Connect with us
The Night Clerk
Natalie Cass/Saban Films

Film

The Night Clerk Review

Film bergenre kriminal yang lebih terasa bergenre drama.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Bart Bromley adalah seorang staf hotel yang memiliki sindrom Asperger. Orang yang hidup dengan sindrom ini mudah diidentifikasi karena cara bersosialisasinya yang unik. Mereka tidak pandai bicara. Obrolan dengan mereka bisa terasa panjang atau justru mengambang. Karena itu Bart merasa benar dengan memasang kamera-kamera tersembunyi di tempat kerjanya. Motifnya adalah mempelajari cara berkomunikasi dengan orang lain.

Premis film ini sederhana saja. Bart menjadi terduga pelaku kejahatan karena ia ada di kamar hotel ketiba seorang tamu tewas. Tapi sebenarnya ide cerita ini menjadi kurang fokus ketika akhirnya penonton menyadari kalau Bart juga merekam aktivitas seluruh tamu hotel. Bahkan dalam satu ruangan saja Bart mampu meletakkan banyak kamera agar menyorot beragam angle. Ini pelanggaran privasi kelas berat. Bart merekam orang ketika makan, tidur, bahkan berhubungan badan.

Justru Bart yang menjadi terduga pelaku (walau tidak membunuh) dan Bart yang memasang banyak kamera ini menjadi 2 hal bertentangan. Bukankah polisi seharusnya menangkap Bart minimal karena tuduhan pelanggaran privasi? Kenapa Bart tidak kehilangan pekerjaan? Kenapa rekannya tidak langsung lapor pada atasan padahal melihat sendiri Bart menonton para tamu hotel? Darimana ia mendapat uang sampai bisa membeli begitu banyak kamera?

The Night Clerk

Saban Films

Terlalu banyak plot hole dan jalan cerita pun terasa nanggung. Ditambah lagi ada beberapa karakter yang sejujurnya memiliki karater—atau akting—yang aneh. Andrea, salah satu tamu hotel, mengaku memahami kondisi Bart karena adiknya juga memiliki kondisi yang spesial. Namun ia mengatakan bahwa adiknya meninggal di rumah sakit jiwa. Caranya menyampaikan hal itu tidak menunjukkan bahwa itu adalah tragedi. Ia justru terlihat seperti menggoda dan tentunya membuat Bart salah paham.

Karakter ibu Bart, Ethel, bukan tidak realistis hanya menjadi sangat menyebalkan. Ia membela anaknya habis-habisan dengan memainkan kartu disabilitas. Bahwa anaknya tidak bersalah, naïf, dan dapat dipercaya hanya karena seorang yang memiliki kondisi spesial. Tak dapat dipungkiri tentu ada orangtua yang seperti ini di dunia nyata. Tapi memilih karakter Ethel seperti ini menimbulkan prasangka bahwa orangtua anak berkebutuhan khusus tidak dapat berpikir objektif.

Nampaknya The Night Clerk juga berusaha memberikan porsi tertentu agar dapat menggambarkan keberagaman. Contohnya kasir minimarket yang menganut Sikh, pemilik jaringan hotel yang dari Asia, dan polisi yang orang Latin. Mungkin penulis scenario sekaligus sutradaranya pantas diberi kredit karena ingin menampilkan bahwa orang berkebutuhan khusus juga bisa berbaur dengan masyarakat dan memiliki pekerjaan.

Sayangnya, sekali lagi, jalan cerita yang cenderung tidak jelas tidak mampu menyelamatkan film ini. Walaupun Tye Sheridan telah berusaha keras untuk memainkan karakter Bart, film ini tetap terasa kacau.

Sebagai sebuah film kriminal pun kita tidak merasa berdebar, kalut, atau emosi apapun yang seharusnya muncul ketika melihat pembunuhan dan pemukulan. Emosi yang kita dapat sama datarnya dengan klimaks dari film ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect