Connect with us
Tiger Stripes
Cr. Ghost GRRRL Pictures

Film

Tiger Stripes Review: Body Horror Pubertas Akibat Minim Edukasi

Aplikasi body horror, folklore, dan komedi dalam drama coming of age tidak biasa.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Tiger Stripes” adalah film drama coming of age Malaysia yang juga melibatkan kolaborasi beberapa negara termasuk Indonesia. Menjadi film debut dari sutradara Amanda Nell Eu, film ini telah tayang perdana di Cannes Film Festival 2023 dan memenangkan Critics’ Week Grand Prize dalam ajang bergengsi tersebut.

Dibintangi oleh Zafreen Zairizal sebagai Zaffan, ia adalah gadis ceria dan ekspresif. Namun kehidupan dan tubuhnya mulai mengalami perubahan ketika ia mendapatkan menstruasi pertamanya.

Film ini bisa dibilang serupa dengan konsep “Turning Red” yang menjadi metafora dari gadis yang mengalami menstruasi. Namun “Tiger Stripes” menjadi versi gore dan eksplisit dengan mengadaptasi siluman harimau dari perwujudan gadis yang mengalami akil balik sesuai dengan legenda Melayu. Film ini juga mengingatkan kita pada film coming of age tidak biasa lainnya dengan presentasi brutal seperti “Raw” dan “Bones and All”.

Body Horror dan Coming of Age

Secara harfiah, kita akan melihat Zaffan mengalami perubahan fisik yang bikin ngilu dan penampakan yang buruk rupa. Mulai dari ruam-ruam, kuku yang mengelupas, hingga bulu rambut yang rontok. Namun tertutup dengan sempurna karena Zaffan selalu menggunakan seragam sekolah Muslim yang serba tertutup. Ini menjadi presentasi hiberbola dari gadis yang mulai mengalami perubahan fisik dalam proses akil balik. Penggambaran dengan nuansa horor dalam “Tiger Stripes” menjadi simbol dari perasaan bingung, panik, dan ketakutan ketika seorang gadis mengalami perubahan fisik yang tidak ia pahami.

Hal tersebut karena dari awal menstruasi dalam lingkungan Zaffan yang konservatif dianggap sesuatu yang tidak suci. Bahkan disambung-sambungkan dengan folklore tentang setan dan siluman harimau yang bisa merasuki gadis yang sedang menstruasi. Ini akibat lingkungan yang menghindari edukasi seks dan lebih memilih untuk menjelaskan dengan takhayul. Kemudian meracuni pemahaman para gadis yang bisa berakibat pada ketakutan dan penolakan.

Dalam kisahnya, Zaffan akhirnya dikucilkan bahkan mengalami perundungan bersifat pelecehan seksual oleh mantan sahabatnya sendiri. “Tiger Stripes” berhasil menampilkan persepsi lingkungan dalam latarnya bahwa fenomena menstruasi adalah sesuatu yang jorok dan menakutkan. Cukup bikin frustrasi melihat kisah Zaffan dari sudut pandang orang yang memahami bahwa menstruasi tak lebih dari sekadar hal biologis, yang pasti dialami semua perempuan pada waktunya.

Visual B-Movie Namun Naskah Lebih dari Biasa

Sinematografi dan produksi bukan menjadi keunggulan utama dari “Tiger Stripes”. Di sisi lain memberikan sentuhan unik dan otentik yang tidak membuat penonton keberatan. Tampilannya selevel b-movie dengan efek visual sinetron di saluran televisi nasional. Sepertinya bahkan tidak ada usaha dari Nell Eu untuk menutupi kekurangan tersebut.

Namun pada akhirnya intisari yang tidak biasa saja membuat presentasi produksi demikian tidak perlu dikritisi terlalu dalam. Meskipun genrenya horor, “Tiger Stripes” juga memiliki elemen dark comedy dan satir. Membuat visual ala b-movie yang diaplikasikan bisa dimasukan dalam aspek tersebut.

Sebagai film bernuansa daerah yang ditayangakan di panggung internasional, Nell Eu tampak ingin memperlihatkan gambaran lingkungan pelosok Malaysia yang konservatif. Namun di tengah lingkungan yang konservatif pun, remaja gadis tetap ‘lah remaja gadis. Mereka tak sabar menggunakan pakaian dalam yang seksi, menyukai stiker, mengekspresikan diri melalui joget TikTok, dan memiliki dorongan nafsu di kala puber.

Pentingnya Edukasi Seks Demi Menghidari Horor

Buat yang sudah menonton “Are You There God? It’s Me, Margaret.”, kita bisa membandingkan bagaimana film tersebut mempresentasikan masa puber pada gadis remaja dengan lebih ceria dan penuh sambutan dibandingkan “Tiger Stripes”. Margaret tidak ingin jadi yang terakhir mendapatkan menstruasi di circle pertemanannya. Sebaliknya Zaffan tidak ingin jadi yang pertama.

Dalam kisah Margaret, menstruasi disambut dengan perhatian oleh ibu para gadis. Sementara Zaffan langsung disebut “sudah kotor” oleh ibunya ketika pertama kali dirinya ketakutan mengalami menstruasi. Belum lagi rundungan verbal yang diterima dari teman-teman sekolahnya.

Larangan beribadah yang tidak dielaborasi oleh guru untuk murid-murid lainya, membuat Zaffan disangkah muda “dihinggapi” setan karena tidak bisa sembayang ketika sedang menstruasi. Kemudian ditambah dongeng tentang siluman harimau yang harusnya bisa diganti dengan edukasi seks yang jelas dihindari oleh orang-orang dewasa dalam lingkungan Zaffan yang konservatif.

“Tiger Stripes” sendiri terinspirasi dari kisah masa remaja sang sutradara. Dimana ketakutan akan mesntruasi muncul pada para gadis karena minimnya edukasi seks. Akhirnya, dalam kisah Zaffan, ia berubah menjadi siluman harimau karena ia terlanjur termakan sugesti orang-orang disekitarnya bahwa ada yang salah pada dirinya hanya karena sedang melalui masa pubertas. Dimana dalam skenario ini tidak dianggap sebagai fenomena biologis namun sebagai sesuatu yang magis.

Buat yang penasaran dengan kebrutalan dan keunikan film coming of age yang unik ini, “Tiger Stripes” bisa di-streaming di Netflix.

Late Night with the Devil Late Night with the Devil

Late Night with the Devil Review: Mimpi Buruk Talk Show Tengah Malam

Film

In a Violent Nature Review In a Violent Nature Review

In a Violent Nature Review: Slasher Horror dari Sudut Pandangan Pembunuh

Film

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Connect