Connect with us
hit and run squad review

Film

Hit-and-Run Squad: Ketika Kasus Tabrak Lari Diselesaikan Di Arena Balap

Konsep film ini adalah yang pertama di Korea. Balap mobil.

Film bergenre aksi, misteri, sekaligus investigasi ini tidak akan membuat menyesal ketika ditonton. Melihat deretan aktor dan aktrisnya saja kita sudah memiliki ekspektasi besar. Coba sebutkan, mana film atau drama Gong Hyo Jin yang tidak disukai penggemar? Ditambah dengan Jo Jung Suk yang sama populernya. Gong Hyo Jin dan Jo Jung Suk bahkan berkali-kali menyabet penghargaan atas akting mereka. Apalagi ada Ryu Jun Yeol yang naik daun setelah membintangi Reply 1988. Namun, sebuah film tidak semata-mata baik hanya dari aktingnya saja. Ada banyak aspek lain yang berperan.

Konsep film ini adalah yang pertama di Korea. Balap mobil. Tentu kita akan langsung teringat salah satu film balap mobil paling sukses di dunia, Fast and Furious. Nah anggaplah ini sebagai Fast Furious-nya Korea. Jangan khawatir, meski budgetnya jauh berbeda, Hit-and-Run Squad (2019) tidak akan mengecewakan. Adegan balapan di sirkuit balap maupun jalan raya terlihat bagus dan keren. Memuaskan mata kita. Tentu masyarakat Korea merasa bangga dengan kualitas dari film ini. Apalagi dalam lima hari, film ini telah melampaui angka 1 juta penonton.

hit and run review indonesia

Alkisah Shi Yeon (Gong Hyo Jin) sedang menyelidiki kasus korupsi yang melibatkan Jeong Jae Cheol (Jo Jung Suk), mantan pembalap formula yang beralih menjadi pengusaha. Namun Shi Yeon gagal mendapatkan bukti yang cukup sehingga ia dipindahtugaskan ke divisi tabrak lari. Di sana ia bekerja sama dengan Seo Jin Jae (Ryu Jun Yeol), seorang petugas polisi muda yang memiliki insting kuat dan memahami dunia otomatif dengan baik. Seo Jin Jae yang tidak bekerja sesuai prosedur sengaja mendesak Jeong Jae Cheol atas kasus tabrak lari yang belum terpecahkan hingga kini. Ia yakin Jeong Jae Cheol mengetahui kasus itu. Kecurigaan Seo Jin Jae itulah yang justru menjadi petunjuk bagi Shi Yeon dalam menemukan kunci dari kasus korupsi Jeong Jae Cheol dengan seorang petinggi kepolisian.

Ini pertama kalinya Jo Jung Suk berperan sebagai antagonis bengis yang gagap. Jujur saja, aktingnya sangat memuaskan. Tak heran ia berkali-kali menyabet penghargaan. Ketka akan bicara, tokoh Jeong Jae Cheol nampak tercekat sekaligus emosional. Bukan jenis gagap komedik yang akan membuat kita tertawa melainkan gagap yang membuat kita merinding. Jo Jung Suk terlihat begitu menyebalkan apalagi dengan tingkah polahnya yang seperti anak-anak. Ia mememerankan sosok Jeong Jae Cheol yang haus uang dan haus kekuasaan dengan bagus meski pengembangan karakter ini terasa mentah.

Ryu Jun Yeol juga memerankan tokohnya dengan sangat baik. Awalnya ia terlihat polos dan bodoh tapi ternyata menyimpan sisi brilian. Tokoh Seo Jin Jae mendapatkan pengembangan karakter yang bagus di sini. Alasan mengapa ia memahami dunia otomatif hingga kenapa ia jago dalam menyetir ugal-ugalan juga mendapat penjelasan yang baik. Seo Jin Jae adalah tokoh yang amat manusiawi. Ia adalah gambaran bahwa manusia bisa mendapat karma, bisa berubah dari penuh dosa menjadi menjadi calon penghuni surga. Hanya saja ketika sudah sampai pada titik yang bagus, si penulis naskah menjadi terlalu memolesnya sehingga pondasi manusiawi dan realistis dari Seo Jin Jae pun runtuh. Akting Ryu Jun Yeol tidak mampu menyelamatkan gambaran tidak realistis tokoh Seo Jin Jae yang telah menabrakkan diri tapi tidak juga mati.

Sangat disayangkan bila aktris dan aktor kelas A yang digabungkan dalam satu film menjadi sia-sia dan tak mampu banyak menonjolkan kemampuan aktingnya akibat naskah yang kurang apik. Jika saja ada penggambaran lebih dalam dan detail sehingga seluruh tokoh maupun jalan cerita terasa masuk akal, film ini akan mendekati sempurna. Hingga film berakhir bahkan petinggi kepolisian yang muncul di awal film dan menghajar Jeong Jae Cheol tidak terlihat. Tidak dijelaskan bagaimana penyelesaian kasus korupsi itu. Jeong Jae Cheol bisa bebas dari kasus tabrakan dengan ambulans—yang tentu saja terasa sangat aneh.

Film ini banyak menggunakan aktris sebagai pemeran “jagoan” tetapi sayangnya tokoh-tokoh perempuan ini tidak banyak unjuk gigi. Tetap saja film ini fokus pada dua lelaki. Padahal Gong Hyo Jin seharusnya dapat memberikan sentuhan berbeda mengingat aktingnya yang tidak main-main bagusnya. Pada proyek film maupun drama lain, Gong Hyo Jin selalu berhasil meninggalkan kesan.

Namun kita perlu mengapresiasi plot twist yang ciamik di bagian akhir film. Meski plot cerita semacam ini sudah hampir basi digunakan di film-film yang mengangkat tema tentang polisi, akting para tokoh utamanya cukup membantu. Subplot hubungan ayah anak yang ada di pertangahan film sedikit mengganggu karena seakan membuat film ini berbelok menjadi melodrama. Tapi tenang saja, film ini masih bisa dinikmati dan menjadi hiburan tersendiri. Apalagi bila ketiga pemeran utamanya adalah idola, yang menonton pasti suka.

Script: 6/10
Cinematography: 8/10
Scoring: 6/10
Acting: 7/10
Setting: 8/10

Click to comment

Leave a Reply

Connect