Connect with us
Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia
Image via Broadcastmed.com

Lifestyle

10 Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Tidak hanya Covid-19 yang perlu kita waspadai kehadirannya.

Pro kontra seputar virus corona alias COVID-19 masih ramai dibicarakan. Media dituding membesar-besarkan penyebaran wabah virus ini sementara pemerintah dianggap kurang tanggap. Sampai dengan 11 Maret 2020 tercatat 121.564 kasus di seluruh dunia. Total jumlah yang sembuh mencapai 66.239 kasus dan korban meninggal sebanyak 4.373 kasus. Saat ini Italia memberlakukan lockdown di seluruh wilayah negaranya karena telah memiliki 10.149 kasus positif COVID-19.

Sebenarnya, perlukah kita panik dengan kehadiran COVID-19? Memang benar virus ini memiliki penyebaran yang cepat. Diduga, anak-anak merupakan carrier terhadap virus ini. Mereka memiliki imunitas lebih baik dan memiliki sedikit bahkan hampir tak bergejala sama sekali.

Baca Juga: FAQ Corona: Tanya Jawab Seputar COVID-19

Kondisi terburuk justru dialami para lansia yang mudah jatuh ke dalam kondisi kritis. Namun bukan berarti penyakit ini adalah hukuman mati bagi penderitanya. Dengan tingkat kematian kurang dari 3%, kemungkinan sembuh sangat tinggi. Beberapa dilaporkan sembuh dalam waktu kurang dari dua minggu.

Sebenarnya, apa penyakit yang sebaiknya lebih kita waspadai? Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada sepuluh penyebab kematian paling banyak di dunia. Virus corona atau bukan salah satunya.

Jantung Koroner

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2000 dan 2016 diketahui bahwa penyakit paling mematikan nomor satu di dunia adalah jantung koroner. Bila pada 2000 tercatat kurang lebih 7 juta kematian maka di tahun 2016 naik hingga lebih dari 9 juta kematian.

Di Indonesia setiap tahunnya tercatat rata-rata ada 2 juta kasus penyakit jantung koroner. Penyakit ini ditandai dengan tiga ciri utama yaitu sakit pada dada (angina), serangan jantung, dan gagal jantung. Ada gejala lain juga meski tidak begitu umum seperti palpitasi jantung dan sesak napas yang tidak biasa. Palpitasi merupakan kondisi ketika seseorang merasakan degup jantung yang begitu cepat.

jantung koroner
Image via healthline.com

Penyakit jantung koroner merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut kondisi ketika suplai darah terhalang atau terganggu oleh penumpukan lemak di arteri koroner. Proses terjadinya hal ini disebut sebagai arterosklerosis. Beberapa penyebabnya antara lain merokok, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Jantung koroner tidak dapat disembuhkan total tetapi dapat ditekan risikonya dengan mengubah gaya hidup, obat-obatan penunjang, dan operasi.

Seseorang pun dapat memulihkan diri bila telah menjalankan prosedur operasi. Meski demikian bukan berarti orang tersebut dapat hidup bebas tanpa menjaga pola hidupnya. Inilah mengapa kita perlu memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi setiap harinya. Selain itu rajin berolahraga tentu membantu.

Stroke

Kondisi kedua yang mematikan adalah stroke. Pada 2016 tercatat hampir 6 juta kematian akibat stroke di seluruh dunia. Per tahun tercatat kurang lebih 150.000 kasus stroke terjadi di Indonesia. Stroke adalah kondisi ketika suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang. Ini menyebabkan otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup. Sel dalam otak pun dapat mati dalam hitungan menit.

stroke
Image via tehrantimes.com

Stroke adalah penyakit dimana nyawa pasien bergantung pada tindakan penyelamatan secepat mungkin. Semakin cepat pasien ditangani maka risiko kerusakan otak dan komplikasi lainnya dapat ditekan. Pengobatan yang efektif pun dapat menghindari pasien stroke dari kondisi disabilitas. Gejalanya sendiri cukup mudah dideteksi seperti kesulitan berbicara, bergerak, melihat, kondisi mati rasa, serta sakit kepala. Penyebabnya adalah arteri yang terhambat atau pembuluh darah yang pecah.

Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang rentan terhadap stroke. Misalnya, memiliki berat badan berlebih. Seseorang juga lebih rentan terhadap stroke bila memiliki kebiasaan minum minuman keras, tidak aktif secara fisik, menggunakan obat-obatan terlarang, tekanan darah tinggi, merokok, kolesterol tinggi, diabetes, atau masalah pernapasan ketika tidur. Laki-laki, orang yang melakukan terapi hormon, dan berusia di atas 55 tahun berisiko lebih besar terhadap stroke.

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Penyakit ketiga yang paling banyak memakan korban jiwa adalah penyakit paru obstruktif kronis. Gejalanya adalah batuk berdahak dengan lendir kuning atau hijau, pernapasan tersenggal, napas berbunyi, dan lemas. Penderita juga mengalami penurunan berat badan, nyeri dada, pembengkakan kaki, dan warna biru pada bibir dan kuku.

Penyakit ini diakibatkan oleh rokok, asap kendaraan, usia lanjut, dan asma. Perokok pasif juga memiliki risiko yang sama. Kondisi ini membuat seseorang mengalami penurunan alirah udara di paru-parunya. Dinding kantung udara di dalam paru-paru mengalami kerusakan atau kehancuran sehingga penderitanya kesulitan bernapas. Pada 2016 tercatat hampir 3 juta kematian di seluruh dunia akibat penyakit ini. Di Indonesia sendiri pertahunnya ada 2 juta kasus.

Infeksi Saluran Pernapasan Bawah

Di posisi keempat penyakit yang memakan banyak korban jiwa adalah infeksi saluran pernapasan bawah. Sebenarnya ada dua jenis penyakit infeksi saluran pernapasan yaitu bagian atas dan bawah. Bagian atas terdiri dari batuk pilek biasa (common cold), sinusitis, tonsilitis, dan laringitis. Sementara infeksi di bagian bawah adalah bronkitis, bronkiolitis, infeksi dada, dan pneumonia. Bagian inilah yang dapat mengancam nyawa.

infeksi saluran pernapasan
Image via sehatq.com

Setiap tahun di seluruh dunia hampir 3 juta jiwa melayang akibat penyakit ini. Infeksi saluran pernapasan bawah termasuk ke dalam penyakit menular, menjangkit bayi baru lahir, ibu hamil, dan terkait kondisi nutrisi seseorang. Penyebab penyakit ini sendiri berasal dari virus maupun bakteri. Ini adalah jenis penyakit yang mudah ditularkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kondisi yang umum dijumpai adalah pilek.

Penyakit mudah menular melalui udara atau sentuhan. Ini disebabkan penderitanya yang batuk atau bersin tanpa menutup mulut dan hidung sehingga percikan air yang mengandung penyakit menyebar. Salah satu cara mudah untuk menghindari penyakit ini adalah tidak banyak menyentuh wajah. Selain beringus, batuk, dan bersin, gejala yang ditemukan pada penderita adalah nyeri otot, sakit telinga, sakit tenggorokan, perih pada mata, dan demam.

Demensia

Demensia adalah kondisi berikutnya yang menyumbang kematian terbanyak. Setiap tahun ada hampir 2 juta jiwa kematian yang disebabkan oleh demensia. Jumlahnya meningkat pesat dibandingkan dengan satu dekade terakhir. Padahal penyakit lain seperti jantung koroner dan kanker mengalami penurunan jumlah korban jiwa tetapi hal ini tak berlaku pada penderita demensia.

Demensia

Inggris mencatat bahwa demensia adalah salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian pada perempuan. Sementara untuk laki-laki, ini adalah penyakit paling mematikan nomor dua.

Masyarakat seringkali menyepelekan demensia karena dianggap hanya menyebabkan kepikunan. Padahal ketika mengalami demensia seseorang bisa terdampak pula kondisi fisiknya. Terutama bila kondisi pikun seorang penderita membuat ia lupa untuk makan dan minum. Sebanyak 80% kondisi demensia disebabkan oleh penyakit alzheimer. Umumnya penderita berusia 65 tahun ke atas.

