Connect with us
Lion Review

Film

Lion Review: Auman Kisah Haru Saroo Brierley Menemukan Jalan Pulang

Dinamika perasaan seorang anak dalam ingatan masa lalu yang samar.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Lion” (2016) merupakan adaptasi buku true story “A Long Way Home” karya Saroo Brierley dan Larry Buttrose, yang menceritakan kisah perjuangan Saroo menemukan jalan pulang ke rumah dalam ingatan masa kecilnya.

Film ini diarahkan oleh Garth Davis, dengan pengambilan gambar di dua lokasi berbeda, India dan Australia. “Lion” berhasil mengaum di banyak penghargaan film, seperti membawa pulang dua piala di ajang BAFTA Film Award dalam kategori Best Supporting Actor untuk Dev Patel dan Best Screenplay Adapted untuk Luke Davies. Film ini juga memborong enam nominasi Oscar, salah satunya untuk Best Motion Picture of the Year.

Nasib Saroo Kecil, Sebagai Rangkuman Kemalangan 80 Ribu Anak Terlantar India

Berangkat dari babak pertama film yang menceritakan keadaan perekonomian keluarga Saroo kecil (Sunny Pawar) yang berada di bawah garis kemiskinan. Ia dan kakaknya, Guddu (Abhishek Bharate) bahkan harus mencari penghidupan dengan mencuri bongkahan batu bara di atas sebuah kereta yang sedang melaju.

Saroo yang malang terpisah dengan kakak dan keluarganya karena sebuah insiden besar, ia ditempa banyak cobaan diumurnya yang baru berusia lima tahun. Kisah Saroo kecil berada di sekitar anak-anak tidak beruntung lainnya. Dari mulai anak jalanan, anak-anak di asrama terlantar, hingga takdir membawanya pada perjumpaan dengan pasangan Sue (Nicole Kidman) dan John Brierley (David Wenham) yang berasal dari Australia.

Setelah terbang ke Tasmania kehidupan Saroo berubah, meninggalkan 80 ribu anak India lain yang pada saat itu tercatat hilang atau terpisah dari keluarganya. Saroo mendapatkan keluarga baru, yang mampu memberikan cinta kasih sampai ia dewasa.

Lion Review

Cerita Adopsi dan Kehangatan Hati Seorang Ibu

“Seorang anak, tidak mesti lahir dari rahim seorang ibu yang mengandungnya. Tetapi, ada kalanya ia lahir dari hati seorang ibu yang membesarkannya”

Babak kedua kisah Saroo (Dev Patel) berganti selang 20 tahun sejak kepindahannya ke Australia. Saroo dewasa tampil lebih kuat, terpelajar, tinggi, dan berbahagia dengan kedua orang tua serta kakaknya di Tasmania.

Hari-harinya mulai diliputi rasa bersalah, saat sebuah ingatan masa lalu muncul. Kilas balik tentang kehidupan masa kecil samar-samar menghantuinya. Pencarian orang tua kandungnya menjadi awal mula rasa bersalah kepada Sue, ibu angkatnya.

Sejak permulaan babak kedua yang menampilkan hubungan antara Saroo dan Sue yang saling terikat kemudian merenggang, menjadi salah satu alasan kesedihan yang ditawarkan film ini. Bagaimana pada akhirnya mereka saling diam, karena ketakutan Saroo tentang kekecewaan Sue saat tau ia tengah mencari keberadaan orang tua kandungnya.

Nicole Kidman benar-benar membawakan karakter seorang ibu yang penuh belas kasih, mencintai tanpa pamrih anak-anak angkatnya yang semuanya memiliki masalah hidup masing-masing. “Lion” benar-benar menampilkan ketulusan hati seseorang pada orang lain tanpa tendensi dan pretensi apapun. Penonton akan dibuat kagum pada sosok Sue dan John Brierley sebagai manusia berhati malaikat yang memiliki kelapangan hati tak tertandingi.

Penampilan Dua Tokoh Saroo yang Memukau

Dev Patel mungkin sudah mendapatkan pengakuan gamblang melalui penghargaan yang berhasil diraihnya untuk kategori Best Supporting Actor di BAFTA Film Award. Ia mampu membawa karakter Saroo dengan sangat baik, penggunaan aksen Australia yang sempurna dan chemistry dengan Lucy (Rooney Mara) menjadi salah satu poin penyumbang menariknya karakter Saroo dewasa. Ditambah dengan beberapa adegan penting saat menemukan kota Ganesh Talay di Google Earth menjadi puncak penampilan terbaik aktor Inggris-India ini.

Sunny Pawar menyumbang penampilan cemerlangnya sebagai Saroo kecil, ia membawa kekuatan sekaligus kerapuhan dalam tubuh mungil seorang anak berumur lima tahun. Adu peran dengan karakter Guddu yang dimainkan oleh Abhishek Bharate menjadi salah satu penebar haru sepanjang babak pertama film ini. Tokoh anak kecil yang terpisah dengan kakaknya di sebuah stasiun kereta, dan perjalanan panjangnya sampai menemukan keluarga di Australia menjadi sebuah cerita yang bisa berdiri sendiri dan cukup menguras air mata.

Pada akhirnya, “Lion” menjadi salah satu film penuh kejutan bahkan untuk hal-hal kecil seperti salah penyebutan nama kota, pelafalan nama Saroo yang keliru, hingga penggunaan detail kecil seperti kue khas india Jujebi yang menjadi pemantik ingatan masa lalu Saroo. Film ini sedikit banyak menebarkan teka-teki kesalahan kecil yang sangat wajar karena terbatasnya ingatan manusia. Setidaknya “Lion” bisa menggabungkan rasa sedih, haru, bahagia, dan kagum secara bersamaan.

Triangle of Sadness Triangle of Sadness

Triangle of Sadness Review: Satir Tentang Kesetaraan Duniawi

Film

first blood 1982 first blood 1982

First Blood Review: Awal Perjuangan Rambo Menghadapi Trauma Perang 

Film

Slumberland Review Slumberland Review

Slumberland Review: Petualangan Nemo & Flip Lari dari Kenyataan

Film

The Holiday The Holiday

The Holiday Review: Tontonan Musim Liburan yang Ringan & Romantis

Film

Connect