Connect with us
Zara Larsson
Zara Larsson

Music

Zara Larsson: Poster Girl Album Review

Album pop yang belum berhasil menunjukan karakter dan ciri khas.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Album ketiga secara keseluruhan, dan album kedua rilisan Internasional dari penyanyi asal Swedia ini meluncur tanpa banyak gempita. “Poster Girl” diharapkan akan membentuk citra baru Zara Larsson, sekaligus mengukuhkan karakternya sebagai penyanyi dan artis.

Nama Zara Larsson seolah berada pada batas mainstream dalam panggung musik. Sang penyanyi memiliki beberapa hits yang cukup dikenal. Seperti “Lush Life” yang menjadi breakout hits-nya di tahun 2015. Selain hits yang dirilis bersama Kygo dan Clean Bandit.

Meski sudah memiliki beberapa hits di bawah namanya, Larsson seolah masih sulit menggapai popularitas secara masif. Menjadikannya seakan hanya sebagai lintasan suara yang tidak banyak diketahui maupun dikenal penggemar. “Poster Girl,” diharapkan dapat mengubah hal tersebut.

Album dengan 12 track ini dirilis pada awal bulan Maret kemarin. Larsson menggandeng beberapa produser untuk bersama-sama menggarap album ini. Ada Ian Kirpatrick, yang sebelumnya menjadi produser Dua Lipa; Serta Mike Sabath, dan Marshmello yang memproduseri salah satu track.

Zara Larsson: Poster Girl Album Review

Untuk album ini Larsson masih setia pada musik pop, yang juga diadopsi di dua album sebelumnya. Hanya saja bila sebelumnya Larsson setia pada irama elektro pop dengan sentuhan EDM kental. Kali ini sang penyanyi justru singgah me dentuman disco pop yang sedikit banyak mengingatkan pada Dua; Tidak lain pula mengingat keterlibatan sang produser Kirpatrick.

Irama retro ala album terakhir The Weeknd pun masih ikut medominasi. Berpadu dengan sedikit hembusan nafas musik tahun 80an yang diangkat Lady Gaga dalam album terbarunya.

Disco pop track, “Love Me Land” menjadi pembuka “Poster Girl.” Lagu ini mengingatkan—sekaligus memiliki bekal—pada hits Larsson sebelumnya, “Never Forget You” dan “Lush Life.”

Lirik yang langsung menarasikan tentang cinta, “Never thought I would love again,” dendang Larsson, “Here I am, lost in Love Me Land,” seketika itu menyadarkan pendengar bahwa ini memang album pop. Dan memang, tema cinta, patah hati, dan menemukan cinta kembali jadi landasan nyaris di setiap track.

Young Thug digandeng sebagai kolaborator untuk track kedua sekaligus single promosi, “Talk About Love.” Track ini mengusung irama R&B yang cukup kuat ditambah kesan lebih mellow.

Lirik mengenai cinta—baik itu untuk diri sendiri dan pasangan menjadi garis merah pada nyaris setiap track. Dibumbui dengan ungkapan-ungkapan empowering yang cukup cliche seperti “I’m happy, I don’t need your love / I’m happy, but I want you” di “Need Someone.” Meski track dengan mid-tempo ini akan menjadi soundtrack cukup menyenangkan kala menyetir seorang diri di malam hari.

Bassline nan funky di “Need Someone” sedikit banyak menjadikan track ini mirip hits dari Tame Impala, “The Less I Know The Better.” Ditambah permainan instrumen piano yang mengantarkan lagu ini menjadi anthem lebih menggelegar.

Larsson juga menyinggung mengenai mereka yang lebih banyak memberi perhatian kepada layar melalui “Right Here.” Marsmallow menggarap track dengan suntikan EDM pop, “Wow.” Bass dan melodi elektro mengiringi vokal Larsson yang mengulang-ulang lirik “Make your jaw drop–drop” puluhan kali.

Tema cinta juga menjadi tema untuk title track. Kali ini, tentang cinta yang dimiliki Larsson pada ganja. Sang penyanyi menyanyikan lirik seperti “Holy smokes” dan “sweet organic healing” sebelum kembali tergelincir ke quote cliche berikutnya: “Someone call a lifeboat /Because I’m drowning in your vibe.”

Tidak ada yang salah dengan album pop serta lirik mengenai cinta. Walaupun overdone, cinta merupakan bread and butter bagi musik di genre ini. Sentuhan irama EDM hingga disco ala ABBA di track “Look What You’ve Done” pun masih lumayan menarik. Elektro beat di beberapa track menjadi satu unsur cemerlang lain di album ini.

Meski harus diakui menarik, Larsson tidak berhasil membawa sesuatu yang baru. Track demi track di album ini seolah rangkuman dari hits-hits yang merajai chart pada beberapa tahun terakhir. Tidak ada pula lirik memukau yang menjadi nilai tambah lain.

Larsson belum berhasil pula membuat vokalnya tampil lebih bersinar. Jauh dari kategori buruk, teknik vokalisasi hingga pelafalan lirik yang seakan bergumam membuat warna suara sang penyanyi kurang bisa ditangkap pendengar. Pada akhirnya “Poster Girl” menjadi salah satu album pop di antara rilisan-rilisan lain, tidak ada karakter maupun ciri khas yang berhasil ditonjolkan.

Click to comment

dua lipa brit awards 2021 dua lipa brit awards 2021

Dua Lipa Dominasi Panggung BRIT Awards 2021

Entertainment

Julia Michaels Julia Michaels

Julia Michaels: Not in Chronological Order Album Review

Music

The Armed The Armed

The Armed: ULTRAPOP Album Review

Music

Young Stoner Life Young Stoner Life

Young Stoner Life: Slime Language 2 Compilation Album Review

Music

Advertisement
Cultura Live Session
Connect