Banyak dari kita sering menyepelekan pentingnya menjaga pola hidup sehat. Meski harga rokok naik ditambah penjelasan mengenai bahayanya, banyak orang tetap merokok. Padahal rokok terbukti menyebabkan beberapa kondisi penyakit serius. Kebersihan juga menjadi salah satu poin penting untuk menjaga kesehatan. Mencuci tangan tak hanya menyelamatkan kita dari covid-19 tapi juga penyakit lainnya.

kanker paru paru
Image via gleneagles.com.sg

Kanker Paru

Kanker paru-paru menyebabkan kematian hampir 2 juta jiwa warga dunia tiap tahunnya. Sementara itu di Indonesia tercatat rata-rata 150.000 kasus pertahun. Ini adalah satu dari tiga jenis kanker yang paling banyak diidap di Indonesia. Umumnya penyakit ini diderita oleh perokok. Namun perokok pasif juga memiliki risiko menderita penyakit ini. Gejala awalnya ditandai dengan batuk kronis, batuk darah, penurunan berat badan, nyeri dada dan tulang, serta sesak napas.

Selain rokok, paparan zat kimia, polusi udara, dan pernah menjalani radioterapi juga meningkatkan risiko seseorang terkena kanker paru. Penyakit ini terbagi dua yaitu kanker paru dengan sel kecil yang hanya dapat terlihat di bawah mikroskop. Kanker jenis ini cepat menyebar. Jenis kedua adalah kanker bukan sel kecil yang penyebarannya lebih lambat. Semua kelompok umur dapat terjangkit tanpa terkecuali.

Diabetes Mellitus

Penyakit berikutnya yang mengancam nyawa manusia adalah diabetes mellitus. Indonesia masuk dalam peringkat keenam penderita diabetes terbanyak di dunia. Setiap tahunnya hampir 2 juta jiwa meninggal akibat diabetes. Diabetes tipe 1 ditandai dengan kondisi kronis yang membuat tubuh sulit memproses glukosa. Sementara diabetes tipe 2 adalah kondisi pankreas kesulitan memproduksi insulin. Insulin merupakan zat yang digunakan tubuh dalam memproses glukosa.

Ada pula kondisi yang disebut sebagai prediabetes yaitu seseorang yang memiliki gula darah tinggi tetapi belum mencapai tahap diabetes. Ibu hamil pun rentan dengan kondisi ini yang disebut sebagai gestational diabetes. Diabetes memiliki beberapa gejala seperti haus berlebih, terus menerus buang air kecil, kelaparan berat, dan berat badan yang hilang. Selain itu penderita diabetes mudah merasa lelah, penghilatan berkurang, dan mudah terluka seperti misalnya luka pada gusi.

Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia
Photo by PhotoMIX Ltd. from Pexels

Glukosa dibutuhkan untuk tubuh sebagai bahan bakar. Ketika kita makan, glukosa dalam makanan akan diserap ke dalam aliran darah. Lalu glukosa akan masuk ke dalam sel-sel tubuh dibantu oleh insulin. Hati kita juga mampu memproduksi dan menyimpan glukosa. Ketika kita tidak makan, tubuh kita kekurangan glukosa sehingga liver akan mengubah zat glikogen menjadi glukosa untuk menjadi cadangan energi tubuh. 

Pada diabetes tipe 1, sistem imun dalam tubuh justru menghancurkan insulin. Ini menyebabkan glukosa yang seharusnya diproses untuk masuk ke dalam sel-sel tubuh justru menumpuk di aliran darah. Bedanya dengan diabetes tipe 2 adalah sel-sel tubuh yang resisten terhadap insulin. Pankreas juga tidak mampu memproduksi cukup insulin untuk “memaksa” sel menerima glukosa. Akibatnya glukosa menumpuk dalam aliran darah. Orang dengan berat badan berlebih, berumur, dan kurang beraktivitas memiliki risiko terhadap penyakit ini. 

Kecelakaan

Di posisi kedelapan dari penyebab kematian terbanyak dunia adalah kecelakaan. Ada sekitar 1.35 juta kematian pertahun akibat kecelakaan di jalan raya. Lebih dari separuh kecelakaan di jalan raya menimpa pejalan kaki, pengendara sepeda, dan pengendara motor. Kecelakaan ternyata mayoritas terjadi di negara dengan pendapatan menengah ke bawah yaitu sekitar 93%-nya. Angka kematian tertinggi terjadi di Afrika. Umunya usia korban jiwa adalah 5-29 tahun.

Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Sebanyak 73% korbannya adalah laki-laki. Ada beragam faktor yang menyebabkan tingginya kecelakaan di jalan raya. Pertama adalah kondisi jalan, kedua adalah kendaraan yang dikendarai dalam kecepatan aman. Ketiga adalah kendaraan yang memang aman dikendarai seperti lolos layak uji emisi, memiliki rem dan gas yang baik, lampu yang menyala, dan lain-lain.

Selain itu perilaku pengendara juga patut digarisbawahi. Setiap kenaikan 1% dari kecepatan awal mengemudi dapat meningkatkan risiko fatal kecelakaan sebesar 4% dan risiko kecelakaan serius sebesar 3%.

Baca Juga: Lagu Paling Berbahaya Untuk Diputar Saat Mengemudi

Diare

Di urutan kesembilan penyakit mematikan adalah diare. Penyakit ini adalah salah satu penyebab utama kematian pada anak di bawah usia lima tahun. Setiap tahunnya rata-rata ada 500.000 kematian pada anak-anak. Pertahun sendiri ada 1.7 milyar kasus diare. Diare juga menjadi penyebab utama kondisi malnutrisi pada anak. Ada tiga tipe klinis diare yaitu diare berair akut, diare berdarah akut, dan diare persisten.

Diare berair akut adalah kondisi ketika seseorang mengalami diare selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari dan diikuti penyakit kolera. Diare berdarah akut disebut juga sebagai disentri. Sementara diare persisten berlangsung lebih dari 14 hari. Umumnya kondisi diare terjadi ketika seseorang mengonsumi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Hal ini karena sebanyak 780 juta orang di dunia tidak mendapatkan akses air bersih. Sementara 2.5 milyar orang tinggal dengan sistem sanitasi yang buruk.

Diare
Image via Verywell / Cindy Chung

Di negara-negara dengan pendapat rendah, seorang anak dapat terjangkit diare selama tiga kali sepanjang tahun. Diare terjadi karena infeksi yang disebabkan bakteri maupun parasit. Penyakit ini juga dapat menular terutama ketika makanan atau minuman dalam rumah tangga disimpan dan disediakan tidak higienis. Selain vaksin, sistem sanitasi, dan makan minum yang bersih, mencuci tangan dengan sabun juga menjadi tindakan penting dalam pencegahan diare. 

TBC

Infeksi sistem pernapasan bawah, diare, dan TBC termasuk ke dalam penyakit menular yang menempati sepuluh posisi teratas penyebab kematian terbanyak di dunia. Sampai saat ini Indonesia sendiri masih belum bebas dari TBC. Pertahun ada 150.000 kasus di Indonesia. Di seluruh dunia sendiri pertahun ada sekitar 1 juta kematian akibat TBC. Ini adalah penyakit paru yang disebabkan oleh bakteri.

TBC
Image via creakyjoints.org

Umumnya orang mengenal TBC sebagai penyakit dengan batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu. Batuk ini kadang disertai darah. Meski demikian TBC bisa menyerang organ lain selain paru yaitu tulang, usus, dan kelenjar. Penyakit ini ditularkan melalui percikan ludah ketika seseorang batuk atau bersin. Ada beberapa gejala khas dari TBC seperti berkeringat di malam hari, nyeri dada, demam, lemas, dan berat badan turun. TBC dapat dideteksi melalui pemeriksaan dahak.

Penyakit-penyakit di atas sudah seharusnya menjadi perhatian serius bagi kita. Dibanding COVID-19, penyakit-penyakit di atas termasuk kecelakaan di jalan raya jauh lebih mengancam nyawa. Beberapa penyakit dapat dihindari dengan vaksin dan pola hidup sehat. Dibutuhkan kesadaran bagi kita semua untuk menekan penyebarannya terutama penyakit yang dapat menular. Apalagi bila penyakit tersebut disebabkan oleh rokok sebab orang yang tidak menghisap rokok pun dapat menuai akibatnya. 

Related Articles:

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect