Connect with us
The Map of Tiny Perfect Things
Amazon Studios

Film

The Map of Tiny Perfect Things Review

Pentingnya meraih dan mensyukuri hal kecil dalam kehidupan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Ide cerita tentang time-loop ala “Groundhog Day” (1993) tampaknya sudah menjadi premis paten yang masih menginspirasi filmmaker hingga saat ini. Mulai dari film thriller “Happy Death Day” (2017) hingga film komedi romantis “Palm Springs” (2020).

Kali ini ada film romansa remaja terbaru dengan konsep cerita yang sama yaitu “The Map of Tiny Perfect Things” yang disutradarai oleh Ian Samuels. Naskah ditulis oleh Lev Grossman, diadaptasi dari cerita pendek yang Ia tulis sendiri dengan judul serupa.

The Map of Tiny Perfect Things

Amazon Studios

Mulai dari adegan pertama, kita akan melihat protagonis bernama Mark (Kyle Allen) yang tampaknya sudah menjalani hari yang sama berkali-kali dan sudah beradaptasi dengan baik. Ia tahu apa yang akan adik perempuannya kata, tahu apa saja kejadian yang akan Ia temui di jalan, hingga “memanipulasi” adegan menyelamatkan seorang gadis di kolam renang umum dengan harapan bisa menjalin hubungan lebih dekat. Namun setiap hari selalu berakhir sama saja dan tidak ada perkembangan. Hingga akhirnya Margaret (Kathryn Newton) muncul dan memberikan kisah baru dalam hari Mark yang tak pernah berhenti terulang.

Petualangan Dalam Lingkaran Waktu yang Bermakna dan Emosional

Ada banyak hal tentang kehidupan yang ternyata bisa kita sadari melalui film yang hanya berputar-putar di satu hari tanpa henti hingga akhir. Mungkin karena waktu semakin berjalan dengan cepat di dunia modern ini. Kesibukan tertentu juga kerap menyita waktu kita pada satu prioritas dan harus mengorbankan kesenangan lain yang mungkin saja bisa kita alami hari itu.

Melalui kisah Mark dan Margaret, kita akan melihat bagaimana dalam satu hari ada banyak hal kecil namun sempurna terjadi di sekitar mereka. Dimana mereka harus terjebak dalam lingkarang waktu tanpa henti untuk bisa menikmati semuanya.

Namun, sekalipun keduanya menikmati waktu yang mereka miliki, keduanya memiliki tujuan dan pandangan yang berbeda akan anomali waktu yang terjadi dalam kehidupan mereka. Mark berusaha untuk keluar dari lingkaran waktu, sementara Margaret merasa tetap berada di hari yang sama merupakan hal terbaik. Baik Mark maupun Margaret, pada akhirnya memiliki kisah personal yang bermakna dan emosional. Dari kisah mereka berdua, kita juga bisa menarik pesan moral atau sekedar catatan kecil tentang kehidupan untuk diingat dalam menjalani hidup yang semakin cepat sekarang.

The Map of Tiny Perfect Things

Amazon Studios

Romansa Remaja Antara Mark dan Margaret yang Tidak Terlalu Dramatis

Kebanyakan film romansa remaja zaman sekarang berusaha keras untuk menjadi manis dan romantis. Namun jatuhnya malah terlalu manis dan terlalu romantis, pada akhirnya malah bikin penonton eneg. Interaksi manis yang terjalin di antara Mark dan Margaret terasa natural, penuh petualangan, dan tidak mengeksploitasi kemesraan.

Film ini memiliki definisi tentang “romantisme” yang berbeda dan tidak ditunjukan secara gamblang. Mulai dari ‘dunia miliki kita berdua’, dua remaja yang terjebak dalam satu hari dan bisa melakukan banyak kekacauan tanpa konsekuensi, perbincangan tentang konsep waktu, petualangan mencari momen sempurna; semuanya romantis namun ditampilkan secara alami tanpa perlu berusaha keras menjadi romantis.

Mark hadir sebagai remaja yang menyukai seni, sementara Margaret memiliki cita-cita sebagai astronot. Keduanya memiliki interaksi yang cukup menyenangkan dan seru untuk disimak. Termasuk pandangan mereka yang berbeda tentang terjebak dalam lingkaran waktu. Pada akhirnya, cinta sudah menjadi bagian dari dalam kehidupan, dan ha tersebut menjadi bagian kecil dalam kisah ini, ada makna yang lebih besar hendak disampaikan melalui kisah Mark dan Margaret.

Plot Twist dan Babak Penutup yang Natural dan Melegakan

Pada babak pembuka, kita akan diberikan gambaran singkat tentang situasi dan cara kerja waktu di dunia Mark. Ketika kita berpikir plot hanya akan berkutat di timeline tersebut, akan muncul hal baru yang membawa kita menuju babak kedua; petualangan Mark dan Margaret. Waktu juga tidak banyak berubah ketika mereka telah bersama, ada beberapa poin tertentu yang hadir sebagai misteri dan terus berulang. Bukannya membosankan, kita justru akan dibuat penasaran. Sebelum disadari, semua hal yang kita ketahui dan berbagai asumsi yang muncul dalam pikiran kita akan diputar balik dengan fakta yang mengubah cara pandang kita akan film ini.

Transisi yang dihadirkan juga cukup mulus, menuju babak baru dengan mood yang baru. Hingga pada akhirnya menuju babak pengungkapan yang sederhana namun bermakna bagi Mark dan Margaret.

Secara keseluruhan, “The Map of Tiny Perfect Things” merupakan film drama remaja yang tidak terlalu mengeksploitasi romantisme; film ini sudah romantis tanpa berusaha dengan keras. Cinta merupakan bagian dalam kehidupan, “obat” bagi hati yang luka, kekuatan untuk melanjutkan kehidupan. Film ini bisa menjadi tontonan santai yang menghibur, tidak menguras hati, dan menimbulkan kesadaran dalam menjalani kehidupan.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect