Connect with us
First Cow Review
A24

Film

First Cow Review: Kisah Persahabatan dari Abad Ke-19

Ketika dua sahabat diburu perkara susu sapi perah.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Sama seperti film-film produksi A24 sebelumnya, First Cow berhasil menjadi salah satu film dengan cerita yang unik dan sinematografi yang memanjakan mata di tahun ini. First Cow disutradarai oleh Kelly Reichardt yang berhasil mengadaptasi sebuah novel karya Jonathan Raymond dengan judul The Half of Life menjadi sebuah film yang sangat apik.

First Cow bercerita tentang kisah perjuangan hidup dua sahabat di sebuah wilayah Amerika Serikat bernama Oregon Territory. Mengambil latar waktu tahun 1820 membuat film ini memberikan kesan kuno pada setiap aspek ceritanya. Penonton diajak menikmati keindahan sekaligus merasakan sulitnya hidup di masa lalu.

First Cow Review

A24

Film yang Tidak Membosankan, Walaupun Berjalan Lambat

Seorang gadis muda dan anjing peliharaannya dipilih untuk membuka film ini. Gadis muda itu sibuk dengan aneka tanaman hutan yang sedang ia cabuti. Si anjing peliharaan sibuk menggali sebuah lubang di pinggir sebuah sungai. Penasaran dengan apa yang ditemukan oleh anjing peliharaannya, si gadis muda ikut menggali. Tidak disangka, ia menemukan dua kerangka manusia yang masih lengkap.

Nampak scene pertama tersebut diambil dengan latar waktu di masa depan karena tiba-tiba film bergulir ke sebuah hutan yang berisi para penjelajah berpakaian primitif. Kontras dengan para penjelajah primitif yang terkesan barbar, seorang pria dengan pakaian lengkap dan bersifat pendiam sedang sibuk memilah-milih jamur yang tumbuh di hutan itu.

Para penjelajah memanggilnya ‘Cookie’ karena ternyata Cookie (John Magaro) adalah seorang koki yang disewa oleh para penjelajah untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka. Otis Figowitz adalah nama lengkap Cookie dan ia berasal dari Maryland. Bekerja dengan para penjelajah barbar ia lakukan demi mendapatkan penghasilan.

Pada suatu malam, ia tidak sengaja bertemu dengan seorang imigran berkebangsaan Tionghoa. Tanpa memakai sehelai benangpun, imigran itu memperkenalkan diri sebagai King-Lu (Orion Lee). Ia sedang berusaha kabur dari kejaran orang-orang Rusia. Setelah berlari dengan jarak yang sangat jauh, King-Lu kelelahan dan kelaparan. Dengan kelembutan hatinya, Cookie memberikan selimut untuk King-Lu dan memberikannya tempat untuk beristirahat.

First Cow Review

A24

Setelah selesai dengan masa tugasnya, Cookie akhirnya bisa terlepas dari para penjelajah. Ia menjalani hidupnya yang lebih bebas sekarang. Sebuah pasar di pusat kota menjadi tempat bagi Cookie untuk mencari kesempatan kerja yang lain. Imigran yang ia temui malam itu tiba-tiba menghilang keesokan harinya. Cookie tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Tanpa disangka, sebuah bar kecil mempertemukan Cookie kembali dengan King-Lu. Berbeda dengan pertemuan mereka yang pertama, kali ini King-Lu terlihat rapi dengan pakaian yang lengkap. Pertemuan keduanya merupakan awal dari kisah persahabatan mereka.

Bar penuh dengan para warga yang membicarakan tentang kedatangan seekor sapi di Oregon Territory. Sapi pertama yang datang ke wilayah itu dibawa oleh seorang bangsawan dari Inggris yang dijuluki sebagai Chie Factor (Toby Jones). Kedatangan sapi pertama itu sekaligus mendatangkan ide bisnis baru bagi Cookie dan King-Lu, yaitu bisnis kuliner.

First Cow merupakan sebuah film yang lambat. Jalan cerita dan beberapa adegan dalam film ini berjalan dengan sangat pelan. Mungkin bagi penggemar film dengan jalan cerita yang cepat dan penuh aksi, film ini pastinya akan membosankan. Namun, jalan cerita yang lambat ternyata mampu membuat penonton tenggelam dalam ceritanya.

First Cow Review

A24

Sebuah Film yang Memanjakan Mata dan Menghangatkan Hati

Satu hal yang unik dan mendapatkan perhatian penonton adalah rasio screen dalam film ini. Seolah-olah akan ditayangkan dalam sebuah televisi tabung, rasio kotak dipilih untuk memberikan kesan kuno. Dengan latar tempat Amerika di masa lalu yang dipenuhi oleh banyak pepohonan ditambah dengan pemilihan warm tone, film ini berhasil memanjakan mata para penonton.

Kualitas akting John Magaro dan Orion Lee memang pantas diacungi jempol, namun performa Cristophen Blauvelt sebagai sinematografer juga perlu diberikan standing applause. Pergerakan kamera dengan latar yang indah, ditambah rasio dan warm tone-nya, membuat First Cow menonjolkan segi visual yang sangat cantik.

Salah satu adegan yang paling diingat adalah ketika seekor sapi betina dibawa di atas rakit kayu dan menyebarangi sungai menuju Oregon Territory. Seorang gadis Indian menatap kedatangan sapi itu, seolah-olah ia melihat seekor sapi untuk pertama kalinya.

Segi visual yang indah mungkin tidak ada apa-apanya jika tidak didukung oleh naskah cerita yang menarik. First Cow berhasil menghindari hal tersebut dengan menyajikan cerita yang tidak kalah indahnya. Secara keseluruhan, film ini menceritakan ambisi kesuksesan yang dibalut oleh kisah persahabatan.

King-Lu yang berambisi mendapatkan harta sebanyak-banyaknya bertemu dengan Cookie yang berambisi untuk membangun sebuah toko roti atau hotel di San Fransisco. Ambisi itu menuntut mereka berdua untuk bekerja sama dalam mencapai kesuksesan, sayangnya lewat cara yang kurang terpuji.

Segi visual dan jalan cerita yang sama-sama menawan membuat film ini sangat patut untuk dinikmati, namun tidak untuk semua audiens. Alurnya yang lambat mungkin akan terasa membosankan bagi beberapa penonton. Untuk penggemar film beralur santai dengan segi visual yang indah, First Cow sangat direkomendasikan untuk ditonton.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect