Di tengah menjamurnya film horor yang mengandalkan formula lama, “Obsession” (2025)—yang tayang luas pada 2026 setelah lebih dulu diputar di festival—muncul sebagai kejutan besar. Ditulis dan disutradarai oleh Curry Barker, film ini memanfaatkan premis yang sederhana namun sangat relevan: bagaimana obsesi terhadap seseorang dapat berubah menjadi teror ketika keinginan untuk dicintai melampaui batas moral.
Dengan sentuhan supernatural, body horror, dan psychological thriller, “Obsession” berkembang menjadi lebih dari sekadar kisah cinta yang salah arah. Ia menjadi kritik terhadap relasi yang toksik, budaya posesif, dan ilusi bahwa cinta dapat dipaksakan.
Ceritanya mengikuti Bear, seorang pemuda yang telah lama memendam perasaan terhadap sahabat masa kecilnya, Nikki. Karena merasa cintanya tidak akan pernah terbalas, Bear menggunakan artefak supranatural bernama “One Wish Willow” untuk mengabulkan keinginannya. Permintaan tersebut memang terkabul, tetapi dengan konsekuensi yang mengerikan. Perasaan cinta Nikki berkembang menjadi obsesi yang tidak lagi manusiawi, mengubah hubungan mereka menjadi mimpi buruk yang penuh kekerasan dan teror. Dari titik inilah film mulai mengeksplorasi pertanyaan penting: apakah seseorang benar-benar menginginkan cinta, atau sekadar ingin memiliki orang lain?
Dari sisi script dan screenplay, Curry Barker menunjukkan kedewasaan yang mengejutkan untuk sebuah debut penyutradaraan panjang. Naskahnya tidak hanya memanfaatkan konsep “monkey’s paw” klasik—setiap keinginan memiliki harga yang harus dibayar—tetapi juga mengadaptasinya ke dalam konteks relasi modern. Dialog terasa natural dan sesuai dengan generasi muda, sementara konflik berkembang secara bertahap tanpa terburu-buru. Screenplay juga cukup cerdas dalam membalik perspektif. Alih-alih menjadikan cinta sebagai tujuan romantis, film ini memperlihatkan bagaimana kasih sayang yang dipaksakan justru menghapus identitas seseorang.

Plot berkembang secara linear tetapi terus mengalami eskalasi. Babak pertama membangun hubungan Bear dan Nikki dengan cukup sederhana sebelum unsur supranatural mulai mengambil alih. Babak kedua menjadi ruang bagi film untuk bermain dengan psychological horror dan body horror, sementara klimaks menghadirkan konsekuensi moral yang sejalan dengan tema besarnya. Meskipun beberapa perkembangan cerita dapat diprediksi, cara film menyampaikan transformasi hubungan kedua tokohnya tetap terasa efektif dan mengganggu.
Dalam aspek sinematografi, “Obsession” tampil jauh lebih matang daripada statusnya sebagai debut. Penggunaan warna-warna hangat pada awal cerita perlahan bergeser menjadi palet dingin dan suram ketika obsesi mulai mengambil alih. Kamera kerap menggunakan close-up untuk menangkap perubahan ekspresi Nikki yang perlahan kehilangan kemanusiaannya. Penggunaan pencahayaan redup dan komposisi ruang sempit menciptakan rasa tidak nyaman yang terus meningkat. Film juga cukup kreatif dalam memanfaatkan efek praktikal untuk menghadirkan elemen body horror, sehingga transformasi yang terjadi terasa lebih nyata dan menjijikkan dibanding sekadar mengandalkan CGI.
Akting menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Michael Johnston berhasil memerankan Bear sebagai sosok yang awalnya mudah dikasihani, tetapi perlahan memperlihatkan sisi egois dan manipulatif yang menjadi akar tragedi. Transformasi emosionalnya terasa meyakinkan. Namun sorotan utama jatuh kepada Inde Navarrette sebagai Nikki. Ia mampu berpindah dari sosok hangat menjadi figur yang menyeramkan hanya melalui perubahan ekspresi, gestur, dan tatapan. Performanya menjadi alasan utama mengapa banyak adegan horor dalam film ini terasa efektif.
Sebagai sutradara, Curry Barker memperlihatkan identitas visual yang jelas. Ia tidak mengejar jump scare murahan, melainkan membangun rasa takut melalui atmosfer dan perubahan perilaku karakter. Horor dalam “Obsession” lahir dari kedekatan emosional, bukan dari ancaman monster konvensional. Pendekatan ini membuat film terasa lebih mengganggu karena ketakutannya berakar pada sesuatu yang sangat manusiawi: kebutuhan untuk dicintai dan ketakutan akan penolakan.
Film ini juga berhasil menyisipkan humor gelap di beberapa bagian tanpa merusak atmosfer keseluruhan. Perpaduan antara satire hubungan modern dan horor supranatural membuat nadanya terasa unik. Meski demikian, beberapa karakter pendukung masih kurang memperoleh ruang berkembang sehingga keberadaan mereka lebih banyak berfungsi sebagai penggerak plot daripada individu yang utuh.
Kelemahan lain terdapat pada babak akhir yang sedikit terlalu cepat dalam menyelesaikan beberapa konflik. Setelah membangun atmosfer yang sangat kuat sepanjang film, resolusinya terasa kurang memberi ruang bagi dampak emosional yang lebih mendalam. Walaupun demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi keberhasilan film dalam mempertahankan ketegangan hampir sepanjang durasi.
“Obsession” membuktikan bahwa horor modern masih mampu menghadirkan ide segar tanpa bergantung pada waralaba besar. Dengan naskah yang cerdas, penyutradaraan penuh percaya diri, visual yang mengganggu, serta akting yang kuat, film ini berhasil mengubah kisah cinta menjadi tragedi psikologis yang sulit dilupakan. Tidak mengherankan jika film ini mendapat sambutan sangat positif dari kritikus dan menjadi salah satu horor orisinal paling banyak diperbincangkan pada 2026.
Pesan moral
“Obsession” menegaskan bahwa cinta tidak pernah bisa dipaksakan. Keinginan untuk memiliki seseorang tanpa menghormati kehendak dan kebebasannya hanya akan melahirkan hubungan yang destruktif. Film ini juga menjadi refleksi tentang bagaimana obsesi, rasa kesepian, dan ketergantungan emosional dapat mengubah seseorang menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
Dampak budaya
Keberhasilan “Obsession” menunjukkan bahwa horor orisinal masih memiliki tempat yang sangat kuat di industri perfilman. Film ini memicu banyak diskusi mengenai hubungan yang toxic, budaya “possessive love”, dan dinamika relasi generasi muda di era media sosial. Melalui balutan folk horror dan psychological thriller, “Obsession” memperlihatkan bagaimana ketakutan kontemporer tidak lagi hanya berasal dari makhluk supranatural, tetapi juga dari cara manusia membangun hubungan satu sama lain.

