kenangan masa kecilnya, ketika ia menyadari bahwa “hubungan spesial” dengan pelatihnya dulu sebenarnya adalah bentuk pelecehan.

Film ini memperlihatkan grooming sebagai proses yang begitu halus hingga korban sendiri tidak menyadarinya selama puluhan tahun. Pelaku membangun kepercayaan, rasa istimewa, dan normalisasi perlahan.

“The Tale” menunjukkan bagaimana trauma bisa tertanam dalam memori dengan cara yang terdistorsi. Film ini penting untuk memahami mengapa banyak korban baru menyadari kekerasan yang dialaminya di usia dewasa.

Trust (2010)

3. Trust (2010)

Seorang remaja perempuan berkenalan dengan pria dewasa melalui internet. Hubungan daring itu perlahan berubah menjadi mimpi buruk bagi dirinya dan keluarganya.

Grooming digital: pelaku menggunakan identitas palsu, empati palsu, dan validasi emosional untuk menarik korban ke dalam relasi berbahaya.

Film ini relevan di era media sosial. “Trust” menyoroti betapa cepat batas antara ruang aman dan ancaman bisa kabur, terutama bagi remaja yang sedang mencari penerimaan.

Girl in the Basement (2021)

4. Girl in the Basement (2021)

Terinspirasi dari kasus nyata, film ini mengikuti kisah seorang ayah yang menyekap dan mengontrol putrinya sendiri selama bertahun-tahun.

Grooming berbasis kekuasaan absolut dalam keluarga. Kontrol emosional, ketakutan, dan isolasi digunakan untuk menghancurkan kehendak korban.

Meski berat, film ini menegaskan bahwa grooming tidak selalu datang dari orang asing. Ancaman sering kali berada di ruang yang seharusnya paling aman.

5. May December (2023)

Seorang aktris meneliti hubungan kontroversial antara seorang perempuan dewasa dan pria yang dulu masih remaja, bertahun-tahun setelah skandal itu terjadi.

Film ini membedah grooming dari jarak waktu. Relasi yang dulu dianggap “skandal cinta” dibaca ulang sebagai manipulasi dengan dampak jangka panjang.

“May December” penting karena menunjukkan bagaimana masyarakat sering gagal membaca grooming, terutama ketika pelakunya perempuan atau relasinya dibingkai sebagai “unik”.

6. V síti / Caught in the Net (2020)

Dokumenter Ceko di mana perempuan dewasa menyamar sebagai gadis remaja untuk mengungkap predator online.

Transparan dan sistematis. Film ini memperlihatkan pola yang berulang: pujian, rayuan, manipulasi, lalu tekanan seksual. Karena nyata dan mengganggu. “V síti” membuka mata tentang betapa masif dan terorganisirnya grooming di dunia digital.

7. Groomed (2021)

Sutradara Gwen van de Pas menyelidiki pengalamannya sendiri sebagai korban grooming dan bertemu dengan korban lain.

Ditampilkan dari sudut pandang korban, bukan pelaku. Fokus pada proses emosional: kebingungan, rasa bersalah, dan kehilangan kepercayaan diri.

Film ini penting karena mengembalikan suara pada korban, bukan pada sensasi kasus. Ia membantu penonton memahami dampak jangka panjang grooming.

Abducted in Plain Sight (2017)

8. Abducted in Plain Sight (2017)

Dokumenter tentang seorang pria yang menculik anak perempuan berulang kali—dengan restu dan kepercayaan orang tuanya.

Ekstrem dan mencengangkan. Pelaku tidak hanya menggroom korban, tapi juga seluruh keluarga dan lingkungan sekitarnya. Film ini menunjukkan bahwa grooming adalah kejahatan sosial, bukan hanya personal. Ia bekerja lewat manipulasi kolektif.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Cultura Magazine (@culturamagz)

Film-film ini tidak menawarkan kenyamanan. Tapi justru di situlah nilainya. Dengan menonton secara kritis, kita belajar bahwa grooming bukan soal “kesalahan korban” atau “kisah cinta terlarang”, melainkan tentang kuasa, manipulasi, dan kegagalan budaya dalam melindungi yang rentan.

Membaca ulang narasi seperti ini adalah langkah awal: agar kita tidak lagi terkecoh oleh cerita yang terlihat manis, tapi menyimpan luka panjang di dalamnya.

the voice of hind rajab the voice of hind rajab

Ingatan, Kekerasan, dan Sunyi Moral dalam “The Voice of Hind Rajab”

Film

Farha Review Farha Review

Farha Review: Trauma, Ingatan, dan Politik Sunyi

Film

Anjaam Pathiraa Anjaam Pathiraa

Anjaam Pathiraa: Ketika Kejahatan Menjadi Teka-Teki Psikologis

Film

greenland 2 migration greenland 2 migration

Greenland 2: Migration Review – Ketika Bertahan Hidup Tak Lagi Cukup

Film

Advertisement Drip Bag Coffee
Connect