“The Seasoning House” (2012) adalah film yang sulit ditonton, bukan karena ia mengejar kejutan atau gore berlebihan, tetapi karena pendekatannya yang dingin, sunyi, dan sistematis terhadap kekerasan seksual dalam konteks perang.
Disutradarai oleh Paul Hyett, film ini mengambil latar sebuah rumah terpencil yang digunakan sebagai tempat penahanan dan eksploitasi perempuan selama konflik bersenjata yang secara implisit merujuk pada perang Balkan. Alih-alih menjelaskan konflik secara historis atau politis secara eksplisit, film ini memilih sudut pandang yang sempit namun menghantui: pengalaman korban yang terperangkap dalam sistem kekerasan yang terorganisir.
Plot film mengikuti Angel, seorang gadis tunarungu yang diperankan secara kuat oleh Rosie Day. Angel dijadikan pelayan di rumah tersebut, dipaksa membersihkan, memasak, dan menyaksikan perempuan-perempuan lain diperkosa secara rutin oleh tentara yang datang bergantian. Posisi Angel sebagai karakter utama yang tidak bisa mendengar bukan gimmick, melainkan perangkat naratif penting.
Dunia film ini dipenuhi suara-suara yang tidak pernah benar-benar kita dengar secara utuh: jeritan, bentakan, dan tembakan sering kali teredam atau hilang sama sekali. Keheningan ini menciptakan horor yang jauh lebih dalam dibandingkan teriakan eksplisit.

Dari sisi script dan screenplay, “The Seasoning House” sangat minim dialog dan eksposisi. Penonton tidak diberi latar belakang karakter secara sentimental, tidak ada monolog penderitaan, dan tidak ada upaya memanipulasi empati secara murah. Kekerasan dipresentasikan sebagai rutinitas, sebagai sistem yang berjalan rapi dengan hierarki yang jelas. Goran, diperankan oleh Sean Pertwee, bukanlah penjahat karikatural, melainkan figur otoritas yang dingin, pragmatis, dan nyaris administratif dalam menjalankan kekerasan. Justru banalitas inilah yang membuatnya mengerikan.
Sinematografi film ini konsisten gelap, sempit, dan menekan. Kamera sering ditempatkan pada sudut rendah atau di balik pintu dan dinding, menciptakan kesan mengintip, bukan mengamati secara bebas. Banyak adegan kekerasan tidak ditampilkan secara frontal, tetapi implikasinya terasa lebih brutal karena imajinasi penonton dipaksa bekerja. Warna-warna kusam, dominasi abu-abu dan cokelat, memperkuat nuansa dunia yang kehilangan kemanusiaan.
Dari sisi akting, Rosie Day memikul beban film ini hampir sepenuhnya. Ekspresinya yang tertahan, gestur kecil, dan tatapan kosong namun waspada menjadi bahasa emosional utama film. Sean Pertwee sebagai Goran tampil efektif sebagai simbol kekuasaan patriarkal-militeristik yang tidak membutuhkan teriakan untuk menakutkan. Performa pendukung, termasuk Kevin Howarth sebagai Viktor, memperkuat kesan bahwa kekerasan ini dilakukan oleh orang-orang biasa dalam struktur yang membenarkannya.
Namun, film ini juga tidak tanpa problem. “The Seasoning House” berada di wilayah abu-abu antara kritik dan eksploitasi. Beberapa penonton dan kritikus dapat mempertanyakan apakah film ini sepenuhnya berhasil menghindari jebakan exploitation cinema, terutama karena fokusnya yang intens pada penderitaan tubuh perempuan. Meski pendekatannya relatif terkendali, tetap ada momen di mana penderitaan terasa repetitif tanpa penambahan makna baru.

Sebagai horor, film ini menolak katarsis yang memuaskan. Sebagai drama perang, film ini menolak narasi heroik. Yang tersisa hanyalah perasaan tidak nyaman dan marah—dan itu tampaknya memang tujuan utamanya. Film ini tidak ingin ditonton untuk dinikmati, tetapi untuk disadari.
Dalam konteks budaya, “The Seasoning House” penting karena mengingatkan bahwa kekerasan seksual dalam perang bukan insiden sampingan, melainkan strategi dan sistem. Ia sejalan dengan diskursus global tentang kejahatan perang, perdagangan manusia, dan bagaimana tubuh perempuan sering dijadikan medan konflik. Film ini mungkin tidak mudah direkomendasikan, tetapi ia relevan, terutama di tengah dunia yang terus menyaksikan konflik bersenjata dengan pola kekerasan serupa.
Pesan moral film ini tidak disampaikan melalui pidato atau resolusi heroik, melainkan melalui ketahanan sunyi seorang korban. “The Seasoning House” menegaskan bahwa horor terbesar bukanlah monster atau iblis, melainkan manusia yang membangun sistem untuk menormalisasi kekejaman.

